Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Lifestyle Nadia Safira Putri 30 Mei 2026 15:52 WIB 7
Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Perimenopause kerap datang tanpa disadari dan membawa perubahan fisik sekaligus emosional pada perempuan. Happy Salma mengaku mulai lebih memahami tubuhnya seiring bertambahnya usia, terutama setelah memasuki umur 46 tahun. Menurutnya, fase ini bukan sesuatu yang patut ditakuti, melainkan dipahami dengan lebih serius.

Ia menilai banyak perempuan belum benar-benar mengerti tahapan perimenopause, termasuk perubahan yang menyertainya. Happy menegaskan, menopause adalah fase yang pasti terjadi, sehingga pengetahuan sejak dini menjadi penting. Pengalaman pribadi itu membuatnya lebih aktif mencari informasi dan menjaga kualitas hidup.

Perimenopause dan perubahan tubuh

Happy Salma menjelaskan bahwa perimenopause dapat dimulai sejak usia 30-an, meski sering tidak dikenali sebagai tanda awal. Fase ini memengaruhi tubuh secara perlahan, sehingga banyak orang baru menyadarinya ketika gejala mulai terasa. Perubahan tersebut tidak hanya muncul pada fisik, tetapi juga pada kondisi emosional.

Ia mengaku dulu hanya merasakan PMS yang membuat lebih sensitif. Kini, sensasi itu dirasakannya jauh lebih kuat dan lebih mudah memengaruhi suasana hati. Perubahan seperti ini, menurutnya, perlu dipahami agar tidak dianggap sekadar kelelahan biasa.

Kesadaran terhadap perimenopause membuat perempuan bisa lebih sigap membaca sinyal tubuh. Pemahaman yang baik juga membantu menentukan langkah yang tepat untuk menjaga kesehatan. Dengan begitu, fase transisi ini dapat dijalani dengan lebih tenang dan terarah.

Brain fog dalam keseharian

Salah satu perubahan yang dirasakan Happy adalah brain fog, yakni kondisi ketika daya ingat dan fokus menurun. Ia menyebut gejala ini membuatnya lebih mudah lupa dan tidak sejelas biasanya saat berpikir. Kondisi tersebut cukup memengaruhi aktivitas yang menuntut konsentrasi tinggi.

Dalam penjelasannya, brain fog kerap dipicu oleh fluktuasi hormon, terutama estrogen. Hormon ini memiliki peran penting dalam fungsi otak, sehingga perubahan kadarnya dapat berdampak pada kemampuan kognitif. Akibatnya, hal-hal sederhana pun bisa terasa lebih menantang dari biasanya.

Bagi Happy, dampak itu terasa dalam pekerjaannya sebagai aktris yang harus menghafal naskah. Ia mengaku lebih sering mengalami lupa dan kehilangan fokus saat menjalani rutinitas. Meski begitu, ia melihat kondisi ini sebagai bagian dari perubahan alami yang perlu disikapi dengan bijak.

Refleksi diri di masa transisi

Di tengah perubahan tersebut, Happy tidak memandang perimenopause sebagai fase yang menakutkan. Ia justru menyebutnya sebagai momen untuk lebih mengenal diri sendiri. Menurutnya, fase ini dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Ia menilai perempuan dapat menjadi lebih dekat dengan nilai spiritual, lebih menghargai diri sendiri, dan lebih mengapresiasi hidup. Perubahan cara pandang itu membuatnya melihat usia sebagai ruang untuk bertumbuh, bukan keterbatasan. Dari sana, ia merasa ada peluang untuk lebih bahagia dan lebih utuh.

Happy juga menyinggung bahwa banyak perempuan justru menemukan kebahagiaan baru di usia ini. Hal itu terjadi karena mereka lebih memahami diri, lebih banyak berdialog dengan batin, dan lebih reflektif. Baginya, kesadaran seperti ini menjadi modal penting untuk menjalani fase transisi dengan percaya diri.

Pemahaman dan terapi stres

Happy menekankan bahwa pemahaman menjadi kunci dalam menghadapi perimenopause. Ia kini lebih banyak mencari informasi agar tidak hanya mengandalkan asumsi atau pengalaman orang lain. Langkah itu ia anggap penting untuk mengambil keputusan yang lebih tepat bagi tubuhnya.

Selain mencari pengetahuan, ia juga mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind. Upaya tersebut dilakukan untuk membantu dirinya menjaga keseimbangan emosional dan mental. Menurutnya, perawatan yang sesuai dapat mendukung kualitas hidup selama masa transisi.

Pengalaman Happy menunjukkan bahwa perimenopause dapat dihadapi dengan pendekatan yang lebih terbuka dan sehat. Dukungan informasi, kesadaran diri, serta kebiasaan merawat tubuh menjadi faktor yang saling melengkapi. Dengan pemahaman yang cukup, perempuan bisa menjalani fase ini tanpa rasa cemas berlebihan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!