Holywings Dihadapkan Opsi Rebranding atau Ganti Nama

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 22 Mei 2026 23:49 WIB 5
Holywings Dihadapkan Opsi Rebranding atau Ganti Nama

Bisnis Holywings tengah berada dalam tekanan berat setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup karena persoalan izin. Di saat yang sama, perusahaan juga menghadapi sorotan publik atas promo minuman alkohol gratis untuk pelanggan bernama Muhammad dan Maria, yang memicu kontroversi terkait isu SARA.

Situasi tersebut membuat publik mempertanyakan langkah yang paling tepat untuk memulihkan citra merek, termasuk kemungkinan mengganti nama usaha. Praktisi dan konsultan marketing Inventure, Yuswohady, menilai Holywings kini harus memilih strategi yang realistis agar kerusakan reputasi tidak semakin dalam.

Holywings dan Krisis Reputasi

Yuswohady menilai reputasi Holywings telah terpukul oleh dua masalah sekaligus, yakni isu promo yang dikaitkan dengan SARA dan penutupan outlet karena perizinan. Menurutnya, kombinasi keduanya membuat posisi merek semakin sulit di mata publik.

Ia menegaskan bahwa penutupan gerai karena masalah izin bukan hanya berdampak pada operasional, tetapi juga pada persepsi konsumen. Dalam bisnis, merek yang dianggap bermasalah akan lebih sulit membangun kepercayaan kembali.

Karena itu, Holywings tidak bisa hanya mengandalkan promosi baru untuk memulihkan citra. Perusahaan perlu menilai apakah masalah yang dihadapi masih bisa diperbaiki lewat strategi merek, atau sudah terlalu jauh merusak nama besar yang selama ini dibangun.

Opsi Rebranding Holywings

Menurut Yuswohady, salah satu langkah yang bisa dipilih adalah rebranding jika nama Holywings masih dinilai memiliki kekuatan di pasar. Skema ini dapat dilakukan dengan mempertahankan identitas lama, tetapi menghadirkan tampilan dan pendekatan baru.

Ia menyebut opsi seperti menggunakan nama tambahan, misalnya format “by Holywings”, sebagai cara menjaga eksistensi merek inti. Dengan pendekatan itu, nama lama tetap muncul sehingga pelanggan masih mengenali entitas bisnisnya.

Rebranding semacam ini dinilai lebih masuk akal bila kerusakan reputasi belum terlalu parah. Namun langkah tersebut tetap harus didukung oleh perbaikan operasional, kepatuhan izin, dan komunikasi publik yang lebih hati-hati.

Risiko Ganti Nama Baru

Opsi lain adalah mengganti nama secara penuh, tetapi pilihan ini memiliki konsekuensi besar. Membangun merek baru dari awal memerlukan biaya, riset, dan waktu yang tidak singkat.

Yuswohady menjelaskan bahwa keputusan tersebut perlu didasarkan pada hasil riset mengenai persepsi publik terhadap Holywings. Jika nama lama sudah sangat buruk dan tidak layak dipakai lagi, maka pergantian total bisa menjadi jalan terakhir.

Meski begitu, ganti nama bukan jaminan sukses. Merek baru harus dibangun dari nol, dan keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh strategi, tetapi juga momentum pasar dan keberuntungan.

Langkah Pemulihan Merek

Dalam pandangan Yuswohady, perusahaan perlu berhenti hanya memikirkan nama dan mulai fokus pada pembenahan menyeluruh. Kepatuhan terhadap aturan, etika promosi, dan konsistensi layanan menjadi fondasi utama pemulihan merek.

Ia menilai publik akan lebih mudah memaafkan jika perusahaan menunjukkan perubahan yang nyata. Sebaliknya, tanpa perbaikan mendasar, pergantian nama hanya akan terlihat sebagai upaya kosmetik.

Kasus Holywings menunjukkan bahwa kekuatan merek dapat runtuh ketika operasional dan komunikasi tidak dikelola dengan baik. Karena itu, keputusan rebranding atau ganti nama harus diambil setelah mempertimbangkan reputasi, risiko bisnis, dan kemampuan perusahaan untuk bangkit kembali.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!