Holywings Didorong Evaluasi Brand di Tengah Krisis Izin

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 25 Mei 2026 03:28 WIB 5
Holywings Didorong Evaluasi Brand di Tengah Krisis Izin

Holywings tengah berada dalam tekanan besar setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup karena persoalan izin usaha. Di saat yang sama, perusahaan ini juga terseret polemik promo minuman alkohol gratis yang dikaitkan dengan nama Muhammad dan Maria, sehingga reputasinya ikut terpukul.

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan apakah Holywings perlu mengganti nama agar bisa memulihkan citra bisnisnya. Praktisi dan konsultan marketing dari Inventure, Yuswohady, menilai keputusan itu harus didasarkan pada riset reputasi merek dan dampak penutupan outlet terhadap persepsi publik.

Reputasi Holywings Tertekan

Yuswohady menilai reputasi Holywings saat ini sedang mendapat pukulan berat. Sorotan publik atas promo yang dianggap menyentuh isu suku, agama, ras, dan antargolongan membuat citra perusahaan ikut terdampak.

Masalah itu belum berhenti di sana, karena penutupan sejumlah outlet di Jakarta menambah beban yang harus ditanggung perusahaan. Dalam pandangan branding, persoalan perizinan dapat membuat sebuah merek dipersepsikan negatif oleh konsumen.

Menurut dia, kondisi tersebut bukan sekadar urusan operasional, melainkan juga menyangkut kredibilitas merek di mata masyarakat. Jika sebuah usaha sampai dibatasi karena masalah izin, maka citra brand ikut ikut tergerus.

Pilihan Rebranding Masih Terbuka

Yuswohady mengatakan ada dua opsi yang dapat ditempuh Holywings untuk memperbaiki posisi merek. Opsi pertama adalah rebranding, jika nama dan ekuitas brand masih dianggap memiliki nilai di pasar.

Dalam skema ini, merek lama tidak harus dihapus sepenuhnya. Nama Holywings masih bisa dimunculkan, misalnya dengan format tambahan seperti “by Holywings”, agar identitas lama tetap terbaca publik.

Langkah tersebut dinilai lebih aman jika kerusakan reputasi belum terlalu dalam. Dengan cara itu, perusahaan bisa melakukan pembaruan tanpa harus membangun pengenalan merek dari awal.

Ganti Nama Punya Risiko

Opsi berikutnya adalah mengganti nama secara penuh, namun keputusan itu tidak ringan. Membangun sebuah brand baru dari nol membutuhkan waktu, biaya, dan konsistensi yang besar.

Menurut Yuswohady, pergantian nama sebaiknya dilakukan hanya jika riset menunjukkan bahwa nama Holywings sudah sangat buruk di mata publik. Jika kondisi itu terjadi, mempertahankan nama lama justru bisa memperpanjang masalah.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan sebuah merek tidak hanya ditentukan oleh strategi, tetapi juga faktor keberuntungan dan momentum pasar. Karena itu, keputusan ganti nama harus dihitung dengan sangat hati-hati agar tidak justru memperbesar kerugian.

Riset Jadi Penentu Utama

Sebelum mengambil langkah apa pun, perusahaan perlu melakukan riset mendalam terhadap persepsi konsumen. Hasil riset itu akan menunjukkan apakah merek Holywings masih punya peluang untuk dipulihkan atau justru harus ditinggalkan.

Riset juga penting untuk membaca seberapa jauh dampak kasus izin dan kontroversi promo terhadap loyalitas pelanggan. Tanpa data yang jelas, keputusan strategis berisiko diambil hanya berdasarkan tekanan sesaat.

Dalam situasi seperti ini, Holywings perlu menimbang antara mempertahankan ekuitas merek dan memulai identitas baru. Apapun pilihannya, pemulihan reputasi akan menjadi pekerjaan panjang yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan perubahan nama.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!