Holywings Dihadapkan Opsi Rebranding Usai Masalah Izin

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 24 Mei 2026 05:54 WIB 7
Holywings Dihadapkan Opsi Rebranding Usai Masalah Izin

Bisnis Holywings menghadapi tekanan berat setelah 12 outlet di Jakarta ditutup akibat persoalan izin usaha. Kondisi ini muncul di tengah sorotan publik atas promo minuman alkohol gratis untuk pelanggan bernama Muhammad dan Maria, yang dinilai memicu kontroversi SARA.

Di tengah dua masalah tersebut, pertanyaan soal perubahan nama pun mengemuka. Praktisi marketing menilai langkah yang diambil Holywings akan sangat bergantung pada kondisi reputasi merek dan seberapa jauh dampak krisis yang sudah terjadi.

Reputasi Holywings Terkikis

Praktisi dan konsultan marketing dari Inventure, Yuswohady, menilai reputasi Holywings tengah terpukul. Ia menyebut promo yang dikaitkan dengan suku, agama, ras, dan antargolongan telah memperburuk citra perusahaan. Penutupan outlet karena izin juga menambah beban pada brand Holywings. Menurutnya, kombinasi dua masalah itu membuat posisi merek semakin sulit dipertahankan.

Yuswohady menilai sebuah usaha yang dilarang karena persoalan perizinan akan mendapat dampak buruk secara merek. Ia menyebut situasi itu memberi sinyal bahwa perusahaan belum tampil sebagai pelaku usaha yang tertib. Dalam pandangannya, persepsi publik sangat menentukan keberlanjutan brand. Karena itu, krisis yang terjadi tidak bisa dipandang hanya sebagai urusan operasional.

Ia menambahkan, reputasi yang sudah tergerus akan mempersulit upaya pemulihan. Bila masyarakat terus mengaitkan merek dengan pelanggaran dan kontroversi, maka ruang perbaikan semakin sempit. Dalam kondisi seperti itu, perusahaan perlu menilai ulang arah komunikasi mereknya. Evaluasi ini menjadi penting sebelum keputusan besar diambil.

Pilihan Rebranding dan Nama Baru

Yuswohady menjelaskan ada dua opsi yang bisa ditempuh Holywings untuk memperbaiki posisi merek. Opsi pertama adalah rebranding, yakni penyegaran identitas tanpa meninggalkan seluruh kekuatan nama lama. Langkah ini dinilai cocok jika merek masih memiliki nilai positif di mata pasar. Dengan cara itu, jejak brand lama tetap bisa dimanfaatkan.

Ia menyebut opsi rebranding dapat dilakukan jika nama Holywings masih dianggap kuat. Dalam skema ini, perusahaan bisa tetap mempertahankan unsur merek lama, misalnya dengan format nama baru yang tetap menyertakan identitas Holywings. Strategi tersebut dinilai lebih aman karena tidak memulai semuanya dari awal. Namun, keputusan ini tetap memerlukan pertimbangan matang.

Opsi kedua adalah mengganti nama secara penuh apabila kerusakan reputasi dinilai terlalu parah. Menurutnya, langkah ini harus ditempuh bila nama lama sudah tidak lagi layak dipakai di mata publik. Meski begitu, pergantian nama juga berarti membangun brand dari nol. Proses tersebut membutuhkan waktu, biaya, dan konsistensi yang tidak sedikit.

Risiko Saat Membangun Ulang

Yuswohady menegaskan bahwa membangun merek baru bukan pekerjaan mudah. Perusahaan perlu riset untuk memastikan seberapa buruk persepsi masyarakat terhadap Holywings. Riset ini akan membantu menentukan apakah nama lama masih bisa diselamatkan. Tanpa data yang jelas, keputusan pergantian nama berisiko tidak tepat sasaran.

Ia juga mengingatkan bahwa mengganti nama sepenuhnya dapat menghapus modal merek yang selama ini sudah dibangun. Nama yang sudah dikenal pasar biasanya memiliki nilai ekuitas yang tidak mudah digantikan. Jika nama itu dibuang, perusahaan harus memulai proses pengenalan ulang kepada publik. Kondisi tersebut sering kali lebih berat daripada mempertahankan identitas lama.

Meski demikian, Yuswohady menilai langkah itu tetap mungkin diambil bila nama Holywings sudah terlanjur buruk. Dalam situasi seperti itu, perusahaan tidak punya banyak pilihan selain mencari identitas baru. Akan tetapi, keberhasilan tetap tidak bisa dijamin karena brand dipengaruhi banyak faktor. Menurutnya, selain strategi, ada pula unsur keberuntungan dalam membangun merek.

Langkah Pemulihan Merek

Kasus Holywings menunjukkan bahwa reputasi dan kepatuhan usaha saling berkaitan erat. Ketika persoalan izin dan kontroversi publik terjadi bersamaan, dampaknya bisa meluas ke kepercayaan konsumen. Situasi ini membuat perusahaan perlu bergerak cepat untuk meredam kerusakan citra. Tanpa langkah pemulihan yang jelas, tekanan terhadap bisnis dapat terus berlanjut.

Upaya pemulihan merek tidak cukup hanya dengan mengubah tampilan luar. Perusahaan juga perlu memperbaiki tata kelola, komunikasi publik, dan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku. Dengan begitu, perubahan yang dilakukan tidak berhenti pada aspek kosmetik. Konsistensi menjadi kunci agar publik melihat adanya perbaikan yang nyata.

Pada akhirnya, keputusan Holywings antara rebranding atau ganti nama akan sangat ditentukan oleh hasil evaluasi internal. Bila nama lama masih memiliki nilai, pendekatan bertahap bisa menjadi pilihan. Namun jika reputasi sudah terlanjur rusak, nama baru mungkin menjadi jalan yang harus ditempuh. Apa pun pilihannya, proses pemulihan akan menuntut strategi yang disiplin dan jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!