Holywings Didesak Rebranding Usai 12 Outlet Ditutup

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 01 Juni 2026 01:40 WIB 2
Holywings Didesak Rebranding Usai 12 Outlet Ditutup

Holywings menghadapi tekanan serius setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup karena persoalan izin usaha, sementara citra merek perusahaan itu juga ikut terguncang akibat polemik promo minuman beralkohol gratis bagi pelanggan bernama Muhammad dan Maria. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan apakah perusahaan perlu mengganti nama atau cukup melakukan rebranding untuk memulihkan reputasi bisnisnya.

Praktisi sekaligus konsultan marketing dari Inventure, Yuswohady, menilai reputasi Holywings sedang terpukul karena kasus yang dikaitkan dengan isu SARA. Menurut dia, penutupan outlet memperburuk persepsi publik terhadap merek tersebut, sehingga langkah pemulihan harus dipikirkan dengan sangat hati-hati.

Rebranding Holywings Jadi Sorotan

Yuswohady menilai masalah yang menimpa Holywings bukan hanya soal operasional, tetapi juga menyentuh aspek reputasi merek. Ia menyebut penutupan outlet karena perizinan membuat citra perusahaan semakin tidak baik di mata publik.

Dalam pandangannya, sebuah usaha yang sampai dilarang beroperasi di wilayah tertentu akan menghadapi dampak serius pada brand. Kondisi itu dinilai dapat memberi kesan bahwa perusahaan tidak menjalankan kewajiban secara baik sebagai pelaku usaha.

Ia juga menegaskan bahwa persoalan promo minuman gratis yang memicu kontroversi SARA telah menambah beban citra Holywings. Akibatnya, perusahaan tidak hanya harus berurusan dengan regulator, tetapi juga dengan kepercayaan konsumen yang menurun.

Menurut Yuswohady, situasi ini membuat opsi rebranding menjadi bahan pertimbangan yang wajar. Namun, keputusan tersebut tidak bisa diambil hanya karena tekanan sesaat, sebab merek yang masih memiliki kekuatan pasar tetap perlu dipertahankan dengan pendekatan yang tepat.

Opsi Pertama Mempertahankan Merek

Yuswohady menjelaskan, salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah rebranding tanpa menghapus nama Holywings sepenuhnya. Cara ini dinilai cocok apabila merek tersebut masih punya nilai kuat di pasar dan belum sepenuhnya rusak di mata konsumen.

Ia mencontohkan, perusahaan bisa tetap menampilkan identitas Holywings dengan format baru, seperti penggunaan label tambahan yang tetap membawa nama lama. Strategi semacam itu bertujuan menjaga pengenalan merek agar tidak hilang dari benak publik.

Menurut dia, langkah tersebut lebih masuk akal jika masalah yang dihadapi masih bisa diperbaiki melalui komunikasi dan perbaikan tata kelola. Dengan begitu, perusahaan tidak perlu membangun ulang reputasi dari titik nol.

Namun, pendekatan ini tetap membutuhkan konsistensi, karena publik akan menilai apakah perubahan yang dilakukan benar-benar substansial. Tanpa perbaikan nyata, rebranding hanya akan menjadi tampilan luar yang tidak menyelesaikan persoalan inti.

Ganti Nama Bukan Solusi Mudah

Opsi lain yang bisa dipilih Holywings adalah mengganti nama brand secara penuh. Meski demikian, Yuswohady menekankan bahwa langkah tersebut membawa konsekuensi besar bagi bisnis.

Ia menyebut membangun merek baru bukan pekerjaan sederhana karena membutuhkan riset pasar yang mendalam. Perusahaan perlu memastikan apakah nama lama sudah terlalu buruk sehingga tidak layak dipertahankan lagi.

Jika nama Holywings dinilai masih punya nilai, maka menggantinya secara total justru dianggap membuang aset merek yang sudah terbentuk. Sebaliknya, jika citranya sudah terlalu rusak, perubahan total bisa menjadi pilihan yang terpaksa ditempuh.

Yuswohady mengingatkan bahwa mengganti nama berarti memulai lagi dari awal, termasuk membangun kepercayaan konsumen. Dalam dunia branding, kesuksesan tidak hanya ditentukan strategi, tetapi juga faktor waktu, momentum, dan keberuntungan.

Riset Menentukan Arah Bisnis

Menurut Yuswohady, keputusan Holywings harus didasarkan pada riset yang jelas, bukan sekadar reaksi terhadap tekanan publik. Perusahaan perlu mengukur seberapa jauh kerusakan reputasi yang telah terjadi di mata masyarakat.

Jika hasil riset menunjukkan nama Holywings masih memiliki daya jual, maka perusahaan sebaiknya mempertahankan identitas utama sambil memperbaiki perilaku bisnisnya. Langkah ini dinilai lebih efisien dibanding membangun brand baru dari awal.

Namun, bila riset membuktikan nama tersebut sudah sangat buruk dan sulit dipulihkan, perubahan total dapat menjadi jalan keluar. Meski begitu, perusahaan harus siap menghadapi tantangan besar untuk kembali diterima pasar.

Situasi Holywings menjadi contoh bahwa reputasi merek dapat terguncang oleh isu izin usaha maupun kontroversi komunikasi pemasaran. Ke depan, keputusan rebranding atau ganti nama akan sangat ditentukan oleh seberapa kuat perusahaan mampu memulihkan kepercayaan publik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!