Holywings Didesak Evaluasi Nama Usai Masalah Izin

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 23 Mei 2026 21:24 WIB 6
Holywings Didesak Evaluasi Nama Usai Masalah Izin

Holywings tengah menghadapi tekanan besar setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup karena masalah izin usaha. Di saat yang sama, perusahaan itu juga masih dibayangi polemik promo minuman alkohol gratis bagi pelanggan bernama Muhammad dan Maria. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan baru, apakah merek Holywings masih layak dipertahankan atau perlu diganti.

Praktisi dan konsultan pemasaran dari Inventure, Yuswohady, menilai reputasi Holywings saat ini sedang terpukul. Menurut dia, persoalan promo yang dikaitkan dengan unsur suku, agama, ras, dan antargolongan, ditambah penutupan outlet, membuat citra perusahaan semakin tertekan. Dalam situasi seperti ini, keputusan terkait nama merek tidak bisa diambil secara tergesa-gesa.

Reputasi Holywings Tertekan

Yuswohady menilai Holywings sedang menghadapi masalah reputasi yang serius. Polemik promo minuman gratis dinilai telah menyeret nama perusahaan ke dalam isu sensitif yang berhubungan dengan SARA. Sementara itu, penutupan outlet karena masalah izin turut memperburuk persepsi publik terhadap merek tersebut.

Ia mengatakan, ketika sebuah usaha sudah mendapat sanksi akibat persoalan perizinan, dampaknya bukan hanya operasional. Reputasi brand juga ikut terdorong ke titik yang lebih rendah di mata masyarakat. Dalam konteks itu, perusahaan perlu membaca ulang posisi merek di hadapan konsumen.

Menurut dia, citra negatif yang menumpuk dapat memengaruhi kepercayaan pasar. Konsumen cenderung lebih kritis terhadap merek yang tersangkut masalah hukum maupun sosial. Karena itu, upaya pemulihan harus dilakukan dengan strategi yang terukur.

Yuswohady menambahkan, masalah seperti ini tidak bisa hanya diselesaikan dengan komunikasi singkat. Perusahaan perlu menilai apakah kerusakan reputasi masih bisa dipulihkan melalui perbaikan merek. Jika tidak, opsi yang lebih radikal bisa menjadi pertimbangan.

Opsi Rebranding Holywings

Yuswohady menyebut ada dua opsi utama yang bisa dipilih Holywings untuk memperbaiki posisi merek. Opsi pertama adalah rebranding, yakni penyegaran identitas tanpa menghapus seluruh jejak nama lama. Langkah ini dinilai tepat bila merek inti masih memiliki nilai yang dapat diselamatkan.

Dalam skema ini, nama Holywings masih bisa dipertahankan dalam bentuk tertentu. Misalnya, nama baru tetap menyertakan identitas lama dengan format seperti “by Holywings”. Strategi tersebut memungkinkan perusahaan tetap menjaga ekuitas merek yang sudah dikenal publik.

Menurut dia, rebranding semacam itu lebih masuk akal jika brand Holywings belum dianggap terlalu rusak. Perubahan total nama justru berisiko menghilangkan modal reputasi yang selama ini sudah dibangun. Karena itu, perusahaan perlu berhati-hati sebelum mengambil keputusan final.

Ia menegaskan, penggantian nama secara penuh sebaiknya tidak dilakukan jika masih ada peluang mempertahankan identitas lama. Nama merek yang sudah kuat, menurut dia, tidak semestinya dibuang begitu saja. Namun, keputusan itu tetap harus didasarkan pada penilaian objektif terhadap kondisi pasar.

Risiko Ganti Nama Penuh

Opsi kedua adalah mengganti nama secara penuh dengan identitas baru. Langkah ini bisa ditempuh jika hasil riset menunjukkan bahwa nama Holywings sudah terlalu buruk di mata masyarakat. Dalam kondisi seperti itu, mempertahankan nama lama justru dapat menjadi beban bagi bisnis.

Meski begitu, penggantian nama penuh bukan langkah yang ringan. Perusahaan harus memulai lagi dari nol, baik dari sisi pengenalan merek maupun kepercayaan konsumen. Proses membangun brand baru juga membutuhkan waktu, biaya, dan konsistensi yang besar.

Yuswohady menilai, keputusan semacam ini wajib didahului riset mendalam. Perusahaan perlu memastikan apakah citra Holywings masih memiliki peluang untuk diperbaiki atau sudah tidak layak dipakai. Tanpa riset yang memadai, perubahan nama bisa berujung pada kerugian baru.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan membangun merek tidak hanya ditentukan strategi. Ada faktor lain yang ikut memengaruhi, termasuk momentum dan keberuntungan. Karena itu, membangun brand baru dari awal bukan perkara sederhana.

Langkah Pemulihan Bisnis

Di tengah tekanan yang ada, Holywings dinilai perlu menata ulang strategi bisnis dan komunikasinya. Penyelesaian persoalan izin menjadi langkah dasar yang tidak bisa ditunda. Tanpa kepastian operasional, upaya pemulihan merek akan berjalan lebih lambat.

Selain itu, perusahaan perlu menunjukkan komitmen yang jelas dalam merespons kritik publik. Transparansi dan kepatuhan terhadap aturan akan menjadi faktor penting untuk memulihkan kepercayaan. Sikap defensif justru berpotensi memperpanjang krisis reputasi.

Secara bisnis, perusahaan juga harus menimbang dampak jangka panjang dari setiap keputusan branding. Rebranding dapat menjadi jalan tengah bila identitas lama masih punya nilai positif. Namun, perubahan nama total harus ditempuh jika citra merek memang sudah tidak dapat diselamatkan.

Pada akhirnya, keputusan mengenai nama Holywings akan sangat bergantung pada hasil evaluasi menyeluruh. Perusahaan perlu membaca sentimen publik, kekuatan merek, dan risiko bisnis secara bersamaan. Dari sana, pilihan terbaik dapat ditentukan tanpa mengorbankan masa depan usaha.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!