IHSG Anjlok 3,54%, Asing Jual Bersih Rp508 Miliar

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 29 Mei 2026 16:36 WIB 4
IHSG Anjlok 3,54%, Asing Jual Bersih Rp508 Miliar

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup anjlok 3,54 persen ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis, 21 Mei, di tengah tekanan jual investor asing yang cukup besar. Di pasar reguler, asing membukukan jual bersih Rp508,11 miliar, sementara di seluruh pasar mencapai Rp544,89 miliar.

Tekanan juga datang dari seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia yang bergerak di zona merah, dengan sektor energi mencatat pelemahan terdalam sebesar 6,91 persen. Di sisi lain, sejumlah emiten masih menopang indeks, sementara pasar menyoroti rencana bisnis dan aksi korporasi dari WMPP, CRSN, dan CPIN.

Tekanan pada IHSG

Perdagangan Kamis menjadi sesi yang berat bagi pasar saham domestik karena hampir seluruh saham bergerak melemah. IHSG kehilangan momentum sejak awal sesi dan tidak mampu kembali ke zona hijau hingga penutupan.

Penurunan indeks mencerminkan tingginya aksi ambil untung dan berlanjutnya tekanan dari investor asing. Kondisi tersebut membuat minat beli di pasar reguler melemah sepanjang hari.

Meski begitu, beberapa saham berkapitalisasi besar masih mampu menjadi penahan laju penurunan indeks. Amman Mineral Internasional, Indofood Sukses Makmur, dan Sumber Alfaria Trijaya termasuk emiten yang menopang pergerakan IHSG.

Di sisi lain, tekanan terbesar berasal dari Astra International, Bumi Resources Minerals, dan Bayan Resources. Kombinasi pelemahan saham-saham tersebut ikut memperdalam koreksi indeks pada akhir perdagangan.

Sentimen Dari Global

Berbeda dengan kondisi di dalam negeri, bursa saham Amerika Serikat justru ditutup menguat pada perdagangan terakhir. Dow Jones naik 0,55 persen, S&P 500 bertambah 0,17 persen, dan Nasdaq menguat tipis 0,09 persen.

Penguatan Wall Street menunjukkan sentimen global sebenarnya masih cukup suportif bagi pasar ekuitas. Namun, pengaruh positif tersebut belum mampu menahan tekanan yang datang dari faktor domestik.

Pelaku pasar masih mencermati pandangan S&P Global Ratings terkait risiko fiskal dan kebijakan pengendalian ekspor Indonesia. Kekhawatiran itu dinilai dapat berdampak pada neraca pembayaran serta stabilitas makroekonomi nasional.

Tekanan global dan domestik juga tercermin pada kinerja ETF EIDO dan MSCI Indonesia. Kedua indeks acuan itu masing-masing turun 3,04 persen dan 2,56 persen, sejalan dengan melemahnya minat investor terhadap aset Indonesia.

Langkah Emiten WMPP

Widodo Makmur Perkasa Tbk menargetkan pendapatan kuartal I-2026 mencapai Rp2,10 triliun. Target tersebut setara pertumbuhan 108,20 persen dibandingkan capaian periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,01 triliun.

Untuk mengejar proyeksi itu, perusahaan menambah kapasitas rumah potong ayam hingga 12 ribu ekor per jam. Perseroan juga memperluas bisnis ayam petelur dengan target populasi mencapai 1 juta ekor pada 2028.

Di lini sapi, WMPP menargetkan kenaikan bobot harian minimal 1,60 kilogram per hari. Perusahaan juga berupaya meningkatkan kualitas sapi gama agar mampu memenuhi kebutuhan bibit sapi premium domestik.

Ekspansi feedlot diarahkan ke sejumlah wilayah baru, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga kawasan Ibu Kota Nusantara. Langkah ini menunjukkan fokus perseroan pada penguatan rantai bisnis pangan berbasis protein hewani.

Dividen Dan Target CRSN CPIN

Carsurin Tbk membidik pendapatan tahun 2026 sebesar Rp618,16 miliar, atau naik 22,41 persen dari target 2025 sebesar Rp504,96 miliar. Segmen inspeksi diperkirakan menjadi penyumbang utama dengan target pendapatan Rp491,11 miliar.

Perseroan juga menargetkan laba bersih naik menjadi Rp17,52 miliar. Margin laba bersih ditargetkan membaik ke level 2,83 persen seiring ekspansi layanan dan penambahan lini bisnis.

Untuk mendukung strategi tersebut, CRSN mendirikan enam anak usaha baru. Dua di antaranya adalah PT CARSURIN Nickel Integrity dan PT CARSURIN EcoTrust International, yang memperluas jangkauan bisnis perseroan.

Di sisi lain, Charoen Pokphand Indonesia menetapkan dividen tunai Rp180 per saham untuk tahun buku 2025, dengan total Rp2,95 triliun. CPIN juga membukukan kenaikan penjualan menjadi Rp70,70 triliun dan laba bersih Rp5,64 triliun, sementara cum date dividen dijadwalkan pada 2 Juni 2026.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!