Hanung Bramantyo membagikan pandangannya soal pola asuh anak saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (16/5/2026). Sutradara sukses itu mengaku tidak mudah luluh ketika anak-anaknya meminta barang atau hadiah dengan cara mengandalkan drama.
Suami Zaskia Adya Mecca tersebut menegaskan, setiap keinginan anak harus disertai usaha, pencapaian, dan pilihan hidup yang jelas. Ia ingin anak-anaknya tumbuh mandiri, berkarakter kuat, dan tidak terbiasa bergantung pada fasilitas orang tua.
Pola Asuh Tegas
Hanung menyebut anak-anaknya kerap mencoba membandingkan fasilitas yang mereka miliki dengan milik teman sebaya. Menurutnya, rengekan seperti itu tidak otomatis membuat dirinya mengubah keputusan.
Ia bahkan menilai anak-anaknya cukup lihai memainkan drama ketika menginginkan sesuatu. Kalimat seperti membandingkan mobil teman dengan milik keluarga menjadi salah satu contoh yang sering ia hadapi.
Bagi Hanung, permintaan semacam itu tidak bisa dijadikan alasan untuk memberikan semua keinginan secara instan. Ia ingin anak-anaknya memahami bahwa sesuatu yang didapat harus sejalan dengan tanggung jawab.
Pola asuh tersebut, kata dia, bertujuan agar anak tidak tumbuh dengan mental meminta tanpa usaha. Ia ingin mereka terbiasa berpikir sebelum mengajukan keinginan.
Prestasi Jadi Syarat
Hanung menegaskan bahwa setiap keinginan anak perlu dibuktikan dengan prestasi. Baginya, hadiah atau pemberian bukan sesuatu yang turun begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Ia mendorong anak-anaknya untuk menunjukkan capaian di bidang yang mereka pilih, baik seni, olahraga, maupun akademik. Dengan cara itu, setiap permintaan memiliki dasar yang terukur.
Menurut Hanung, anak perlu tahu bahwa pilihan hidup selalu membawa konsekuensi. Jika mereka memilih jalur tertentu, maka mereka juga harus siap memperlihatkan hasilnya.
Ia pun terbiasa memberi tantangan terlebih dahulu sebelum memenuhi permintaan anak. Cara itu ia anggap sebagai bentuk pendidikan agar mereka belajar menghargai proses.
Menolak Mental Lemah
Selain prestasi, Hanung juga menaruh perhatian pada pembentukan karakter. Ia menolak pola asuh yang membuat anak memiliki mentalitas lemah atau mudah menyerah.
Ia menyebut istilah mental tempe sebagai gambaran sesuatu yang ingin ia hindari pada anak-anaknya. Istilah itu, menurutnya, berasal dari pengalaman masa kecil dan didikan orang tuanya.
Hanung tidak ingin anak-anaknya baru bergerak setelah mendapat tekanan keras dari luar. Ia berharap mereka punya inisiatif untuk berkembang tanpa harus didorong dengan cara yang menyakitkan.
Dalam pandangannya, anak yang kuat adalah anak yang mampu mengambil langkah sendiri sejak dini. Karena itu, ia berusaha menanamkan kebiasaan untuk aktif, bukan menunggu perintah.
Memberi Ruang Pilihan
Meski tegas, Hanung tetap memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih bidang yang mereka minati. Ia tidak membatasi apakah mereka ingin menekuni seni, olahraga, atau akademik.
Kebebasan itu, menurutnya, tetap harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Anak yang memilih satu jalur wajib menunjukkan kesungguhan melalui usaha nyata.
Hanung menjelaskan bahwa dirinya akan menguji keinginan anak sebelum memberikan hadiah. Ujian itu menjadi cara untuk memastikan bahwa permintaan mereka tidak lahir dari keinginan sesaat.
Jika anak berhasil menunjukkan prestasi, barulah ia mempertimbangkan untuk memberi sesuatu yang diminta. Bagi Hanung, apresiasi terbaik adalah hadiah yang diberikan setelah ada kerja keras dan hasil yang pantas dihargai.
