IHSG Terkoreksi dan Kembali Bandingkan Era COVID

Forex & Saham Gilang Nabaris 25 Mei 2026 09:30 WIB 5
IHSG Terkoreksi dan Kembali Bandingkan Era COVID

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, pagi. Berdasarkan data RTI pada pukul 09.05 WIB, IHSG berada di level 6.047 atau melemah 47 poin setara 0,78 persen. Pelemahan itu membuat pelaku pasar kembali membandingkan kondisi saat ini dengan fase pasar yang tertekan pada masa pandemi COVID-19.

IHSG dibuka di level 6.065, lalu sempat turun hingga menyentuh area 5.966 sebelum bergerak ke titik tertinggi 6.074. Transaksi pagi ini mencapai Rp1,67 triliun dengan volume 3,60 miliar saham dalam 178.693 kali transaksi. Dari total saham yang diperdagangkan, 129 saham menguat, 418 saham melemah, dan 155 saham stagnan.

IHSG Tertekan di Awal Sesi

Pergerakan IHSG pada awal perdagangan menunjukkan tekanan jual masih dominan di pasar. Koreksi yang terjadi cukup cepat setelah pembukaan membuat indeks kehilangan sebagian momentum kenaikan. Kondisi ini menandakan investor masih cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi.

Rentang pergerakan yang lebar memperlihatkan pasar sedang mencari arah yang lebih jelas. Saat indeks sempat menyentuh level terendah, sentimen negatif terlihat lebih kuat dibandingkan minat beli. Hal tersebut menambah kekhawatiran bahwa volatilitas masih akan berlanjut sepanjang sesi perdagangan.

Meski demikian, aktivitas transaksi yang tinggi menunjukkan minat pelaku pasar belum hilang sepenuhnya. Sebagian investor tampak memanfaatkan pelemahan untuk melakukan akumulasi bertahap. Namun, dominasi saham yang melemah tetap menjadi sinyal bahwa tekanan belum mereda.

Perbandingan dengan Era COVID

Tekanan pada IHSG memunculkan kembali ingatan terhadap periode awal pandemi COVID-19. Saat kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020, pasar modal Indonesia langsung merespons negatif. Pada hari itu, IHSG ditutup turun 91 poin atau 1,67 persen ke level 5.361.

Penurunan berlanjut seiring bertambahnya kasus dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi. Pada perdagangan 9 Maret 2020, IHSG bahkan ditutup anjlok 6,5 persen ke level 5.136. Kondisi tersebut menjadi salah satu penurunan harian yang jarang terjadi di pasar saham domestik.

Karena tekanan kala itu semakin besar, regulator pasar modal mengambil langkah pengamanan. Bursa Efek Indonesia sempat menerapkan kebijakan penghentian perdagangan atau trading halt pada 10 Maret 2020. Kebijakan ini ditempuh untuk meredam gejolak yang berpotensi semakin dalam.

Aktivitas Transaksi Masih Tinggi

Di tengah pelemahan indeks, nilai transaksi pagi ini tetap menunjukkan pasar masih aktif. Total transaksi mencapai Rp1,67 triliun, angka yang mencerminkan likuiditas belum mengering. Kondisi ini menandakan pelaku pasar masih banyak yang merespons pergerakan harga secara cepat.

Volume saham yang berpindah tangan mencapai 3,60 miliar lembar dalam waktu singkat. Frekuensi transaksi yang tercatat sebanyak 178.693 kali memperlihatkan pasar bergerak dinamis. Aktivitas tersebut umumnya terjadi saat investor merespons sentimen global maupun domestik secara bersamaan.

Jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat. Perbandingan itu memberi gambaran bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar. Dalam situasi seperti ini, investor biasanya menunggu sinyal yang lebih kuat sebelum kembali agresif.

Sentimen Pasar Masih Rapuh

Secara harian, IHSG belum mampu keluar dari tekanan yang terbentuk sejak awal perdagangan. Secara bulanan, indeks juga tercatat melemah 20,01 persen. Dalam tiga bulan terakhir, pelemahannya mencapai 25,38 persen, sedangkan sepanjang 2026 turun 30,07 persen.

Rangkaian koreksi tersebut menunjukkan pasar saham masih dibayangi sentimen yang rapuh. Pergerakan indeks yang terus melemah mengindikasikan investor belum menemukan katalis kuat untuk mendorong pembalikan arah. Situasi ini juga membuat ekspektasi terhadap pemulihan pasar menjadi lebih berhati-hati.

Di sisi lain, perbandingan dengan periode COVID-19 mempertegas bahwa pasar sangat sensitif terhadap ketidakpastian. Meski kondisi saat ini berbeda, respons investor tetap menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Pelaku pasar kini menanti sinyal yang lebih stabil agar IHSG dapat kembali bergerak positif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!