IHSG Melemah 3,46 Persen, Emiten Ini Jadi Sorotan

Forex & Saham Kevin S. Pratama 24 Mei 2026 06:17 WIB 6
IHSG Melemah 3,46 Persen, Emiten Ini Jadi Sorotan

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah 3,46 persen ke level 6.370,68 pada perdagangan Selasa, 19 Mei, di tengah tekanan mayoritas sektor dan sentimen global yang kembali melemah. Meski pasar terkoreksi tajam, investor asing masih mencatat beli bersih ratusan miliar rupiah di pasar reguler maupun seluruh pasar.

Sejumlah saham tetap bergerak berlawanan arah dengan pasar, dipimpin penguatan SRAJ, AMRT, dan BRIS, sementara DSSA, MORA, serta BBCA menjadi pemberat utama. Pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan Bank Indonesia, seiring ekspektasi kenaikan BI Rate dan tekanan rupiah di kisaran Rp17.705 per dolar AS.

Tekanan IHSG Masih Berat

IHSG terkoreksi cukup dalam seiring pelemahan bursa Amerika Serikat yang menambah tekanan pada sentimen risk off. Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq sama-sama ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya.

Di dalam negeri, pelemahan terjadi hampir di seluruh sektor, sehingga laju indeks sulit bertahan di zona hijau. Sektor kesehatan menjadi satu-satunya penopang dengan kenaikan tipis 0,55 persen.

Di sisi lain, sektor basic industry mencatat koreksi terdalam hingga 7,30 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual masih dominan di saham-saham siklikal.

Meski demikian, arus dana asing tetap masuk ke pasar domestik dan menjadi penahan pelemahan yang lebih dalam. Beli bersih asing tercatat sekitar Rp306,34 miliar di pasar reguler dan Rp260,12 miliar di seluruh pasar.

Buyback Saham Jadi Sorotan

Delta Dunia Makmur Tbk atau DOID mengumumkan rencana buyback saham dengan nilai maksimal US$6 juta atau sekitar Rp104,25 miliar. Dana pembelian kembali saham itu akan bersumber dari kas internal perseroan.

Perseroan menargetkan pembelian hingga 320,77 juta saham, atau setara 4,36 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Hingga akhir Desember 2025, kas DOID tercatat sebesar US$210,26 juta.

Pelaksanaan buyback akan dilakukan bertahap setelah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPS pada 24 Juni 2026. Prosesnya dapat berlangsung maksimal 12 bulan dengan batas akhir pada Juni 2027.

Estika Tata Tiara Tbk atau BEEF juga menyiapkan aksi serupa dengan nilai maksimal Rp100 miliar. Perseroan menargetkan pembelian kembali sekitar 333,33 juta saham melalui BCA Sekuritas, mulai 19 Mei 2026 hingga 18 Mei 2027.

Kinerja Saham ABMM Tertekan

ABM Investama Tbk atau ABMM membukukan laba bersih kuartal I-2026 sebesar US$14,88 juta, turun 30,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perseroan juga menurun menjadi US$222,65 juta dari sebelumnya US$250,02 juta.

Manajemen menyebut lonjakan harga bahan bakar minyak akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang menekan kinerja operasional. Harga minyak pada kuartal I-2026 tercatat US$101,38 per barel, jauh di atas posisi akhir 2025 sebesar US$57,42 per barel.

Tekanan biaya energi membuat margin perusahaan ikut tergerus di tengah aktivitas operasional yang masih berjalan. Kondisi ini menunjukkan sensitivitas emiten berbasis energi terhadap pergerakan harga minyak dunia.

Meski begitu, ABMM tetap menyiapkan langkah ekspansi dengan menyelesaikan perizinan proyek PT Piranti Jaya Utama di Kalimantan Tengah. Tambahan pendapatan juga diharapkan datang dari tambang PT Nirmala Coal Nusantara di Aceh setelah penjualan perdana pada Februari lalu.

Strategi Saham Menjelang Rilis Kebijakan

Pelaku pasar kini memusatkan perhatian pada keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diperkirakan naik menjadi 5,00 persen. Konsensus tersebut muncul di tengah tekanan rupiah dan ekspektasi respons kebijakan yang lebih ketat.

Di tengah ketidakpastian itu, sejumlah rekomendasi saham teknikal masih menjadi acuan investor jangka pendek. Saham TLKM, ASPR, MYOR, SMIL, dan AMRT masuk daftar pantauan dengan level beli, target profit, dan batas rugi yang telah disusun analis.

Rekomendasi tersebut disampaikan sebagai informasi, bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Investor tetap perlu menyesuaikan keputusan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.

Pergerakan pasar ke depan akan sangat bergantung pada respons investor terhadap kebijakan moneter dan arah sentimen global. Dalam kondisi seperti ini, disiplin terhadap strategi dan manajemen risiko menjadi kunci utama.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!