Holywings Dinilai Perlu Rebranding, Ini Pertimbangannya

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 22 Mei 2026 13:52 WIB 6
Holywings Dinilai Perlu Rebranding, Ini Pertimbangannya

Holywings tengah menghadapi tekanan besar setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup karena persoalan izin usaha. Kondisi itu datang bersamaan dengan sorotan publik atas promo minuman alkohol gratis yang memicu kontroversi SARA, sehingga pertanyaan soal perubahan nama merek pun mengemuka.

Praktisi dan konsultan marketing Inventure, Yuswohady, menilai reputasi Holywings telah terpukul cukup dalam. Menurut dia, perusahaan kini perlu menimbang dengan serius apakah tetap mempertahankan nama lama atau memilih strategi rebranding yang lebih aman bagi keberlanjutan bisnis.

Holywings dan Krisis Reputasi

Reputasi sebuah merek sangat bergantung pada kepercayaan publik, dan Holywings kini berada dalam situasi yang sensitif. Kontroversi promosi alkohol gratis membuat nama perusahaan terseret dalam perdebatan luas di ruang publik.

Yuswohady menilai masalah itu tidak hanya berdampak pada citra, tetapi juga pada posisi merek di mata konsumen. Ketika isu SARA ikut melekat, maka pemulihan brand menjadi lebih sulit dan membutuhkan langkah yang terukur.

Penutupan outlet di Jakarta memperburuk persepsi yang sudah terbentuk. Dalam pandangan dia, kondisi tersebut memberi sinyal bahwa merek sedang berada dalam fase krisis yang serius.

Jika sebuah usaha menghadapi larangan karena persoalan perizinan, dampaknya tidak hanya bersifat operasional. Secara brand, hal itu dapat menimbulkan anggapan bahwa perusahaan belum sepenuhnya memenuhi standar yang diharapkan publik.

Holywings dan Opsi Rebranding

Menurut Yuswohady, ada dua opsi utama yang dapat dipilih Holywings untuk memperbaiki keadaan. Opsi pertama adalah rebranding, yakni penyegaran identitas tanpa harus menghapus seluruh jejak nama lama.

Langkah ini dinilai cocok bila merek masih memiliki nilai yang cukup kuat di mata pasar. Dengan strategi yang tepat, nama lama masih bisa dipertahankan, namun tampil dengan citra yang lebih positif.

Rebranding juga dapat dilakukan dengan format nama baru yang tetap menampilkan unsur Holywings. Cara ini memberi ruang agar identitas lama masih terbaca, tanpa harus sepenuhnya menghilangkan ekuitas merek yang sudah dibangun.

Strategi seperti itu, menurut dia, lebih masuk akal bila perusahaan masih ingin menjaga kesinambungan brand. Namun keberhasilannya tetap bergantung pada penerimaan publik dan konsistensi komunikasi yang dilakukan.

Holywings Harus Diriset

Opsi berikutnya adalah mengganti nama secara total, tetapi langkah ini tidak boleh diambil secara tergesa-gesa. Perusahaan perlu melakukan riset mendalam untuk mengetahui sejauh mana nama Holywings telah merosot di mata masyarakat.

Jika hasil riset menunjukkan brand sudah sangat buruk, maka pergantian nama bisa menjadi pilihan yang realistis. Dalam kondisi seperti itu, mempertahankan nama lama justru berisiko memperpanjang dampak negatif terhadap bisnis.

Meski demikian, perubahan nama total berarti perusahaan memulai proses pembangunan merek dari awal. Situasi ini menuntut biaya, waktu, dan strategi yang jauh lebih besar dibandingkan rebranding bertahap.

Yuswohady menegaskan, kesuksesan sebuah brand tidak hanya ditentukan strategi pemasaran. Ada faktor keberuntungan, momentum, dan penerimaan pasar yang ikut menentukan apakah merek baru bisa berhasil atau tidak.

Holywings dan Risiko Baru

Perubahan nama memang bisa memberi kesempatan baru bagi perusahaan untuk memperbaiki citra. Namun langkah itu juga menyimpan risiko karena identitas yang sudah dikenal publik harus dibangun kembali dari nol.

Jika nama baru dipilih tanpa perhitungan, maka perusahaan bisa kehilangan kekuatan merek yang selama ini sudah terbentuk. Di sisi lain, mempertahankan nama lama juga tidak otomatis aman bila citra negatif terus melekat.

Karena itu, keputusan yang diambil perlu mempertimbangkan hasil evaluasi internal, respons publik, dan arah bisnis jangka panjang. Pendekatan yang terburu-buru justru dapat memperbesar beban perusahaan di tengah situasi sensitif.

Bagi Holywings, tantangan saat ini bukan hanya memulihkan operasional, tetapi juga membangun kembali kepercayaan. Tanpa pemulihan reputasi yang kuat, setiap langkah bisnis akan tetap berada di bawah bayang-bayang kontroversi sebelumnya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!