Ide Bisnis di CFD, Roti Kukus Srikaya Raup Omzet Lipat

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 31 Mei 2026 12:44 WIB 2
Ide Bisnis di CFD, Roti Kukus Srikaya Raup Omzet Lipat

Car Free Day (CFD) yang rutin digelar setiap pekan bukan hanya menjadi ruang olahraga dan rekreasi, tetapi juga membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM. Keramaian pengunjung di satu kawasan membuat aktivitas jual beli berlangsung cepat, terutama untuk produk yang praktis dan mudah dibawa.

Salah satu contoh usaha yang dinilai potensial di CFD adalah berjualan roti kukus srikaya. Produk ini dinilai menarik karena proses penyajiannya sederhana, modalnya relatif terjangkau, dan bisa dijalankan sebagai usaha sampingan untuk menambah penghasilan.

CFD Jadi Pasar Dadakan

CFD kerap berubah menjadi pasar dadakan karena ribuan orang berkumpul di lokasi yang sama. Situasi ini menciptakan lalu lintas pembeli yang tinggi bagi pedagang makanan, minuman, dan produk cepat saji. Bagi pelaku usaha, kondisi tersebut menjadi peluang untuk menjangkau konsumen tanpa harus membuka toko permanen.

Keramaian pengunjung biasanya terjadi sejak pagi, saat masyarakat datang untuk berolahraga atau sekadar berjalan santai. Pola ini membuat produk yang dijual perlu mudah dipahami, cepat dibeli, dan tidak merepotkan pembeli. Dalam kondisi seperti itu, kecepatan layanan menjadi salah satu kunci utama penjualan.

Usaha di CFD juga menarik karena dapat dijalankan dengan waktu operasional yang singkat. Pedagang tidak harus berjualan seharian penuh, sehingga aktivitas ini cocok dijadikan penghasilan tambahan di tengah pekerjaan utama. Fleksibilitas tersebut membuat CFD diminati oleh pelaku usaha skala kecil maupun keluarga.

Selain itu, CFD memberi kesempatan untuk menguji respons pasar secara langsung. Pelaku usaha bisa melihat produk apa yang paling disukai, varian mana yang paling laku, dan berapa harga yang masih diterima pembeli. Informasi itu penting untuk menyusun strategi penjualan berikutnya.

Roti Kukus Srikaya Menarik

Roti kukus srikaya menjadi salah satu ide usaha yang dinilai potensial di CFD karena praktis dan memiliki cita rasa yang akrab di lidah konsumen. Produk ini mudah dibawa, tidak memerlukan perlengkapan berat, serta cocok dijual dalam kondisi siap santap. Dengan karakter tersebut, roti kukus srikaya relatif mudah dipasarkan di tengah keramaian.

Pelaku usaha bernama Dzakia, 28 tahun, menjalankan bisnis ini melalui akun @rotisrikaya_mamaya dan berjualan di CFD Teras Kota BSD. Ia memilih mengambil produk dari supplier agar proses produksi lebih sederhana dan fokus pada penjualan. Model usaha seperti ini memudahkan pelaku baru yang belum memiliki dapur produksi sendiri.

Dzakia menyebut modal awal yang dikeluarkan sekitar Rp2 juta untuk mengambil produk dari supplier. Dari modal tersebut, ia mengklaim dapat meraih omzet hingga dua kali lipat. Menurut pengakuannya, sebanyak 800 potong roti yang dibawa dari rumah pada pukul 05.00 WIB hingga 10.00 WIB sering kali habis terjual.

Varian yang ditawarkan, antara lain roti pandan, roti ubi ungu, dan roti original. Ragam pilihan ini memberi konsumen lebih banyak opsi sesuai selera. Kombinasi rasa, harga, dan kemasan yang ringkas menjadi faktor penting dalam menjaga minat pembeli di lokasi CFD.

Modal Kecil Potensi Besar

Contoh usaha roti kukus srikaya menunjukkan bahwa modal kecil tetap bisa menghasilkan omzet menarik jika ditempatkan di lokasi yang tepat. CFD menyediakan arus pengunjung yang besar, sehingga produk dengan harga terjangkau memiliki peluang cepat laku. Dalam konteks ini, pemilihan lokasi menjadi faktor yang tidak kalah penting dari kualitas produk.

Skema usaha berbasis supplier juga membantu menekan risiko produksi. Pelaku usaha tidak perlu menanggung seluruh proses pembuatan dari awal, sehingga waktu dan tenaga bisa dialihkan untuk pelayanan pelanggan. Strategi ini cocok untuk bisnis yang ingin tumbuh secara bertahap.

Meski terlihat sederhana, usaha seperti ini tetap membutuhkan konsistensi dan pengelolaan stok yang cermat. Pedagang perlu menghitung jumlah barang yang dibawa agar tidak terlalu banyak sisa, namun juga tidak kekurangan saat permintaan tinggi. Perhitungan seperti ini berpengaruh langsung terhadap margin keuntungan.

Selain itu, tampilan lapak dan cara penyajian juga berperan besar dalam menarik perhatian pengunjung. Produk yang dikemas rapi biasanya lebih mudah dilirik di tengah banyaknya pilihan jajanan. Karena itu, strategi penjualan di CFD tidak hanya bergantung pada rasa, tetapi juga pada presentasi.

Strategi Jualan Di CFD

Pelaku usaha yang ingin mencoba CFD perlu memahami karakter pengunjung sejak awal. Produk yang ideal umumnya mudah dibawa, cepat dipahami, dan memiliki harga yang sesuai dengan daya beli masyarakat. Dengan begitu, proses pembelian dapat berlangsung lebih lancar.

Jam buka juga menjadi pertimbangan penting karena arus pengunjung biasanya memuncak pada pagi hari. Pedagang yang datang lebih awal berpeluang mendapatkan lokasi strategis dan menjangkau konsumen sebelum mereka beranjak pulang. Konsistensi waktu berjualan dapat membantu membangun kebiasaan belanja dari pelanggan.

Promosi sederhana melalui media sosial dapat menjadi pelengkap penjualan lapangan. Akun seperti @rotisrikaya_mamaya menunjukkan bahwa identitas digital bisa membantu produk lebih mudah dikenali. Dalam jangka panjang, kombinasi promosi online dan offline dapat memperkuat usaha.

Bagi masyarakat yang ingin mencari penghasilan tambahan, CFD menawarkan ruang usaha yang relatif fleksibel dan terjangkau. Roti kukus srikaya hanyalah salah satu contoh produk yang bisa berhasil bila dipadukan dengan lokasi ramai dan pelayanan yang baik. Peluang serupa masih terbuka bagi pelaku UMKM yang jeli membaca kebutuhan pasar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!