Harga Ayam Hidup Turun, Kementan Minta RPHU Tahan Harga

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 31 Mei 2026 09:08 WIB 3
Harga Ayam Hidup Turun, Kementan Minta RPHU Tahan Harga

Harga ayam hidup di tingkat peternak turun signifikan dan memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha perunggasan. Kementerian Pertanian menyebut penurunan itu terjadi karena pembelian di Rumah Pemotongan Hewan Unggas, atau RPHU, berada jauh di bawah harga acuan pemerintah sebesar Rp19.500 per kilogram.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan meminta seluruh pelaku industri memperkuat kolaborasi agar pasar tetap seimbang. Di Jawa Tengah, harga live bird dilaporkan turun ke Rp15.000 per kilogram, kondisi yang dinilai memberatkan peternak mandiri maupun skala kecil.

Harga Ayam Hidup Tertekan

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH, I Ketut Wirata, menegaskan agar RPHU tidak membeli ayam di bawah harga acuan yang telah disepakati. Ia menyampaikan imbauan itu dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 30 Mei 2026.

Menurut Ketut, rumah potong hewan unggas memiliki peran strategis dalam rantai pasok perunggasan nasional. Peran itu penting karena RPHU menjadi instrumen penyerapan produksi peternak sekaligus pengendali pasokan di pasar.

Data hasil rapat Ditjen PKH bersama Asosiasi Rumah Potong Unggas Indonesia, atau ARPHUIN, menunjukkan harga ayam hidup masih berada di level rendah. Kondisi ini membuat pemerintah menilai diperlukan langkah cepat agar tekanan harga tidak semakin dalam.

Kementan Ambil Langkah Stabilisasi

Untuk menjaga stabilitas pasar, Ditjen PKH menunda sementara rekomendasi usaha tertentu di sektor perunggasan. Kebijakan itu berlaku sampai harga ayam hidup kembali sesuai dengan acuan pemerintah.

Ketut menyebut penundaan ini sebagai bagian dari upaya pengendalian agar pasar tidak semakin tidak seimbang. Ia menekankan bahwa seluruh rekomendasi terkait pelaku usaha perunggasan di Ditjen PKH diminta untuk ditunda sementara.

Pemerintah berharap langkah tersebut dapat mendorong semua pihak menahan diri dalam menentukan pola pembelian. Dengan begitu, tekanan harga di tingkat peternak dapat berkurang secara bertahap.

RPHU Klaim Tetap Serap Produksi

Ketua ARPHUIN Sigit Pambudi mengatakan rumah potong hewan unggas tetap berupaya menyerap produksi peternak. Ia menilai situasi yang dihadapi pelaku usaha dan peternak sama-sama sulit.

Sigit menegaskan pihaknya tidak berniat mengambil keuntungan dari tekanan harga yang terjadi. Menurut dia, RPHU justru berusaha menjaga keseimbangan pasar dengan tetap melakukan pembelian ayam hidup.

Ia juga menyebut pemotongan tetap dilakukan secara maksimal, termasuk pada masa libur panjang. Langkah itu diambil agar penyerapan ayam hidup dari peternak tetap berjalan.

Pelaku Usaha Dorong Kompak

Perwakilan RPHU PT Charoen Pokphand Indonesia, Keenan Pardede, mengatakan kapasitas pemotongan telah dimaksimalkan. Ia menyebut perusahaan hampir memotong 400 truk per hari untuk membantu penyerapan produksi peternak.

Keenan mengakui pelaku usaha mengikuti arahan pemerintah terkait harga pembelian ayam hidup. Namun, ia menilai kebijakan harga tersebut masih menjadi beban produksi yang cukup berat di tengah tantangan biaya yang meningkat.

Karena itu, pelaku usaha berharap forum koordinasi antara pemerintah dan industri dapat menghasilkan kesepahaman baru. Mereka menilai kekompakan seluruh pihak menjadi kunci agar pasar unggas kembali stabil dan peternak tidak terus menanggung tekanan harga.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!