Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada penutupan sesi I perdagangan, Kamis (21/5), dan menutup perdagangan paruh hari di level 6.144,35. Berdasarkan data RTI Business, indeks turun 2,76 persen setelah sempat bergerak menguat pada awal sesi hingga level 6.378,81.
Tekanan jual membuat mayoritas saham berada di zona merah, sementara sejumlah emiten bahkan tercatat menyentuh auto reject bawah. Hingga sesi I, aktivitas transaksi terbilang ramai dengan volume 19,91 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp 9,78 triliun.
IHSG Tertekan Aksi Jual
Pergerakan IHSG pada sesi I menunjukkan perubahan arah yang cukup drastis. Setelah dibuka menguat, indeks justru berbalik melemah dan kehilangan ratusan poin dalam waktu perdagangan yang singkat.
Penutupan di level 6.144,35 menandai pelemahan yang cukup dalam bagi pasar saham domestik. Kondisi ini mengindikasikan investor cenderung melakukan aksi ambil untung di tengah sentimen yang belum stabil.
Data perdagangan menunjukkan tekanan tersebut tidak terjadi sesaat, melainkan bertahan sepanjang sesi. Hal itu terlihat dari dominasi saham yang melemah dibandingkan saham yang menguat.
Dalam konteks tahun berjalan, IHSG juga masih berada dalam tren pelemahan. Sepanjang tahun ini, indeks saham Garuda tercatat terkoreksi 28,94 persen.
Transaksi Masih Cukup Ramai
Meskipun IHSG melemah, aktivitas perdagangan di bursa tetap berlangsung aktif. Hingga sesi I, volume transaksi mencapai 19,91 miliar saham dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1.285.918 kali.
Nilai transaksi yang dibukukan juga tergolong besar, yakni Rp 9,78 triliun. Angka ini menunjukkan minat pelaku pasar tetap tinggi meski arah indeks cenderung negatif.
Besarnya nilai transaksi biasanya mencerminkan respons cepat investor terhadap perubahan harga. Dalam kondisi seperti ini, volatilitas pasar menjadi lebih mudah meningkat karena pergerakan jual dan beli berlangsung agresif.
Secara keseluruhan, 118 saham menguat, 601 saham melemah, dan 94 saham stagnan. Komposisi tersebut memperlihatkan tekanan jual masih mendominasi perdagangan sesi pertama.
Saham Jatuh ke ARB
Sejumlah saham tercatat mengalami penurunan hingga menyentuh auto reject bawah atau ARB. Kondisi ini menandakan harga saham turun hingga batas terendah yang diizinkan dalam satu sesi perdagangan.
PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) menjadi salah satu saham yang terkoreksi paling dalam. Saham tersebut turun 14,95 persen ke harga Rp165 per saham.
Selain itu, PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) melemah 14,72 persen ke posisi Rp695 per saham. Saham milik Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), juga turun 14,65 persen ke level Rp2.270 per saham.
Tekanan serupa dialami PT Bumi Resources Minerals Tbk (BMRS) yang melemah 14,39 persen ke harga Rp565 per saham. Sementara itu, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) terkoreksi 13,50 persen ke level Rp705 per saham.
Sentimen Pasar Masih Rapuh
Pergerakan IHSG pada sesi ini menunjukkan sentimen pasar masih rapuh. Walau sempat bergerak positif di awal perdagangan, tekanan jual membuat indeks kembali kehilangan momentum.
Kondisi semacam ini kerap dipengaruhi respons investor terhadap berita korporasi, pergerakan saham berkapitalisasi besar, dan sentimen global. Ketika tekanan datang bersamaan, pasar cenderung lebih mudah terkoreksi.
Dominasi saham melemah juga memberi sinyal bahwa kehati-hatian masih tinggi di kalangan pelaku pasar. Mereka tampak memilih menunggu arah yang lebih jelas sebelum kembali masuk ke saham-saham tertentu.
Dengan sisa perdagangan yang masih berjalan, arah akhir IHSG akan sangat ditentukan oleh kekuatan pembelian pada sesi berikutnya. Namun, tekanan pada paruh pertama perdagangan menjadi peringatan bahwa volatilitas pasar masih perlu diwaspadai.
