Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Lifestyle Nadia Safira Putri 26 Mei 2026 02:57 WIB 2
Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Perimenopause kerap datang tanpa disadari, meski perubahan fisik dan emosionalnya bisa terasa cukup signifikan. Happy Salma menjadi salah satu figur publik yang membagikan pengalamannya saat memasuki fase transisi menuju menopause ini. Di usianya yang kini 46 tahun, ia semakin memahami tubuh dan perubahan yang terjadi seiring bertambahnya usia. Pengalaman itu membuatnya melihat perimenopause sebagai fase yang perlu dipahami, bukan ditakuti.

Happy mengaku dahulu tidak benar-benar memahami tahapan menopause, termasuk perubahan yang mungkin muncul pada tubuh dan perasaan. Ia menyebut fase ini dapat dimulai sejak usia 30-an, sehingga banyak perempuan belum menyadari bahwa tubuhnya sedang mengalami perubahan. Selain fisik, dampaknya juga bisa dirasakan secara emosional, termasuk meningkatnya sensitivitas dan gangguan konsentrasi. Bagi Happy, pengetahuan menjadi kunci agar perempuan dapat menjalani fase ini dengan lebih siap.

Perimenopause dan perubahan tubuh

Perimenopause adalah masa transisi sebelum menopause yang ditandai oleh perubahan hormon secara bertahap. Pada fase ini, tubuh perempuan dapat menunjukkan beragam gejala yang berbeda-beda, mulai dari siklus menstruasi yang tidak teratur hingga perubahan suasana hati. Happy Salma mengatakan bahwa dirinya kini lebih peka terhadap perubahan tersebut. Ia menilai pengalaman ini membuka pemahaman baru tentang kondisi tubuh perempuan.

Menurut Happy, perubahan yang muncul tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga mental. Ia menyebut bahwa PMS yang dulu hanya membuat lebih sensitif, kini terasa jauh lebih intens. Kondisi ini membuat banyak perempuan perlu memperhatikan sinyal tubuh dengan lebih serius. Pemahaman yang baik akan membantu mereka menyesuaikan pola hidup secara tepat.

Happy menilai bahwa banyak perempuan baru menyadari perimenopause setelah gejalanya mulai mengganggu aktivitas harian. Padahal, fase ini dapat terjadi lebih dini dan berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang. Karena itu, edukasi tentang kesehatan reproduksi perempuan menjadi sangat penting. Dengan informasi yang tepat, perempuan bisa lebih tenang menghadapi proses alami ini.

Brain fog saat bekerja

Salah satu perubahan yang paling ia rasakan adalah brain fog, yakni kondisi saat daya ingat dan fokus menurun. Happy mengatakan bahwa ia kini lebih mudah lupa saat harus menghafal naskah untuk pekerjaannya. Ia juga merasakan pikirannya tidak sejelas sebelumnya ketika harus berkonsentrasi. Kondisi tersebut membuat aktivitas profesionalnya terasa lebih menantang.

Secara medis, brain fog dalam fase perimenopause umumnya dipengaruhi fluktuasi hormon, terutama estrogen. Hormon ini berperan penting dalam fungsi otak, sehingga perubahannya dapat berdampak pada kemampuan berpikir dan mengingat. Akibatnya, kegiatan sederhana seperti mengambil keputusan bisa terasa lebih berat. Gejala ini kerap muncul tanpa disadari dan dianggap sekadar kelelahan biasa.

Happy menyadari bahwa perubahan tersebut membutuhkan penyesuaian dalam keseharian. Ia tidak ingin mengabaikan sinyal tubuh yang muncul seiring bertambahnya usia. Karena itu, ia berusaha mengenali pola perubahan agar tetap produktif. Sikap tersebut membantunya menjaga kualitas kerja sekaligus kesehatan mental.

Refleksi diri dan penerimaan

Meski membawa tantangan, Happy menegaskan bahwa perimenopause bukan fase yang perlu ditakuti. Ia justru melihatnya sebagai momen refleksi untuk mengenali diri sendiri dengan lebih utuh. Bagi dirinya, fase ini dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup. Pandangan tersebut membuatnya menerima perubahan dengan lebih lapang.

Ia mengatakan bahwa perimenopause dapat menjadi saat untuk lebih menghargai diri sendiri. Dalam pandangannya, perempuan bisa menjadi lebih dekat secara spiritual, lebih peka terhadap hidup, dan lebih sadar akan kebutuhan pribadi. Happy menyebut fase ini seperti kesempatan kedua untuk bersinar dari dalam. Ia percaya banyak perempuan justru menemukan kebahagiaan baru pada usia ini.

Menurut Happy, dialog dengan diri sendiri menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan hormon dan emosi. Ia menilai semakin banyak perempuan yang berani memahami diri, semakin besar pula peluang untuk hidup lebih seimbang. Karena itu, penerimaan terhadap proses alami tubuh menjadi hal yang sangat berharga. Sikap positif dapat membantu perempuan menjalani fase ini dengan lebih tenang dan percaya diri.

Informasi dan terapi pendukung

Untuk menghadapi perimenopause, Happy mengaku kini lebih aktif mencari informasi yang dapat membantunya memahami kondisi tubuh. Ia percaya bahwa pengetahuan yang benar akan membuat perempuan lebih siap menghadapi perubahan. Selain itu, ia juga mulai mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind. Langkah tersebut menjadi bagian dari upayanya menjaga keseimbangan fisik dan emosional.

Perubahan pada fase ini, menurut Happy, tidak seharusnya direspons dengan kepanikan. Sebaliknya, perempuan perlu mengenali gejala yang muncul dan mencari pendekatan yang sesuai dengan kebutuhannya. Dukungan dari lingkungan sekitar juga dapat membantu proses adaptasi berlangsung lebih baik. Dengan begitu, perempuan dapat tetap menjalani aktivitas secara optimal.

Kisah Happy Salma menunjukkan bahwa perimenopause adalah fase alami yang patut dipahami secara lebih terbuka. Edukasi, penerimaan, dan perawatan diri menjadi tiga hal penting yang dapat membantu perempuan melewatinya. Dengan pemahaman yang memadai, fase ini bisa dijalani sebagai bagian dari perjalanan hidup yang sehat. Pada akhirnya, perimenopause bukan akhir, melainkan babak baru untuk mengenal diri lebih dalam.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!