Erin Tolak Damai, Pilih Lanjutkan Proses Hukum

Lifestyle Clara Monica 24 Mei 2026 01:18 WIB 6
Erin Tolak Damai, Pilih Lanjutkan Proses Hukum

Rien Wartia Trigina atau Erin menegaskan sikapnya untuk menolak tawaran perdamaian dari mantan asisten rumah tangga, Herawati, di Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2026) malam. Keputusan itu diambil setelah ia menilai tuduhan yang beredar telah merusak nama baik dan integritas pribadinya. Erin memilih tetap melanjutkan proses hukum, meski pihak lawan disebut sempat menawarkan syarat damai. Ia juga menyatakan telah melaporkan balik dugaan fitnah dan pencemaran nama baik ke Polres Metro Jakarta Selatan.

Menurut Erin, permintaan damai tidak dapat diterima karena narasi yang berkembang dinilainya sangat memojokkan. Ia merasa tuduhan tersebut telah membuat orang-orang di sekitarnya memandang dirinya secara negatif. Erin menegaskan, dirinya tidak ingin dianggap mengakui sesuatu yang tidak dilakukan. Karena itu, ia memilih membiarkan aparat penegak hukum memeriksa perkara ini berdasarkan fakta.

Erin Tegas Tolak Perdamaian

Erin menuturkan bahwa dirinya bukan menolak damai tanpa alasan. Ia hanya menilai nama baiknya sudah terlanjur rusak akibat tuduhan yang menurutnya tidak benar. Menurut dia, fitnah yang beredar membuat banyak orang salah menilai dirinya. Kondisi itu menjadi alasan utama ia bersikap tegas.

Ibu tiga anak itu menyebut tuduhan terhadap dirinya sudah masuk kategori serius. Ia keberatan dengan narasi yang menyebut dirinya melakukan penganiayaan hingga menggunakan senjata tajam. Erin menilai tuduhan mencakar, mencekik, menendang, dan menodong pisau sangat berlebihan. Ia menegaskan, seluruh tuduhan itu tidak sesuai dengan kenyataan yang ia alami.

Dalam pandangannya, menerima perdamaian pada situasi ini justru bisa ditafsirkan sebagai pengakuan bersalah. Erin mengatakan dirinya tidak ingin mengirim sinyal keliru kepada publik. Ia merasa harus mempertahankan kebenaran dan meminta keadilan. Karena itu, jalur hukum menjadi pilihan yang ia anggap paling tepat.

Erin juga menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin persoalan ini diselesaikan hanya lewat pendekatan kekeluargaan. Ia menilai proses semacam itu tidak cukup menjawab kerugian yang sudah ia alami. Menurut dia, penyelesaian harus tetap berpijak pada bukti dan fakta. Sikap itu ia ambil agar tidak ada pihak yang merasa bisa lepas dari tanggung jawab.

Bukti dan Laporan Balik Disiapkan

Didampingi tim kuasa hukum, Erin memastikan akan mengawal laporan balik yang telah diajukan. Ia berharap rekaman CCTV di rumahnya dapat membantu membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Erin menilai bukti visual penting agar peristiwa yang sebenarnya dapat terungkap. Dengan begitu, ia berharap tidak ada lagi spekulasi yang merugikan dirinya.

Menurut Erin, proses hukum perlu berjalan tanpa intervensi agar hasilnya objektif. Ia mengatakan hukum harus bekerja sesuai fakta yang ditemukan penyidik. Erin juga berharap perkara ini memberi efek jera kepada pihak yang menyebarkan tuduhan. Baginya, penyelesaian yang adil jauh lebih penting daripada kesepakatan damai semata.

Ia mengungkapkan bahwa dirinya sudah membuat dua laporan di Polres Metro Jakarta Selatan. Laporan itu berkaitan dengan dugaan fitnah, pencemaran nama baik, dan pelanggaran Undang-Undang ITE. Erin menilai langkah tersebut perlu ditempuh untuk menjaga kehormatan dirinya. Ia ingin kasus ini ditangani secara terang dan terbuka.

Erin menegaskan bahwa dirinya siap mengikuti seluruh tahapan pemeriksaan. Ia berharap penyidik dapat menilai perkara ini secara menyeluruh, termasuk bukti yang berasal dari lingkungan rumah. Menurut dia, kejelasan fakta adalah kunci untuk memulihkan nama baiknya. Karena itu, ia memilih bertahan pada jalur hukum sampai ada kepastian.

Awal Perseteruan Herawati

Perseteruan ini bermula ketika Herawati, mantan ART Erin, mengaku mendapat perlakuan kasar dan ancaman. Ia bahkan membawa persoalan tersebut ke DPR RI untuk meminta perlindungan. Laporan dan pengakuan itu kemudian memicu perhatian publik. Sejak saat itu, kasus keduanya menjadi sorotan luas.

Pihak Herawati sempat menyatakan bersedia berdamai dengan sejumlah syarat. Salah satu syarat yang disebut adalah pengakuan kesalahan dari pihak Erin. Namun, syarat itu tidak diterima oleh Erin. Ia justru menilai langkah tersebut tidak adil bagi dirinya.

Setelah tawaran damai itu, Erin melayangkan laporan balik ke Polres Metro Jakarta Selatan. Laporan tersebut berkaitan dengan dugaan pencemaran nama baik dan fitnah. Erin menganggap laporan balik sebagai bentuk pembelaan terhadap dirinya. Ia juga berharap hal itu menjadi ruang untuk menguji kebenaran tuduhan yang beredar.

Di sisi lain, Erin mengklaim memiliki bukti yang menunjukkan adanya pelanggaran privasi oleh Herawati. Ia menyebut mantan ART itu kerap memotret anak-anaknya tanpa izin dan merokok di area rumah. Klaim tersebut menambah panjang daftar tudingan yang saling berhadapan. Hingga kini, kedua pihak sama-sama menempuh jalur hukum dan prosesnya masih berjalan.

Fokus Kasus Masih Berlanjut

Hingga saat ini, perkara tersebut belum menunjukkan tanda penyelesaian damai. Kedua pihak masih bertahan pada keterangan masing-masing dan saling melaporkan ke polisi. Situasi itu membuat proses hukum menjadi sorotan publik. Perkembangan kasus ini pun masih terus dinanti.

Erin menegaskan bahwa dirinya tidak ingin perkara ini berhenti di tengah jalan. Ia ingin semua dugaan diuji melalui mekanisme yang sah. Menurut dia, hanya proses hukum yang dapat memberi jawaban paling jelas. Dengan begitu, nama baiknya diharapkan bisa dipulihkan jika tuduhan itu tidak terbukti.

Kuasa hukum Erin juga disebut ikut mengawal setiap tahapan pemeriksaan. Kehadiran tim hukum dinilai penting untuk memastikan seluruh bukti disampaikan secara utuh. Erin pun menyatakan siap jika harus memberikan keterangan tambahan. Ia mengaku ingin perkara ini selesai berdasarkan fakta, bukan asumsi.

Kasus antara Erin dan Herawati kini menjadi perhatian karena melibatkan isu fitnah, pencemaran nama baik, dan perlindungan hukum. Publik menunggu hasil penyidikan yang dapat menjelaskan duduk perkara sebenarnya. Erin berharap proses tersebut berjalan transparan dan profesional. Ia menutup sikapnya dengan satu pesan, bahwa kebenaran harus dibuktikan di depan hukum.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!