Harga Telur Peternak Anjlok, Surplus Stabilkan Pasokan

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 13 Mei 2026 18:31 WIB 10
Harga Telur Peternak Anjlok, Surplus Stabilkan Pasokan

Peternak ayam mendatangi Kementerian Pertanian untuk menyampaikan keluhan atas anjloknya harga telur di tingkat peternak.

Perkiraan harga telur saat ini berada di sekitar Rp 22.500 per kilogram, lebih rendah dari harga acuan pembelian (HAP) Rp 26.500/kg.

Rapat di Jakarta Selatan pada Selasa, 12 Mei 2026, melibatkan Ketua Umum GOPAN Herry Dermawan dan pejabat Kementerian Pertanian.

Para peternak menuding adanya permainan middleman yang membuat harga tidak mencerminkan biaya produksi, sekitar Rp 24.000 per kilogram.

Surplus Telur Nasional

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Agung Suganda menyatakan surplus telur menjadi faktor utama penurunan harga.

Produksi telur nasional diproyeksikan mencapai 7,3 juta ton pada 2026.

Kebutuhan nasional diperkirakan sekitar 6 juta ton, sehingga terdapat surplus sekitar 800 ribu ton atau sekitar 13 persen.

Sejumlah peternak dinilai memilih menjual dengan harga rendah karena persediaan melimpah.

Mekanisme pasar menentukan harga melalui persaingan antar peternak, sehingga harga di lapangan bisa berbeda antar daerah.

Menurut Agung, 98 persen peternak adalah pelaku pasar tradisional yang menentukan harga di lapangan.

Harga jual di tingkat peternak seharusnya sejalan dengan HAP 26.500/kg.

Konolidasi dengan asosiasi peternak dan koperasi telah disepakati untuk menjaga harga agar mendekati acuan.

Langkah ini diharapkan menstabilkan harga dan mengurangi variasi di berbagai daerah produksi.

Ketimpangan Harga Daerah

Harga telur di wilayah sentra produksi turun lebih tajam dibanding daerah lain.

Di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, harga peternak saat ini lebih rendah dari harga acuan.

Sebaliknya, daerah Papua dan Maluku masih menghadapi harga relatif tinggi.

Agung menambahkan bahwa harga di lapangan tidak sepenuhnya mencerminkan biaya produksi sekitarRp 24.000 per kg.

Distribusi yang tidak merata memperburuk tekanan harga di beberapa daerah.

Untuk itu, pemerintah perlu mendorong harga pada HAP melalui transparansi dan pemantauan pasar.

Koordinasi dengan asosiasi peternak dan koperasi telah dilakukan untuk menekan variasi harga.

Intinya, upaya bersama diharapkan menyamakan harga di tingkat produsen dengan harga acuan.

Langkah ini sejalan dengan peraturan Kepala Bapanas.

Stabilitas Pasokan dan Distribusi

Upaya stabilisasi juga mencakup peningkatan penyerapan telur melalui Program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Menteri PKH menegaskan bahwa menu telur perlu ditambah dalam MBG untuk menjaga permintaan.

Pembelian telur bagi MBG juga diharapkan mengikuti harga yang ditetapkan pemerintah.

Selain itu, kementerian akan memfasilitasi distribusi telur dari wilayah surplus ke daerah defisit.

Stok melimpah di produsen diharapkan bisa dialirkan ke Papua dan Maluku yang harga jualnya masih tinggi.

Strategi ini dinilai efektif menahan gejolak harga dan menjaga ketersediaan kebutuhan nasional.

Agung menegaskan target on-farm price di angka 26.500/kg sebagai patokan.

Pertemuan dengan GOPAN dan koperasi menegaskan komitmen untuk mengendalikan harga.

Langkah operasional akan disampaikan kepada pelaku pasar dan diterapkan secara konsisten.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!