IHSG Melemah 4% ke 6.300-an, Pasar Masih Tertekan

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 24 Mei 2026 08:34 WIB 6
IHSG Melemah 4% ke 6.300-an, Pasar Masih Tertekan

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali tertekan pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, dan bergerak ke level 6.370,67. Pelemahan ini terjadi di tengah aksi jual bersih investor asing, koreksi saham-saham konglomerat, serta penantian pasar terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto dan keputusan suku bunga Bank Indonesia.

Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG sudah turun 3,46 persen pada sesi tersebut dan melemah hampir 4 persen ke area 6.300-an. Dalam lima hari perdagangan terakhir, indeks terkoreksi 8,59 persen, sementara secara year to date pelemahannya mencapai 26,32 persen.

Tekanan IHSG Makin Dalam

Tekanan terhadap IHSG berawal dari pelemahan pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, ketika indeks turun 2,86 persen ke level 6.969,39. Sejak saat itu, arah pergerakan pasar cenderung negatif dan belum menunjukkan pemulihan yang berarti. Kondisi ini memperlihatkan bahwa sentimen jual masih mendominasi bursa domestik.

Pada penutupan perdagangan Selasa, indeks memangkas posisi hingga 6.370,67, yang menandai penurunan tajam dalam waktu singkat. Jika dilihat secara mingguan, koreksi yang terjadi menunjukkan tekanan yang cukup luas pada saham-saham berkapitalisasi besar. Investor pun cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi baru.

Selain faktor teknikal, pelemahan juga diperkuat oleh sentimen eksternal dan domestik yang belum sepenuhnya mendukung. Arus dana asing yang keluar membuat pasar kehilangan penopang tambahan dari sisi likuiditas. Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar biasanya lebih memilih menunggu kepastian arah kebijakan.

Saham Konglomerat Ikut Melemah

Sejumlah saham milik konglomerat menjadi pemberat utama pergerakan IHSG pada hari tersebut. PT Chandra Asri Pacific Tbk, milik Prajogo Pangestu, turun 14,75 persen ke harga Rp3.120 per saham. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk dan PT Petrosea Tbk juga terkoreksi masing-masing 13,33 persen dan 10,93 persen.

Tekanan serupa terjadi pada PT Dian Swastatika Sentosa Tbk milik Grup Sinar Mas, yang melemah 14,77 persen ke Rp750 per saham. Sementara itu, PT Triputra Agro Persada Tbk turun hingga 14,97 persen ke Rp1.590 per saham. Pergerakan ini menambah beban indeks karena saham-saham tersebut memiliki bobot dan perhatian pasar yang besar.

Koreksi dalam hingga menyentuh auto reject bawah menunjukkan bahwa tekanan jual berlangsung agresif sejak awal sesi. Kondisi itu membuat minat beli tidak cukup kuat untuk menahan penurunan harga. Di sisi lain, pelemahan saham unggulan tersebut ikut memperburuk sentimen investor terhadap pasar saham secara keseluruhan.

Arus Asing Masih Keluar

Pelemahan IHSG juga sejalan dengan net foreign sell yang masih besar sepanjang tahun berjalan. Berdasarkan catatan hingga Senin, 18 Mei 2026, investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp41,28 triliun secara year to date. Angka tersebut menandakan bahwa dana global belum kembali masuk secara agresif ke pasar saham Indonesia.

Arus keluar asing biasanya memengaruhi psikologi pasar karena menekan likuiditas dan menambah volatilitas. Ketika investor institusi memilih mengurangi eksposur, pelaku pasar lokal cenderung ikut menyesuaikan strategi. Akibatnya, tekanan pada indeks menjadi semakin sulit dihindari.

Dalam jangka pendek, pasar masih akan sensitif terhadap perubahan aliran dana asing. Jika kondisi global belum stabil, minat terhadap aset berisiko berpotensi tetap tertahan. Hal itu membuat IHSG membutuhkan katalis yang lebih kuat untuk kembali ke jalur penguatan.

Pasar Tunggu Kebijakan

Pelaku pasar kini menantikan pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 20 Mei 2026. Pidato tersebut akan memuat Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal untuk RAPBN Tahun Anggaran 2027. Pasar menilai arah kebijakan fiskal menjadi penting bagi prospek pertumbuhan ekonomi dan laba emiten.

Selain itu, investor juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diumumkan pada hari yang sama. Konsensus pasar memperkirakan BI akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen untuk meredam pelemahan rupiah. Ekspektasi tersebut membuat pelaku pasar bersikap defensif sebelum ada kepastian resmi.

Tekanan lain datang dari wacana pemerintah yang ingin mengatur ekspor komoditas dalam satu badan khusus negara. Kebijakan itu dikhawatirkan memengaruhi batu bara, CPO, hingga mineral logam, yang selama ini menjadi andalan ekspor. Investor menilai pengaturan tersebut berpotensi menekan marjin laba perusahaan jika harga jual ikut terkendali.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!