Holywings Hadapi Penutupan 12 Outlet, Pertimbangkan Ganti Nama

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 13 Mei 2026 01:31 WIB 7
Holywings Hadapi Penutupan 12 Outlet, Pertimbangkan Ganti Nama

Holywings menghadapi tantangan bisnis serius setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup karena masalah izin operasi. Penutupan itu menjadi beban tambahan bagi perusahaan yang juga sedang terseret polemik promo minuman alkohol gratis bagi mereka yang bernama Muhammad dan Maria. Penutupan tersebut memperburuk reputasi brand Holywings dan menambah tekanan operasional.

Di tengah tekanan tersebut, praktisi dan konsultan marketing dari Inventure, Yuswohady, menyatakan reputasi Holywings tengah terpukul karena promo yang dikaitkan dengan SARA. Ia menilai langkah perbaikan bisa meliputi rebranding atau ganti nama, tergantung sejauh mana citra merek dinilai masih layak dipulihkan. Kata dia, hal itu disampaikan kepada detikcom pada Selasa (28/6/2022).

Ganti Nama; Opsi Rebranding; Pertimbangan Risiko

Ganti Nama menjadi opsi yang dibahas untuk menyelamatkan citra Holywings. Opsi ini bisa dipakai jika pihak manajemen menilai ada nilai positif pada nama tersebut meski ada kasus belakangan. Namun langkah ini tidak tanpa risiko karena perubahan identitas dapat menghapus momentum yang telah dibangun.

Menurut praktisi Inventure, Yuswohady, ganti nama bukan solusi mudah. Ia menekankan perlunya riset mendalam terhadap persepsi publik terkait nama yang diusulkan. Ia juga menegaskan perubahan besar pada identitas merek perlu dukungan dari strategi komunikasi dan operasional.

Salah satu opsi pelengkap adalah rebranding dengan menampilkan Holywings sebagai bagian dari identitas baru, misalnya label 'by Holywings'. Langkah ini bertujuan menjaga pengenalan merek tanpa mengorbankan elemen inti. Keberhasilan opsi ini sangat bergantung pada bagaimana konsumen menanggapi perubahan tersebut.

Opsi Rebranding adalah tindakan kedua yang dipertimbangkan jika reformulasi identitas diperlukan. Para ahli menyatakan perubahan nama atau identitas bisa dilakukan bila citra merek masih terkait dengan kualitas layanan yang baik. Namun prosesnya kompleks dan memerlukan perencanaan matang.

Rebranding dapat melibatkan penggantian keseluruhan nama atau penambahan elemen baru pada brand yang sudah ada. Proses ini menuntut riset pasar untuk memastikan nama baru resonan dengan target pelanggan. Penguatan pesan komunikasi juga diperlukan untuk menghindari kebingungan konsumen.

Biaya operasional dan dampak hukum menjadi pertimbangan utama dalam evaluasi opsi ini. Perubahan identitas bisa membawa biaya cetak ulang, kampanye promosi, serta pembaruan aset digital dan fisik. Keputusan akhir bergantung pada seberapa besar manfaat jangka panjang yang dinilai mampu ditarik.

Pertimbangan Risiko menjadi bagian penting dalam memilih antara dua opsi perbaikan. Risiko jika nama dipertahankan adalah persepsi publik yang tidak membaik meski perubahan operasional dilakukan. Pihak manajemen juga perlu mempertimbangkan risiko reputasi terkait SARA yang tidak selesai.

Penutupan outlet di Jakarta menunjukkan dampak nyata terhadap operasional dan citra merek. Risiko jika lisensi berlanjut bisa menunda pemulihan bisnis dan merugikan investor. Riset pasar dan konsultasi reguler menjadi alat mitigasi risiko yang diperlukan.

Keputusan akhir perlu didasarkan pada data, konsultasi pemangku kepentingan, dan evaluasi manfaat jangka panjang. Komitmen konsistensi identitas di berbagai kanal menjadi syarat penting keberhasilan langkah selanjutnya. Pengambilan keputusan sebaiknya didokumentasikan dengan jelas untuk transparansi publik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!