Holywings Disorot, Pakar Nilai Rebranding Jadi Opsi

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 23 Mei 2026 08:25 WIB 7
Holywings Disorot, Pakar Nilai Rebranding Jadi Opsi

Bisnis Holywings tengah berada dalam tekanan setelah 12 outlet di Jakarta ditutup karena persoalan izin usaha. Kondisi tersebut semakin berat karena perusahaan juga masih disorot akibat promo minuman alkohol gratis yang dikaitkan dengan nama Muhammad dan Maria.

Di tengah dua masalah itu, wacana pergantian nama pun mencuat. Praktisi marketing dari Inventure, Yuswohady, menilai langkah yang tepat bergantung pada seberapa besar kerusakan reputasi merek di mata publik dan seberapa jauh dampak masalah perizinan terhadap citra perusahaan.

Holywings dan Krisis Merek

Yuswohady menilai reputasi Holywings sudah terpukul akibat polemik promo yang dikaitkan dengan unsur suku, agama, ras, dan antargolongan. Menurut dia, kasus tersebut membuat citra merek berada dalam posisi yang tidak nyaman. Kondisi ini diperburuk oleh penutupan outlet yang menunjukkan adanya persoalan kepatuhan usaha. Kombinasi kedua masalah itu membuat Holywings berada dalam fase krisis brand.

Ia menjelaskan, penutupan gerai bukan sekadar persoalan operasional, melainkan juga memengaruhi persepsi publik terhadap perusahaan. Ketika sebuah usaha ditutup karena izin, citra kepatuhan terhadap aturan ikut dipertanyakan. Dampaknya, merek tidak hanya dinilai dari produk dan layanan, tetapi juga dari perilaku bisnisnya. Dalam situasi seperti itu, reputasi menjadi aset yang paling rentan.

Menurut pandangan Yuswohady, persoalan merek yang sudah terseret isu sensitif akan lebih sulit dipulihkan. Publik cenderung mengingat kontroversi lebih lama dibanding kampanye positif yang dilakukan setelahnya. Karena itu, perusahaan perlu menghitung ulang strategi komunikasi dan positioning. Tanpa langkah yang tepat, beban reputasi dapat terus menempel pada nama yang sama.

Ia menegaskan bahwa kerusakan merek tidak selalu berarti akhir dari sebuah bisnis. Namun, perusahaan harus bersikap realistis dalam membaca respons pasar. Jika kepercayaan konsumen menurun tajam, maka pemulihan tidak bisa dilakukan hanya dengan pernyataan publik. Diperlukan keputusan strategis yang mempertimbangkan masa depan merek secara menyeluruh.

Opsi Rebranding Yang Muncul

Yuswohady menyebut ada dua pilihan utama yang bisa dipertimbangkan Holywings. Opsi pertama adalah rebranding dengan tetap membawa unsur nama lama. Langkah ini dinilai relevan apabila nama Holywings masih memiliki kekuatan pasar. Dalam skema ini, identitas inti merek tidak sepenuhnya dihapus.

Contoh yang dimaksud adalah penggunaan format nama seperti by Holywings atau bentuk lain yang masih menampilkan identitas lama. Strategi tersebut memungkinkan perusahaan melakukan penyegaran citra tanpa melepaskan seluruh ekuitas merek. Menurut dia, cara ini lebih masuk akal jika masalah yang dihadapi belum sampai merusak nama secara total. Dengan begitu, perusahaan masih memiliki jembatan kepercayaan kepada konsumen.

Ia menilai, mengganti nama secara total bukan pilihan yang harus diambil secara emosional. Keputusan itu perlu didasarkan pada data dan evaluasi reputasi. Jika di wilayah lain merek masih diterima, maka perubahan total belum tentu diperlukan. Karena itu, perusahaan perlu membedakan antara masalah lokal dan kerusakan brand secara nasional.

Rebranding juga harus dilihat dari sisi nilai ekonomi yang sudah dibangun sebelumnya. Nama yang sudah dikenal memiliki modal promosi yang tidak kecil. Menghapusnya begitu saja berarti mengorbankan aset yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Oleh sebab itu, opsi mempertahankan sebagian identitas sering dipandang lebih efisien.

Pertimbangan Ganti Nama

Opsi kedua adalah mengganti nama sepenuhnya jika riset menunjukkan bahwa merek sudah terlalu buruk di mata masyarakat. Yuswohady menilai langkah ini bisa menjadi jalan keluar apabila brand lama tidak lagi layak dipertahankan. Namun, keputusan tersebut tidak boleh diambil tanpa kajian yang kuat. Perusahaan harus memastikan bahwa kerusakan reputasi memang sudah pada tahap berat.

Ia menekankan bahwa ganti nama bukan perkara sederhana. Merek baru berarti perusahaan harus membangun pengenalan pasar dari awal. Proses itu membutuhkan waktu, biaya, dan strategi komunikasi yang konsisten. Risiko kegagalan pun tetap ada, meski identitas lama sudah ditinggalkan.

Dalam penjelasannya, Yuswohady menilai brand yang dibangun dari nol belum tentu langsung berhasil. Kesuksesan merek tidak hanya ditentukan oleh strategi pemasaran. Ada pula faktor keberuntungan, momentum pasar, dan penerimaan konsumen. Karena itu, penggantian nama total harus menjadi pilihan terakhir setelah seluruh opsi lain dipertimbangkan.

Ia juga mengingatkan bahwa mempertahankan nama lama yang sudah tercemar dapat menjadi beban jangka panjang. Jika publik terus mengaitkan merek dengan kontroversi, pemulihan akan semakin mahal. Dalam kondisi seperti itu, perusahaan harus bersikap jujur pada hasil riset. Keputusan bisnis yang tepat sering kali lahir dari keberanian membaca realitas pasar.

Risiko Dan Peluang Ke Depan

Menurut Yuswohady, semua keputusan terkait nama perusahaan harus berangkat dari riset mendalam. Riset itu perlu mengukur tingkat kerusakan citra, respons konsumen, dan potensi penerimaan terhadap nama baru. Tanpa data yang jelas, perusahaan berisiko mengambil langkah yang justru memperburuk posisi. Karena itu, analisis pasar menjadi fondasi utama.

Ia menilai, jika hasil riset menunjukkan nama Holywings masih memiliki nilai, maka rebranding bertahap lebih bijak. Sebaliknya, jika citra merek sudah terlalu rusak, penggantian total dapat menjadi pilihan rasional. Setiap opsi memiliki konsekuensi yang harus dihitung sejak awal. Perusahaan perlu menimbang biaya reputasi dengan potensi pertumbuhan di masa depan.

Dalam konteks bisnis, reputasi sering kali menjadi penentu keberlanjutan usaha. Produk yang baik akan sulit berkembang bila mereknya kehilangan kepercayaan publik. Sebaliknya, merek yang kuat bisa membantu perusahaan melewati masa sulit. Itulah sebabnya keputusan soal nama tidak boleh dipandang sebagai persoalan kosmetik semata.

Polemik Holywings memperlihatkan bahwa kepatuhan usaha dan etika komunikasi sama pentingnya dengan strategi pemasaran. Ketika kedua aspek itu bermasalah, perusahaan harus bergerak cepat untuk memulihkan kepercayaan. Langkah rebranding, baik parsial maupun total, hanya akan efektif jika dibarengi pembenahan menyeluruh. Tanpa itu, pergantian nama hanya akan menjadi solusi sementara.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!