Happy Salma Ungkap Pengalaman Menghadapi Perimenopause

Lifestyle Nadia Safira Putri 22 Mei 2026 13:28 WIB 6
Happy Salma Ungkap Pengalaman Menghadapi Perimenopause

Perimenopause kerap datang tanpa disadari, padahal fase transisi menuju menopause ini dapat memengaruhi kondisi fisik dan emosional perempuan secara signifikan. Hal tersebut juga dirasakan Happy Salma, yang kini semakin memahami tubuhnya seiring bertambahnya usia.

Aktris berusia 46 tahun itu menuturkan bahwa pemahaman tentang perimenopause masih kerap minim di kalangan perempuan. Ia menilai, pengetahuan sejak dini sangat penting karena perubahan ini tidak bisa dihindari dan dapat terjadi lebih awal dari yang banyak orang bayangkan.

Perimenopause dan perubahan tubuh

Happy Salma mengaku baru benar-benar memahami fase perimenopause setelah mengalami berbagai perubahan pada tubuhnya. Ia menyebut, dahulu bersama kakak-kakaknya, mereka tidak pernah benar-benar memahami tahapan menuju menopause. Kondisi itu membuat mereka tidak mengetahui seperti apa perubahan tubuh yang mungkin muncul. Padahal, menurutnya, menopause adalah proses alami yang akan dialami banyak perempuan.

Ia menjelaskan bahwa perimenopause bahkan dapat dimulai sejak usia 30-an. Fase ini tidak hanya menimbulkan perubahan fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi emosional. Karena itu, perempuan perlu lebih peka terhadap sinyal yang diberikan tubuh. Pemahaman tersebut dinilai penting agar seseorang tidak merasa asing saat menghadapi perubahan tersebut.

Dalam pengalamannya, perubahan hormon membuat tubuh merespons secara berbeda dari biasanya. Hal yang dulu terasa ringan kini bisa menjadi lebih mengganggu. Happy menyebut, perubahan itu menjadi pengingat bahwa tubuh selalu bergerak dan beradaptasi. Ia menilai, perhatian terhadap kesehatan reproduksi seharusnya tidak menunggu sampai usia lanjut.

Aktris yang dikenal lewat film Pangku itu juga menyoroti pentingnya komunikasi yang terbuka tentang perimenopause. Menurutnya, perempuan perlu memiliki ruang untuk berbagi pengalaman tanpa merasa canggung. Informasi yang benar akan membantu mereka memahami apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Dengan begitu, fase ini tidak lagi dipandang sebagai hal yang menakutkan.

Emosi dan brain fog

Selain perubahan fisik, Happy juga merasakan sensitivitas emosional yang meningkat. Ia menggambarkan bahwa kondisi PMS yang dulu hanya membuatnya lebih sensitif, kini terasa jauh lebih kuat. Perubahan itu membuatnya lebih mudah merasakan fluktuasi suasana hati. Situasi tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang ia hadapi dalam perimenopause.

Happy turut mengeluhkan gangguan daya ingat yang kerap disebut brain fog. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah lupa, sulit berkonsentrasi, dan merasa tidak setajam biasanya saat berpikir. Dalam kehidupannya sehari-hari, hal itu cukup terasa saat harus tetap fokus bekerja. Ia menilai, perubahan ini perlu dipahami sebagai bagian dari proses biologis yang wajar.

Ia mengakui bahwa pekerjaannya sangat bergantung pada kemampuan menghafal naskah. Namun, brain fog membuatnya lebih sering lupa dibandingkan sebelumnya. Kondisi itu menantang dirinya untuk menyesuaikan ritme kerja. Meski demikian, ia memilih untuk tidak menjadikan hal tersebut sebagai hambatan utama.

Menurut penjelasan medis, brain fog pada fase perimenopause umumnya dipicu oleh fluktuasi hormon, terutama estrogen. Hormon ini memiliki peran penting dalam fungsi otak dan kestabilan kognitif. Saat kadarnya berubah, aktivitas harian bisa terasa lebih berat dari biasanya. Karena itu, perempuan disarankan mengenali gejalanya lebih dini.

Perimenopause bukan akhir

Di tengah berbagai perubahan itu, Happy menegaskan bahwa perimenopause bukan fase yang perlu ditakuti. Ia justru melihatnya sebagai momen refleksi diri yang memberi ruang untuk lebih mengenal tubuh dan batin. Menurutnya, usia bukan alasan untuk berhenti bertumbuh. Sebaliknya, fase ini bisa menjadi kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup.

Ia menyebut, perimenopause dapat menjadi waktu yang tepat untuk lebih menghargai diri sendiri. Di fase ini, seseorang bisa lebih dekat dengan nilai-nilai hidup yang selama ini mungkin terabaikan. Happy menilai, perempuan dapat menjadi lebih romantis kepada Sang Pencipta dan lebih peka terhadap makna kehidupan. Pandangan itu membuatnya melihat usia matang dengan lebih positif.

Bagi Happy, perubahan yang dialami justru membuka peluang untuk merasakan kebahagiaan yang lebih utuh. Ia percaya banyak perempuan bisa menjadi lebih bahagia karena lebih memahami dirinya sendiri. Proses berdialog dengan diri menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Dari sana, seseorang dapat menemukan ketenangan yang lebih dalam.

Ia juga menekankan bahwa fase ini bisa menjadi semacam kesempatan kedua untuk bersinar dari dalam. Dengan kesadaran yang lebih baik, perempuan dapat menjalani hidup dengan lebih tenang dan penuh penerimaan. Happy menilai, perubahan bukan berarti kemunduran. Justru, perubahan dapat menjadi awal dari pemahaman yang lebih matang tentang diri sendiri.

Menjaga kesehatan mental

Dalam menghadapi perimenopause, Happy menempatkan pemahaman sebagai kunci utama. Ia mengaku kini lebih banyak mencari informasi agar tidak salah memaknai perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Sikap itu membantunya merasa lebih siap menghadapi setiap fase yang datang. Informasi yang tepat juga membuatnya tidak mudah panik.

Selain mencari pengetahuan, ia mencoba berbagai cara untuk mengelola stres. Salah satu upaya yang disebutnya adalah terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind. Langkah tersebut ditempuh agar kondisi mental tetap stabil di tengah perubahan hormon. Menurutnya, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Happy juga memandang bahwa dukungan lingkungan berperan besar dalam melewati fase ini. Perempuan yang merasa didengar akan lebih mudah menerima perubahan pada dirinya. Karena itu, keterbukaan dalam keluarga dan pertemanan dinilai sangat membantu. Dukungan emosional dapat membuat perjalanan perimenopause terasa lebih ringan.

Ia berharap semakin banyak perempuan memahami bahwa perimenopause adalah bagian alami dari kehidupan. Dengan pengetahuan yang cukup, fase ini bisa dijalani secara lebih sehat, tenang, dan bermakna. Happy menilai, perempuan tidak perlu merasa sendiri saat menghadapinya. Yang terpenting adalah tetap mengenali diri, menjaga kesehatan, dan memberi ruang bagi proses yang sedang berlangsung.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!