Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah 3,46 persen ke level 6.370,68 pada perdagangan Selasa, 19 Mei, di tengah tekanan mayoritas sektor dan sentimen global yang kembali negatif. Meski pasar terkoreksi dalam, investor asing masih mencatatkan beli bersih ratusan miliar rupiah, sementara pelaku pasar menunggu arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.
Di sisi emiten, sejumlah aksi korporasi menjadi sorotan, mulai dari rencana pembelian kembali saham oleh Delta Dunia Makmur Tbk dan Estika Tata Tiara Tbk, hingga kinerja kuartal I-2026 ABM Investama Tbk yang tertekan biaya energi. Pergerakan saham juga menunjukkan kontras, karena beberapa emiten masih mampu menguat di tengah aksi jual pada saham berkapitalisasi besar.
Tekanan IHSG Masih Berat
IHSG berada dalam tekanan sepanjang perdagangan dan akhirnya ditutup di zona merah. Pelemahan terbesar datang dari sektor basic industry yang terkoreksi 7,30 persen. Satu-satunya sektor yang bertahan di area hijau adalah kesehatan, dengan kenaikan 0,55 persen.
Sentimen eksternal ikut memperburuk kondisi pasar domestik. Bursa Amerika Serikat kompak ditutup melemah, sehingga menambah kehati-hatian investor. Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq sama-sama bergerak turun pada akhir perdagangan sebelumnya.
Di tengah pelemahan indeks, aliran dana asing masih menunjukkan minat beli. Investor asing mencatatkan beli bersih sekitar Rp306,34 miliar di pasar reguler. Di seluruh pasar, nilai beli bersih asing mencapai Rp260,12 miliar.
Emiten Lakukan Buyback
Delta Dunia Makmur Tbk atau DOID mengumumkan rencana pembelian kembali saham dengan nilai maksimal US$6 juta. Dana buyback akan berasal dari kas internal perseroan. Perseroan menargetkan pembelian hingga 320,77 juta saham atau setara 4,36 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Pelaksanaan buyback akan dilakukan bertahap setelah mendapat persetujuan pemegang saham dalam RUPS pada 24 Juni 2026. Masa pelaksanaannya dibatasi maksimal 12 bulan dan berakhir pada Juni 2027. Setelah aksi tersebut, jumlah saham beredar DOID diproyeksikan turun menjadi 7,03 miliar lembar.
Estika Tata Tiara Tbk atau BEEF juga menyiapkan buyback saham dengan nilai maksimal Rp100 miliar. Perseroan menargetkan pembelian kembali sekitar 333,33 juta saham atau setara 4,10 persen dari total saham beredar. Proses pembelian akan dilakukan melalui BCA Sekuritas mulai 19 Mei 2026 hingga 18 Mei 2027.
Kinerja ABM Terkoreksi
ABM Investama Tbk atau ABMM membukukan laba bersih kuartal I-2026 sebesar US$14,88 juta. Capaian tersebut turun 30,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan juga menyusut menjadi US$222,65 juta dari US$250,02 juta.
Manajemen menyebut lonjakan harga bahan bakar minyak menjadi salah satu faktor yang menekan kinerja operasional. Kenaikan itu dipicu konflik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia. Pada kuartal I-2026, harga minyak tercatat berada di US$101,38 per barel.
Meski begitu, ABMM masih menyiapkan sejumlah katalis bisnis untuk menopang pertumbuhan berikutnya. Perseroan fokus menyelesaikan perizinan proyek PT Piranti Jaya Utama di Kalimantan Tengah. Selain itu, tambang batu bara PT Nirmala Coal Nusantara di Aceh diharapkan mulai memberi tambahan pendapatan.
Pasar Tunggu Suku Bunga
Pelaku pasar kini menaruh perhatian pada keputusan suku bunga Bank Indonesia untuk Mei 2026. Konsensus memperkirakan BI Rate naik menjadi 5,00 persen dari sebelumnya 4,75 persen. Ekspektasi itu muncul di tengah tekanan terhadap rupiah yang bergerak di kisaran Rp17.705 per dolar AS.
Di tengah ketidakpastian tersebut, sejumlah saham tetap masuk radar perdagangan harian. Saham SRAJ, AMRT, dan BRIS tercatat membukukan penguatan pada akhir sesi. Sebaliknya, DSSA, MORA, dan BBCA justru mengalami tekanan jual.
Sejumlah rekomendasi saham juga muncul untuk menjadi perhatian investor. TLKM, ASPR, MYOR, SMIL, dan AMRT disebut memiliki area beli, target harga, serta batas cut loss yang berbeda. Namun, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing investor.
