Holywings Dihadapkan Opsi Rebranding Usai Outlet Ditutup

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 24 Mei 2026 13:39 WIB 6
Holywings Dihadapkan Opsi Rebranding Usai Outlet Ditutup

Bisnis Holywings tengah berada dalam tekanan besar setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup karena persoalan izin usaha. Di saat yang sama, perusahaan juga masih menghadapi sorotan publik akibat promo minuman alkohol gratis untuk nama tertentu yang dinilai sensitif dan memicu kontroversi.

Situasi tersebut membuat pertanyaan soal perubahan nama kembali mengemuka. Praktisi dan konsultan marketing dari Inventure, Yuswohady, menilai langkah itu perlu dipertimbangkan dengan cermat karena menyangkut reputasi, kekuatan merek, dan masa depan bisnis.

Rebranding Holywings Jadi Opsi

Yuswohady menilai reputasi Holywings saat ini tengah terpukul akibat persoalan promo yang dikaitkan dengan isu suku, agama, ras, dan antar golongan. Penutupan outlet di Jakarta juga memperburuk citra merek di mata publik.

Menurut dia, sebuah usaha yang sampai dilarang karena masalah perizinan akan dipandang tidak baik dari sisi merek. Kondisi itu, kata dia, memberi sinyal bahwa perusahaan belum menunjukkan kepatuhan yang memadai terhadap aturan.

Karena itu, rebranding menjadi salah satu jalan yang dapat dipertimbangkan oleh perusahaan. Langkah ini dinilai relevan bila merek masih memiliki modal reputasi yang bisa diselamatkan.

Nama Lama Masih Bernilai

Yuswohady menjelaskan bahwa ganti nama total tidak selalu menjadi pilihan terbaik. Jika merek masih cukup kuat, nama lama justru bisa tetap dipertahankan dengan pendekatan baru.

Ia mencontohkan strategi penggunaan format seperti nama baru dengan embel-embel by Holywings. Pola semacam itu memungkinkan identitas lama tetap terlihat tanpa menutup peluang pembaruan citra.

Menurut dia, pendekatan tersebut dapat menjadi jalan tengah antara mempertahankan ekuitas merek dan memperbaiki persepsi publik. Dengan begitu, perusahaan tidak harus sepenuhnya meninggalkan nama yang telah dikenal luas.

Risiko Ganti Nama Penuh

Opsi lain yang tersedia adalah mengganti nama secara penuh dengan merek baru. Namun, langkah ini bukan tanpa konsekuensi karena membangun merek dari awal membutuhkan waktu, biaya, dan konsistensi.

Yuswohady menekankan bahwa keputusan seperti ini harus didahului riset yang mendalam. Perusahaan perlu memastikan apakah nama Holywings sudah terlalu buruk di mata masyarakat atau masih bisa dipulihkan.

Jika hasil riset menunjukkan nama lama sudah tidak layak dipakai, maka perubahan total bisa menjadi pilihan terakhir. Akan tetapi, strategi itu berarti perusahaan harus memulai semuanya dari nol.

Riset Jadi Penentu Arah

Menurut Yuswohady, keberhasilan sebuah merek tidak hanya ditentukan oleh strategi pemasaran. Faktor keberuntungan, momentum, dan penerimaan pasar juga ikut memengaruhi hasil akhirnya.

Karena itu, keputusan mengganti nama tidak bisa diambil hanya berdasarkan tekanan sesaat. Perusahaan perlu menghitung dampak jangka panjang terhadap konsumen, jaringan bisnis, dan posisi merek di pasar.

Di tengah persoalan izin dan reputasi yang sedang membayangi, Holywings kini berada pada persimpangan penting. Pilihan antara rebranding, mempertahankan nama lama, atau mengganti total merek akan sangat menentukan arah bisnis ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!