IHSG Melemah di Tengah Tekanan Saham Komoditas dan Emiten

Forex & Saham Kevin S. Pratama 27 Mei 2026 13:25 WIB 2
IHSG Melemah di Tengah Tekanan Saham Komoditas dan Emiten

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah 0,82 persen ke level 6.318,50 pada perdagangan Rabu, 20 Mei. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan pada mayoritas sektor, terutama basic industry yang terkoreksi paling dalam. Di sisi lain, sektor keuangan justru menjadi penopang utama pasar dengan kenaikan 1,21 persen. Sentimen global, arus dana asing, dan kabar kebijakan pemerintah turut mewarnai pergerakan indeks.

Sejumlah saham bergerak agresif, baik di sisi penguatan maupun pelemahan, sehingga membuat pasar bergerak selektif. Mora Telematika Indonesia, Sinarmas Multiartha, dan Bank Mandiri masuk jajaran saham yang menguat, sedangkan Chandra Asri Pacific, Barito Pacific, dan Barito Renewables Energy menjadi pemberat utama. Investor asing juga masih aktif bertransaksi, meski mencatat jual bersih di pasar reguler. Pelaku pasar kini menunggu notulen rapat Federal Open Market Committee serta data neraca berjalan Indonesia kuartal I-2026.

Tekanan IHSG dan Sektor

IHSG terkoreksi setelah tekanan meluas ke sebagian besar sektor, terutama kelompok basic industry. Sektor tersebut menjadi yang paling dalam pelemahannya dengan penurunan 4,67 persen. Kondisi ini menunjukkan minat beli investor masih selektif di tengah ketidakpastian sentimen. Saham-saham berbasis komoditas ikut terseret oleh tekanan tersebut.

Berbeda dengan sektor lain, keuangan justru menjadi penopang pasar pada perdagangan itu. Sektor ini mencatat kenaikan 1,21 persen dan membantu meredam pelemahan indeks lebih lanjut. Bank Mandiri menjadi salah satu emiten yang ikut menguat di tengah koreksi pasar. Kinerja sektor perbankan dinilai masih menarik perhatian investor jangka pendek.

Penguatan juga terlihat pada Mora Telematika Indonesia dan Sinarmas Multiartha. MORA melesat 19,75 persen, sementara SMMA naik 8,49 persen. Pergerakan keduanya menunjukkan minat pasar terhadap saham tertentu masih cukup tinggi. Namun, kenaikan tersebut belum mampu menahan laju pelemahan IHSG secara keseluruhan.

Arus Asing dan Sentimen

Investor asing tercatat melakukan jual bersih Rp130,88 miliar di pasar reguler. Meski demikian, secara keseluruhan pasar asing masih membukukan beli bersih Rp249,17 miliar. Data ini menunjukkan aktivitas asing masih terjadi di tengah volatilitas pasar. Arus dana tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar.

Sentimen domestik juga dipengaruhi rencana pemerintah membentuk BUMN ekspor. Kebijakan itu dirancang untuk sentralisasi ekspor CPO dan batu bara. Pasar menilai langkah tersebut berpotensi memberi tekanan pada saham berbasis komoditas. Investor kemudian cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi pada sektor terkait.

Dari luar negeri, pasar menantikan notulen rapat Federal Open Market Committee atau FOMC The Fed. Di saat yang sama, perhatian juga tertuju pada data neraca berjalan Indonesia kuartal I-2026. Konsensus memperkirakan defisit mencapai US$4,50 miliar. Kombinasi sentimen global dan domestik ini memperkuat sikap waspada pelaku pasar.

Kinerja Emiten Terbaru

Indika Energy Tbk mencatat laba bersih US$13,59 juta pada kuartal I-2026. Angka tersebut meningkat 33,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan naik tipis menjadi US$493,21 juta dari US$489,59 juta. Kenaikan laba ditopang oleh pendapatan investasi yang tumbuh signifikan.

Perseroan juga membukukan pendapatan investasi sebesar US$5,47 juta, naik 73,51 persen. Peningkatan itu didorong investasi pada Nanshan Aluminium International Holdings Ltd yang mencapai US$20,04 juta. Di sisi lain, total beban perusahaan turun 1,57 persen menjadi US$419,18 juta. Penurunan beban pokok terjadi seiring kenaikan persediaan batu bara pada kuartal berjalan.

Cisadane Sawit Raya Tbk menargetkan volume pengolahan tandan buah segar sebesar 700 ribu ton tahun ini. Target tersebut naik dari realisasi tahun lalu yang sebesar 500 ribu ton. Hingga kuartal I-2026, produksi TBS perseroan telah mencapai 18 persen dari target tahunan. Perseroan juga menyiapkan belanja modal Rp100 miliar untuk replanting dan penambahan landbank.

Buyback dan Strategi

Bangun Kosambi Sukses Tbk menyiapkan dana maksimal Rp250 miliar untuk buyback saham. Dana tersebut akan berasal dari kas internal perseroan. Posisi kas perusahaan pada kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp2,75 triliun. Aksi pembelian kembali saham itu dinilai masih sangat ditopang oleh likuiditas yang memadai.

Perseroan menyampaikan buyback akan dilakukan pada periode 20 Mei hingga 19 Agustus 2026. Pelaksanaannya akan menggunakan jasa Ina Sekuritas Indonesia. Jumlah saham yang dibeli kembali tetap mengikuti ketentuan POJK terkait saham treasuri. Kebijakan ini menjadi salah satu aksi korporasi yang dicermati investor.

Di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi, sejumlah rekomendasi saham juga menjadi perhatian pelaku pasar. Beberapa nama yang masuk daftar antara lain PTBA, ASII, MYOR, OASA, dan KETR. Meski demikian, rekomendasi tersebut tetap bersifat informatif dan bukan ajakan transaksi. Investor disarankan menyesuaikan keputusan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!