Fedi Nuril Antar Ibunda ke Peristirahatan Terakhir di Karet Bivak

Lifestyle Nadia Safira Putri 21 Mei 2026 17:41 WIB 7
Fedi Nuril Antar Ibunda ke Peristirahatan Terakhir di Karet Bivak

Aktor sekaligus musisi Fedi Nuril mengantar ibundanya, Gusmawati Nuril, ke peristirahatan terakhir di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, pada Rabu, 20 Mei 2026. Prosesi pemakaman berlangsung haru, dengan keluarga dan kerabat yang hadir memberikan penghormatan terakhir.

Usai pemakaman, kakak Fedi, Nanda Nuril, membeberkan kondisi kesehatan sang ibu sebelum meninggal dunia di rumah. Ia menyebut Gusmawati telah lama mengalami gangguan paru-paru dan kesulitan menelan, hingga membutuhkan perhatian khusus dalam kesehariannya.

Kondisi Kesehatan

Nanda menjelaskan bahwa usia ibundanya yang hampir 75 tahun membuat sejumlah keluhan kesehatan semakin terasa. Ia menyebut masalah paru-paru sebagai salah satu gangguan utama yang dialami Gusmawati dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Nanda, dokter sempat menyarankan agar sang ibu hanya mengonsumsi susu karena air putih berisiko masuk ke saluran pernapasan. Anjuran itu diberikan setelah kondisi menelan Gusmawati dinilai tidak lagi normal.

Ia menambahkan, ibundanya kerap mengalami tersedak, tetapi kondisi itu sempat tampak berbeda menjelang akhir hayat. Pada saat-saat terakhir, Gusmawati disebut mengalami muntah dan terlihat sangat kesakitan.

Keluhan itu mulai dirasakan sejak Ramadan lalu, ketika Gusmawati mengalami batuk berkepanjangan dan kesulitan berbicara. Pemeriksaan medis kemudian menemukan adanya lumpuh pita suara sebelah dan riwayat paru-paru basah yang sebelumnya tidak disadari keluarga.

Momen Terakhir

Nanda menceritakan bahwa dirinya sempat mendengar suara ibundanya memanggil setelah selesai makan. Saat dihampiri, Gusmawati mengeluhkan tersedak air putih dan meminta pertolongan.

Dalam kondisi yang sudah lemah, Gusmawati masih sempat merasakan sakit yang cukup berat. Nanda menyebut sang ibu berkali-kali memanggil namanya sambil menahan rasa sakit.

Meski berada dalam keadaan darurat, Gusmawati masih menunjukkan kebiasaannya yang ingin tampil serasi. Ia bahkan sempat meminta dipakaikan baju dengan warna yang cocok sebelum dibawa ke rumah sakit.

Nanda menilai momen itu sebagai tanda bahwa kondisi ibundanya sudah memasuki fase kritis. Tak lama setelah kejadian tersebut, keluarga menyadari bahwa Gusmawati berada di fase sakaratul maut.

Doa dan Penghormatan

Di tengah suasana emosional, Nanda membimbing ibundanya melafalkan zikir. Ia menggenggam tangan Gusmawati sambil mengucapkan kalimat tauhid dan memanjatkan doa agar proses akhir hidupnya dimudahkan.

Menurut Nanda, ia juga sempat membisikkan permintaan maaf dan ungkapan cinta kepada sang ibu. Kalimat itu diucapkan sebagai bentuk kasih sayang terakhir sebelum Gusmawati mengembuskan napas terakhir.

Setelah kepergian sang ibu, keluarga tampak berduka saat prosesi pemakaman berlangsung di TPU Karet Bivak. Kehadiran Fedi Nuril menjadi perhatian karena ia mendampingi ibundanya hingga ke tempat peristirahatan terakhir.

Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa penyakit yang tampak ringan pada awalnya dapat berkembang menjadi kondisi serius. Keluarga berharap pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk lebih peka terhadap gejala gangguan kesehatan pada orang tua.

Pesan Untuk Keluarga

Kisah yang disampaikan Nanda memperlihatkan pentingnya pemeriksaan medis sejak gejala awal muncul. Batuk berkepanjangan, gangguan menelan, dan suara yang berubah dapat menjadi tanda yang tidak boleh diabaikan.

Ia juga menekankan bahwa kondisi orang lanjut usia sering membutuhkan pengawasan lebih dekat. Dalam kasus Gusmawati, anjuran dokter untuk membatasi asupan minum menunjukkan adanya risiko serius pada saluran pernapasan.

Meski keluarga telah berupaya mendampingi dengan penuh perhatian, takdir akhirnya membawa Gusmawati pada kepergian yang tenang. Doa dan zikir yang dibacakan keluarga menjadi penutup perjalanan hidupnya.

Suasana haru di TPU Karet Bivak menegaskan eratnya ikatan keluarga di tengah duka. Bagi Fedi Nuril dan keluarga besar, kepergian Gusmawati menjadi kehilangan besar yang meninggalkan kesan mendalam.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!