HAS Pictures melayangkan somasi kepada aktris Ratu Sofya terkait dugaan penolakan promosi film Dosa Penebusan atau Pengampunan. Rumah produksi milik Haldy Sabri dan Irish Bella itu menilai sikap sang aktris merugikan perusahaan karena ia merupakan salah satu pemeran utama. Persoalan ini mencuat setelah Ratu Sofya disebut keberatan dengan adegan dewasa dalam film tersebut dan memilih tidak ikut dalam agenda promosi. Pihak HAS Pictures kemudian meminta Ratu Sofya segera memenuhi kewajiban promosinya melalui jalur hukum.
Perwakilan HAS Pictures, Reza Aditya, mengatakan masalah bermula dari ketidakhadiran Ratu Sofya dalam promosi film yang segera tayang. Ia menyebut keberatan itu baru muncul setelah proses produksi selesai, padahal selama casting, reading, dan syuting, tidak ada komplain dari sang aktris. Reza juga menilai pernyataan yang disampaikan Ratu Sofya di ruang publik tidak sejalan dengan pengalaman di lokasi produksi. Karena itu, pihaknya menilai langkah somasi menjadi pilihan yang perlu ditempuh.
Sikap HAS Pictures
Reza Aditya menjelaskan bahwa film Dosa Penebusan atau Pengampunan memiliki elemen cerita yang membutuhkan keberadaan adegan dewasa. Namun, ia menegaskan adegan tersebut tidak dibuat secara vulgar dan tidak mengarah pada pornografi. Menurut dia, film ini dibangun dengan konsep cerita yang memiliki filosofi, bukan semata-mata menjual sensasi. Oleh karena itu, pihak produksi merasa tudingan yang beredar tidak menggambarkan isi film secara utuh.
Ia menambahkan bahwa selama proses kerja sama, Ratu Sofya tampak nyaman dan aktif mengikuti seluruh tahapan produksi. Dari tahap pemilihan pemain hingga proses syuting, menurut Reza, tidak ada tanda-tanda keberatan yang disampaikan secara resmi. Karena itu, HAS Pictures mengaku terkejut saat kemudian muncul pernyataan yang berlawanan dengan kondisi di lapangan. Pihaknya menilai perbedaan pernyataan tersebut telah memunculkan kerugian bagi promosi film.
Reza juga menyoroti pernyataan Ratu Sofya dalam sebuah podcast yang kemudian viral di media sosial. Dalam tayangan itu, sang aktris disebut menyampaikan ketidaknyamanan terhadap isi film dan keberadaan adegan tertentu. HAS Pictures menilai informasi tersebut bertolak belakang dengan pengalaman yang tercatat selama produksi berlangsung. Menurut Reza, perbedaan narasi itulah yang memperkeruh situasi dan memicu respons hukum dari rumah produksi.
Meski begitu, pihak perusahaan tetap membuka ruang dialog agar persoalan tidak berlarut-larut. Reza menyebut somasi bukan hanya bentuk teguran, tetapi juga undangan untuk duduk bersama mencari penyelesaian. HAS Pictures berharap promosi film tetap dapat berjalan sesuai jadwal tanpa menimbulkan kerugian lebih besar. Dalam pandangan mereka, penyelesaian terbaik adalah memastikan kewajiban para pihak tetap dijalankan.
Penjelasan Kuasa Hukum
Kuasa hukum HAS Pictures, Takwa, mengatakan pihaknya telah mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi terkait proses produksi film. Keterangan itu mencakup hal-hal yang berhubungan dengan kontrak kerja sama antara rumah produksi dan Ratu Sofya. Ia menilai seluruh temuan tersebut menunjukkan adanya persoalan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena itu, perusahaan memilih menempuh langkah hukum secara formal.
Takwa juga menyinggung soal penggunaan body double yang disebut menjadi salah satu sumber keberatan. Menurut dia, pihaknya telah meminta keterangan dari saksi-saksi yang mengetahui langsung proses pengerjaan film tersebut. Dari hasil penelusuran awal, HAS Pictures menilai tidak ada dasar yang memperkuat keberatan sebagaimana yang disampaikan di ruang publik. Ia menegaskan, perbedaan keterangan harus diuji berdasarkan fakta produksi dan isi perjanjian kerja.
