IHSG Tergerus Menjelang Hasil Rebalancing MSCI

Forex & Saham Kevin S. Pratama 13 Mei 2026 11:01 WIB 8
IHSG Tergerus Menjelang Hasil Rebalancing MSCI

IHSG ditutup turun 0,68% di level 6.868,89. Koreksi sempat mendekati 2% ke 6.762,87. Berdasarkan data RTI Business, volume perdagangan hari ini mencapai 32,87 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp 16,11 triliun.

Saat penutupan, frekuensi perdagangan tercatat 2.535.099 kali. Sebanyak 463 saham melemah, 207 menguat, dan 151 stagnan. Kondisi pasar menunjukkan tekanan luas meski beberapa saham penopang mencoba bertahan di akhir sesi.

Saham-saham penopang IHSG juga terkoreksi pada hari ini sejalan dengan sentimen pasar menjelang rilis MSCI. Beberapa saham bagian besar sektor unggulan didorong ke zona merah di penutupan, menambah tekanan pada indeks. Investor menantikan kepastian hasil rebalancing MSCI untuk arah perdagangan berikutnya.

ANTM turun 3,51% menjadi Rp3.570. KAEF turun 14,69% menjadi Rp610. CUAN turun 8,25% dan UNSP turun 8,62% menjadi Rp945 dan Rp318.

Saham penopang IHSG lain relatif volatil meski beberapa emiten masih bertahan di zona hijau. Pergerakan sektor BUMN dan sumber daya alam menambah dinamika perdagangan. Investor perlu memperhatikan pergerakan harga di sektor-sektor utama sebelum rilis MSCI.

MSCI diperkirakan tidak menambah konstituen Indonesia untuk indeksnya pada pengumuman tersebut. Namun MSCI berpotensi menurunkan bobot beberapa saham RI yang masuk kategori High Shareholding Concentration. Langkah ini mempengaruhi alokasi asing terhadap indeks MSCI di pasar utama Indonesia.

Dua saham RI masuk kategori HSC yakni DSSA dan BREN disebut berisiko terkena perubahan bobot. Penurunan bobot diperkirakan menurunkan porsi investasi asing di saham RI dalam indeks MSCI. Analisis pasar menilai efek jangka pendek terhadap likuiditas saham unggulan di bursa domestik.

Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa weighting Indonesia bisa turun jika MSCI tidak menambah konstituen. Jika tidak ada saham baru yang masuk, potensi penurunan bobot dapat terjadi pada indeks MSCI. Kebijakan ini dikhawatirkan dapat menekan arus modal asing terhadap saham-saham berkapitalisasi besar di Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!