IHSG melanjutkan pelemahan tajam hingga menembus level 6.300-an pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, seiring tekanan jual yang masih dominan di pasar saham. Indeks terkoreksi 3,46 persen ke level 6.370,67, setelah dalam sepekan terakhir turun 8,59 persen dan sepanjang tahun ini melemah 26,32 persen.
Tekanan tersebut dipicu aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp41,28 triliun secara year to date, menurut data perdagangan RTI Business. Pelemahan IHSG juga diperberat oleh koreksi sejumlah saham konglomerat yang terseret hingga menyentuh auto reject bawah.
IHSG Tertekan Aksi Jual Asing
Pergerakan IHSG pada pekan ini menunjukkan tekanan yang belum mereda, setelah indeks sempat melemah 2,86 persen pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, ke level 6.969,39. Sejak saat itu, arah pasar bergerak menurun seiring minimnya sentimen positif yang mampu mengimbangi tekanan jual.
Data perdagangan RTI Business mencatat, koreksi IHSG pada Selasa kemarin mempertegas lemahnya minat beli investor. Kondisi ini membuat indeks kembali berada di level yang lebih rendah dan memicu kekhawatiran pasar terhadap prospek jangka pendek.
Secara year to date, pelemahan 26,32 persen menempatkan IHSG dalam fase koreksi yang dalam. Pelaku pasar menilai penurunan ini tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar di dalam negeri.
Saham Konglomerat Ikut Menekan
Sejumlah saham milik konglomerat tercatat menjadi pemberat utama IHSG dalam perdagangan terakhir. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) milik Prajogo Pangestu turun 14,75 persen ke Rp3.120 per saham, sedangkan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melemah 13,33 persen ke Rp650 per saham.
Tekanan juga dialami PT Petrosea Tbk (PTRO) yang anjlok 10,93 persen ke Rp4.320 per saham. Dari Grup Sinar Mas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun 14,77 persen ke Rp750 per saham, sementara PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) melemah hingga 14,97 persen ke Rp1.590 per saham.
Koreksi serentak pada saham-saham tersebut menunjukkan sentimen negatif masih terkonsentrasi pada emiten tertentu. Situasi ini membuat pelemahan IHSG menjadi lebih dalam karena bobot saham-saham besar di indeks masih sangat dominan.
Pasar Menanti Kebijakan BI
Selain tekanan dari saham-saham konglomerat, investor juga mencermati dua sentimen utama yang membebani pasar. Sentimen itu adalah pidato Presiden Prabowo Subianto dan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait penetapan suku bunga.
Phintraco Sekuritas menilai pasar menunggu pidato Prabowo dalam Rapat Paripurna DPR yang dijadwalkan pada Rabu, 20 Mei 2026. Dalam kesempatan tersebut, Presiden akan menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal untuk RAPBN Tahun Anggaran 2027.
Di hari yang sama, Bank Indonesia juga akan mengumumkan hasil RDG yang sangat dinantikan pelaku pasar. Konsensus memperkirakan BI akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen untuk meredam pelemahan rupiah.
Faktor Eksternal Tambah Kekhawatiran
Phintraco Sekuritas menilai pelemahan IHSG juga dipengaruhi oleh wacana pemerintah untuk mengatur ekspor komoditas dalam satu badan khusus negara. Wacana itu menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan industri dan perdagangan komoditas strategis.
Adapun komoditas yang disebut dalam pembahasan tersebut meliputi batu bara, crude palm oil atau CPO, hingga mineral logam. Investor khawatir kebijakan baru berpotensi memengaruhi harga jual dan menekan marjin laba perusahaan eksportir.
Dalam kondisi seperti ini, pasar cenderung bersikap hati-hati menunggu kepastian kebijakan dan arah suku bunga. Sentimen yang belum solid membuat IHSG masih rentan bergerak volatil dalam beberapa perdagangan ke depan.
Dasco yang hadir di Bursa Efek Indonesia bersama jajaran OJK dan Danantara menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan investor. Ia menyebut pertumbuhan investor ritel masih terus berjalan dan fundamental pasar modal Indonesia dinilai tetap kuat.
Menurut Dasco, paparan dari Danantara juga menyoroti regulasi yang dapat memberi rasa aman kepada investor lokal. Ia menilai upaya tersebut penting agar pasar modal tetap menarik di tengah tekanan yang sedang terjadi.
Dengan kombinasi aksi jual asing, koreksi saham konglomerat, dan penantian sejumlah keputusan penting, IHSG masih berada dalam tekanan. Pelaku pasar kini menunggu sinyal kebijakan yang dapat mengembalikan kepercayaan dan memperbaiki sentimen investasi.