Dalam penjelasannya, Takwa menyebut ada kewajiban promosi yang seharusnya dijalankan oleh pemeran utama. Kewajiban itu, kata dia, mencakup promosi secara personal maupun melalui kanal media sosial yang telah disepakati. Jika kewajiban tersebut tidak dilaksanakan, maka perusahaan berpotensi menanggung kerugian dari sisi pemasaran. Ia menilai aspek ini menjadi inti persoalan yang saat ini dipermasalahkan.
Takwa menambahkan bahwa pihaknya telah mengundang Ratu Sofya untuk melakukan pertemuan setelah somasi dikirimkan. Namun, menurut dia, pertemuan yang dihadiri kuasa hukum belum menghasilkan solusi. Karena itu, perusahaan kembali menegaskan tuntutan agar promosi segera dilakukan sesuai kesepakatan awal. HAS Pictures berharap persoalan ini dapat selesai tanpa memperpanjang konflik di ruang publik.
Isi Somasi
Somasi yang dilayangkan HAS Pictures berisi permintaan agar Ratu Sofya segera menjalankan kewajiban promosi film. Pihak rumah produksi menyebut jadwal dan daftar kegiatan promosi telah diberikan sebelumnya kepada kuasa hukum sang aktris. Dengan demikian, mereka menilai kewajiban tersebut sebenarnya sudah jelas sejak awal kerja sama. Ketidakhadiran dalam agenda promosi dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan yang berlaku.
Perusahaan menilai promosi menjadi bagian penting dalam keberhasilan penayangan film di pasar. Keterlibatan pemeran utama dinilai dapat membantu memperkuat daya tarik penonton dan meningkatkan eksposur film. Ketika salah satu pemeran utama tidak hadir, dampaknya disebut dapat langsung terasa pada strategi pemasaran. Dalam konteks itu, HAS Pictures menilai absennya Ratu Sofya bukan persoalan kecil.
Di sisi lain, pihak rumah produksi menolak anggapan bahwa film tersebut hanya mengandalkan adegan dewasa untuk menarik perhatian. Mereka menegaskan narasi utama tetap menjadi fokus dalam penyajian cerita. Adegan yang dipersoalkan disebut hanya bagian kecil dari keseluruhan film dan telah disesuaikan dengan batas yang dianggap wajar. Karena itu, mereka keberatan jika publik menerima gambaran yang terlalu menyederhanakan isi film.
HAS Pictures juga berharap komunikasi antara kedua pihak dapat kembali dibangun dengan baik. Mereka menilai penyelesaian secara musyawarah masih dimungkinkan selama kewajiban masing-masing pihak dihormati. Meski somasi sudah dikirim, rumah produksi belum menutup pintu dialog. Saat ini, perhatian tertuju pada apakah Ratu Sofya akan memenuhi tuntutan promosi atau tidak.
Dampak Pada Film
Perseteruan ini berpotensi memengaruhi langkah promosi Dosa Penebusan atau Pengampunan menjelang perilisan. Ketika polemik lebih dulu ramai di publik, perhatian penonton bisa bergeser dari isi film ke konflik di balik layar. Kondisi tersebut biasanya menuntut strategi komunikasi yang lebih hati-hati dari pihak produksi. HAS Pictures kini harus menjaga agar isu ini tidak mengganggu momentum penayangan.
Bagi rumah produksi, kehadiran pemeran utama dalam promosi merupakan bagian penting dari paket publikasi film. Keterlibatan itu tidak hanya membantu pengenalan karakter, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan calon penonton. Ketika ada penolakan, kerja tim promosi bisa terhambat dan biaya pemasaran menjadi kurang efektif. Karena itu, perkara ini dinilai berdampak langsung pada kepentingan bisnis perusahaan.
Sementara itu, bagi Ratu Sofya, sorotan publik yang terus berkembang dapat memengaruhi persepsi terhadap sikap profesionalnya. Jika persoalan ini tidak segera diselesaikan, namanya bisa terus dikaitkan dengan konflik promosi film. Dalam industri hiburan, citra publik menjadi salah satu modal utama bagi keberlangsungan karier. Oleh sebab itu, penyelesaian yang jelas akan sangat menentukan langkah berikutnya.
Hingga kini, HAS Pictures masih menunggu respons resmi dari pihak Ratu Sofya setelah somasi dilayangkan. Perkembangan perkara ini akan menentukan apakah promosi film berjalan normal atau justru semakin terseret polemik. Publik pun menanti penjelasan lanjutan dari kedua belah pihak agar duduk perkara menjadi lebih terang. Di tengah situasi itu, film yang semestinya dipromosikan kini justru menjadi pusat perhatian karena konflik hukumnya.
