Harga telur di tingkat peternak turun hingga Rp 22.500 per kg, lebih rendah dari harga acuan pembelian Rp 26.500 per kg. Faktor utama penurunan adalah tingginya suplai telur yang masuk ke pasar domestik. Kementerian Pertanian mencatat produksi telur nasional diperkirakan 7,3 juta ton pada 2026 dengan kebutuhan sekitar 6 juta ton.
Surplus nasional diperkirakan mencapai sekitar 800 ribu ton, atau sekitar 13 persen dari kebutuhan domestik. Direktur Jenderal PKH Agung Suganda menyatakan surplus tersebut tidak menjadi masalah jika dikelola dengan baik. Namun ia menekankan perlunya konsolidasi harga agar on-farm price berada pada target Rp 26.500 per kg.
Harga Telur Peternak Anjlok
Harga telur di tingkat peternak turun hingga Rp 22.500 per kg, lebih rendah dari harga acuan Rp 26.500 per kg. Faktor utama penurunan adalah tingginya suplai telur di pasar domestik. Kementerian Pertanian menilai surplus produksi bisa dikendalikan melalui koordinasi antar pelaku industri.
Produksi telur nasional diperkirakan mencapai 7,3 juta ton pada 2026, sedangkan kebutuhan domestik sekitar 6 juta ton. Surplus nasional diperkirakan mencapai sekitar 800 ribu ton, atau sekitar 13 persen dari kebutuhan. Rapat koordinasi dengan asosiasi dan peternak di Jakarta Selatan menegaskan komitmen untuk menjaga harga on-farm.
Ia menjelaskan harga ini dibentuk melalui mekanisme pasar yang melibatkan pembelian dari peternak dan penjualan oleh middleman. Kedua pihak berperan dalam menentukan harga di level lapangan, sehingga perbedaan antara harga beli dan harga jual bisa melebar. Agung menekankan perlunya kolaborasi seluruh pihak untuk menjaga harga agar stabil mendekati Rp 26.500 per kg.
Ketua GOPAN, Herry Dermawan, menyatakan bahwa penurunan harga telur di tingkat peternak tidak mencerminkan harga sesungguhnya. Menurutnya, ada peran kuat middleman yang membeli telur dengan harga rendah dari peternak lalu menjualnya kembali dengan margin tinggi. Saat ini, perbedaan harga antara pembelian peternak dan harga di pasar konsumen membuat pasar tampak tidak wajar.
Dia meminta pemerintah menindak praktik middleman yang dinilai merugikan peternak. Satgas Pangan diminta meningkatkan pengawasan agar tidak ada lagi permainan harga. Dia menyoroti perbedaan harga beli sekitar Rp21.000 per kg dan harga jual konsumen sekitar Rp29.000–Rp30.000 per kg.
Menurut data GOPAN, biaya produksi bagi peternak sekitar Rp24.000 per kg. Ketua GOPAN menegaskan bahwa rugi bisa terjadi jika harga pasar terus rendah. Upaya koordinasi antara peternak, koperasi, dan pemerintah diperlukan untuk menstabilkan harga.
Secara kebijakan, Agung Suganda menyatakan target harga on-farm adalah Rp26.500 per kg. Ia menegaskan konsolidasi dengan asosiasi peternak dan koperasi untuk menjaga harga sesuai target. Langkah ini diharapkan membentuk fondasi stabilitas harga telur nasional.
Agung menjelaskan bahwa mayoritas peternak adalah peternak rakyat dengan peran pasar yang dominan. Hal ini membuat harga sangat dipengaruhi dinamika pasar antar pelaku. Rapat koordinasi di Jakarta menjadi peluang untuk menyalurkan aspirasi mereka.
Biaya produksi harian bagi peternak sekitar Rp24.000 per kg. Ketua GOPAN tetap menyoroti bahwa tanpa stabilisasi harga, peternak bisa terus merugi. Para pemangku kepentingan sepakat untuk memastikan harga jual ke konsumen tidak terlalu jauh dari harga tingkat produsen.
