Holywings Didesak Rebranding Usai Outlet Ditutup

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 23:14 WIB 6
Holywings Didesak Rebranding Usai Outlet Ditutup

Holywings tengah menghadapi tekanan besar setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup karena persoalan izin usaha. Di saat yang sama, perusahaan juga disorot akibat promo minuman alkohol gratis yang dikaitkan dengan nama Muhammad dan Maria, sehingga reputasinya ikut terdampak.

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan, apakah Holywings perlu mengganti nama demi memulihkan citra. Praktisi dan konsultan marketing dari Inventure, Yuswohady, menilai langkah itu perlu dikaji secara hati-hati karena menyangkut kekuatan merek yang sudah terbangun.

Holywings dan Tekanan Reputasi

Yuswohady menyebut reputasi Holywings saat ini sedang terpukul. Menurutnya, masalah promo yang dikaitkan dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan membuat persepsi publik terhadap merek tersebut memburuk.

Penutupan outlet di Jakarta juga memperparah kondisi merek. Ia menilai, persoalan perizinan memberi sinyal negatif terhadap citra perusahaan di mata konsumen.

Dalam pandangannya, sebuah usaha yang dilarang karena masalah perizinan tidak berada pada posisi yang baik secara brand. Kondisi itu membuat kepercayaan publik makin sulit dipulihkan dalam waktu singkat.

Situasi ini menunjukkan bahwa Holywings tidak hanya menghadapi tantangan operasional, tetapi juga tantangan komunikasi merek. Dua masalah itu saling menekan dan berpotensi memengaruhi masa depan bisnis.

Opsi Rebranding Holywings

Menurut Yuswohady, ada dua opsi utama yang bisa ditempuh Holywings. Opsi pertama adalah melakukan rebranding jika merek tersebut masih memiliki nilai yang kuat di mata pasar.

Rebranding dapat dilakukan tanpa menghapus identitas lama sepenuhnya. Salah satu bentuknya adalah memakai nama baru yang tetap memunculkan unsur Holywings, seperti model penamaan tertentu yang masih menjaga keterhubungan merek.

Langkah itu dinilai tepat bila nama Holywings masih dianggap cukup kuat. Dengan cara tersebut, perusahaan tidak perlu memulai dari nol dan masih bisa memanfaatkan ekuitas merek yang tersisa.

Namun, rebranding juga harus didukung strategi komunikasi yang konsisten. Tanpa itu, upaya pemulihan citra berisiko tidak memberi dampak yang diharapkan.

Risiko Ganti Nama Total

Opsi kedua adalah mengganti nama secara penuh. Yuswohady menilai langkah ini bisa dipilih bila citra Holywings sudah terlanjur sangat buruk dan tidak lagi layak dipakai.

Meski begitu, perubahan nama total bukan keputusan ringan. Membangun merek baru membutuhkan waktu, biaya, dan riset yang tidak kecil.

Perusahaan perlu memastikan dulu apakah nama lama masih punya nilai atau justru menjadi beban. Riset pasar menjadi penting untuk mengetahui apakah publik masih menerima atau sudah menolak merek tersebut.

Jika nama baru dipilih, maka proses membangun kepercayaan harus dimulai dari awal. Kondisi itu membuat perusahaan harus siap menghadapi persaingan tanpa modal reputasi lama.

Riset Jadi Kunci Keputusan

Yuswohady menegaskan bahwa keputusan akhir sebaiknya berbasis riset, bukan emosi. Perusahaan perlu melihat apakah masalah yang menimpa Holywings sudah sedemikian berat sehingga perubahan total menjadi satu-satunya jalan.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan merek tidak hanya bergantung pada strategi. Ada faktor keberuntungan, momentum, dan penerimaan pasar yang turut menentukan apakah sebuah brand bisa bertahan.

Karena itu, langkah terburu-buru justru dapat merugikan perusahaan. Rebranding tanpa kajian bisa membuat modal merek yang sudah terbentuk hilang sia-sia.

Di tengah tekanan bisnis dan reputasi, Holywings kini berada pada titik penting untuk menentukan arah berikutnya. Pilihan antara mempertahankan nama, melakukan rebranding, atau mengganti identitas secara penuh akan sangat menentukan masa depan usahanya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!