Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,72 persen ke level 6.206,35 pada perdagangan Senin, 25 Mei. Penguatan tersebut ditopang saham perbankan dan otomotif, di tengah tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar dan aksi jual investor asing.
Pelaku pasar juga mencermati liburnya bursa saham Amerika Serikat karena peringatan Memorial Day, serta perkembangan pembicaraan Iran dan Amerika Serikat yang berpotensi meredakan ketegangan geopolitik. Di sisi lain, pasar domestik masih menghadapi peluang aksi ambil untung menjelang libur panjang bursa.
IHSG Bergerak Terbatas
IHSG berpotensi bergerak terbatas pada perdagangan hari ini, meski sentimen positif dari perundingan Iran dan Amerika Serikat masih memberi penopang. Investor tampak menimbang peluang perbaikan risiko geopolitik dengan sikap hati-hati terhadap pergerakan jangka pendek.
Penundaan implementasi penuh kebijakan ekspor DSI hingga awal 2027 juga menjadi perhatian pasar. Kebijakan tersebut dinilai memberi ruang bagi investor untuk membaca ulang arah sentimen komoditas dan rantai pasok global.
Selain itu, aksi ambil untung menjelang libur panjang bursa masih berpotensi membatasi kenaikan indeks. Meski demikian, penguatan MSCI Indonesia offshore sebesar 1,70 persen memberi tambahan sentimen positif bagi pasar domestik.
Saham Emiten Penopang
Penguatan IHSG terutama ditopang oleh saham perbankan dan otomotif. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk naik 3,93 persen, PT Bank Central Asia Tbk menguat 3,39 persen, dan PT Astra International Tbk bertambah 3,70 persen.
Di sisi lain, sejumlah saham bergerak melemah cukup dalam. PT Barito Pacific Tbk turun 7,79 persen, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk terkoreksi 11,93 persen, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk melemah 9,12 persen.
Secara sektoral, enam sektor berhasil bertahan di zona hijau. Sektor transportasi menjadi penopang utama dengan kenaikan 3,83 persen, sedangkan sektor energi justru terkoreksi paling dalam sebesar 2,04 persen.
Sentimen Pasar Mewarnai
Investor asing tercatat membukukan jual bersih Rp2,09 triliun di pasar reguler. Jika dihitung di seluruh pasar, nilai jual bersih asing mencapai Rp2,22 triliun.
Tekanan dari aksi jual asing menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase selektif. Kondisi ini membuat pergerakan indeks lebih sensitif terhadap sentimen eksternal dan kabar korporasi.
Meski begitu, pasar domestik masih memiliki penopang dari kinerja beberapa emiten dan ekspektasi kebijakan yang lebih jelas. Pergerakan indeks ke depan akan sangat bergantung pada keseimbangan antara aliran dana asing dan minat beli investor lokal.
Rekomendasi Saham Pilihan
Sejumlah saham direkomendasikan untuk dicermati dalam perdagangan hari ini. Rekomendasi tersebut mencakup BRIS, INDF, PGAS, SSIA, dan ISAT dengan strategi beli di area tertentu serta target harga yang telah ditetapkan.
Berikut rangkuman rekomendasi saham yang dapat menjadi acuan investor.
- BRIS: Buy 1905-1915, TP 1935-1990, SL 1805
- INDF: Buy 6850-6925, TP 6975-7050, SL 6525
- PGAS: Buy 1865-1875, TP 1900-1925, SL 1760
- SSIA: Buy 1685-1700, TP 1725-1770, SL 1590
- ISAT: Buy 2130-2160, TP 2190-2240, SL 2020
Strategi tersebut bersifat informatif dan tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor. Keputusan investasi sebaiknya dibuat dengan disiplin, termasuk mempertimbangkan target keuntungan dan batas kerugian yang jelas.
Emiten Dengan Agenda Korporasi
Di pasar emiten, Solusi Environment Asia Tbk atau SOFA resmi bergabung dalam konsorsium proyek Waste to Energy bersama Zhejiang Weiming melalui anak usaha PT Ananta Energi Asia. Konsorsium ini akan menggarap dua proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik di wilayah Denpasar Raya dan Bogor Raya.
Kerja sama tersebut membuka peluang pendapatan berulang melalui skema Power Purchase Agreement selama 30 tahun dengan PT PLN (Persero). Tarif yang digunakan tercatat tetap sebesar US$0,20 per kWh, sehingga memberi visibilitas pendapatan jangka panjang bagi perseroan.
Selain SOFA, Millennium Pharmacon International Tbk membidik pendapatan Rp5 triliun pada 2026, sementara Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk menetapkan dividen tunai Rp270 per saham. Agenda korporasi ini menunjukkan bahwa beberapa emiten masih agresif memperkuat fundamental di tengah dinamika pasar yang fluktuatif.
