Aktor sekaligus musisi Fedi Nuril mengantar sang ibunda, Gusmawati Nuril, ke peristirahatan terakhir di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, pada Rabu, 20 Mei 2026. Prosesi pemakaman berlangsung haru, saat keluarga dan kerabat melepas kepergian almarhumah. Setelah pemakaman, kakak Fedi, Nanda Nuril, menjelaskan kondisi kesehatan ibunda sebelum wafat di rumah.
Menurut Nanda, Gusmawati sudah lama mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paru-paru dan kesulitan menelan. Ia menyebut dokter sempat menyarankan sang ibu hanya mengonsumsi susu, karena air putih berisiko masuk ke saluran pernapasan. Kondisi itu membuat almarhumah beberapa kali tersedak sebelum mengalami penurunan kesehatan yang lebih serius.
Kondisi Kesehatan Ibu
Nanda mengatakan, usia sang ibu yang hampir 75 tahun membuat kondisi kesehatannya memang rentan. Ia menyebut penyakit yang dialami ibundanya tergolong penyakit yang kerap muncul pada usia lanjut. Salah satu keluhan utama adalah gangguan paru-paru yang membuat aktivitas makan dan minum menjadi tidak nyaman.
Ia menjelaskan, pemeriksaan dokter menunjukkan adanya risiko tinggi ketika sang ibu minum air putih. Karena itu, almarhumah sempat dianjurkan untuk lebih banyak mengonsumsi susu. Saran tersebut diberikan agar saluran pernapasan tidak semakin bermasalah.
Selama masa sakit, Gusmawati juga kerap mengalami tersedak secara berulang. Namun, Nanda menuturkan kondisi pada hari-hari terakhir terasa berbeda dari sebelumnya. Sang ibu tampak lebih kesakitan dan mengalami muntah sebelum akhirnya dibawa mendapatkan pertolongan.
Momen Terakhir Bersama
Nanda mengenang momen terakhir ketika ibundanya memanggil dirinya karena tersedak air putih. Saat itu, ia mendengar suara dari kamar dan segera menghampiri sang ibu. Percakapan singkat itu menjadi salah satu kenangan paling membekas baginya.
Ia menuturkan, almarhumah sempat meminta tolong sambil mengeluhkan rasa sakit yang dirasakan. Menurutnya, kejadian itu berbeda dari biasanya karena sang ibu tampak jauh lebih lemah. Nanda mengaku kondisi tersebut membuat keluarga segera mengambil langkah untuk membawa Gusmawati ke rumah sakit.
Di tengah kondisi yang menurun, ibundanya masih sempat meminta dipakaikan baju yang serasi sebelum berangkat. Nanda menyebut sang ibu memang dikenal menyukai pakaian yang cocok dan tertata rapi. Permintaan sederhana itu kini menjadi bagian dari kenangan keluarga terhadap sosok almarhumah.
Menuju Saat Terakhir
Setelah menyadari ibundanya memasuki fase sakaratul maut, Nanda langsung membimbing sang ibu untuk berzikir. Ia menggenggam tangan almarhumah dan melafalkan kalimat tauhid bersama. Dalam suasana itu, keluarga berupaya memberikan ketenangan di detik-detik terakhir.
Nanda juga berdoa agar jika memang sudah waktunya, proses kepergian sang ibu dimudahkan. Ia mengaku hanya bisa pasrah dan berharap almarhumah mendapat tempat terbaik. Doa itu ia sampaikan sambil terus mendampingi ibundanya.
Sesaat sebelum mengembuskan napas terakhir, Nanda sempat membisikkan maaf dan ungkapan sayang kepada sang ibu. Ia mengatakan telah menyampaikan, "I love you, Ma" dan "I'm sorry for all my mistakes". Setelah itu, Gusmawati berpulang dengan tenang di tengah pendampingan keluarga.
Riwayat Penyakit
Nanda menyebut keluhan kesehatan ibundanya mulai terasa sejak Ramadan tahun lalu. Awalnya, Gusmawati mengalami batuk berkepanjangan yang kemudian disertai kesulitan berbicara. Kondisi itu menjadi tanda awal pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga medis.
Dari hasil diagnosis pertama, dokter mendapati adanya kelumpuhan pada salah satu pita suara. Pemeriksaan lanjutan kemudian mengarah pada temuan bahwa sang ibu pernah mengalami paru-paru basah. Keluarga mengaku tidak mengetahui riwayat sakit tersebut sebelumnya, karena almarhumah juga tidak merasa pernah mengalami gangguan serius.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa gangguan kesehatan pada usia lanjut kerap muncul secara perlahan. Gejala seperti batuk berkepanjangan, sulit menelan, dan perubahan suara sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan medis sejak dini dapat membantu mendeteksi risiko lebih cepat dan mencegah kondisi memburuk.
