Rien Wartia Trigina atau Erin merespons pengaduan mantan asisten rumah tangganya, Herawati, dalam Rapat Dengar Pendapat Umum di Komisi III DPR RI pada Senin, 18 Mei 2026. Dalam kesempatan itu, ia membantah tuduhan dugaan penganiayaan dan mengaku memiliki bukti rekaman CCTV dari rumahnya. Erin menyatakan bukti tersebut merekam aktivitas selama tiga minggu, sejak Herawati mulai bekerja hingga meninggalkan rumah.
Ia menegaskan, seluruh tuduhan yang menyebut dirinya menusuk, mencekik, mencakar, dan memukul Herawati dapat dipatahkan melalui rekaman yang dimilikinya. Erin juga menyinggung polemik lain, termasuk dugaan perilaku merokok di dalam rumah dan persoalan handphone. Menurutnya, berbagai bukti tersebut akan dipakai untuk memulihkan nama baiknya.
Erin Bantah Tuduhan Penganiayaan
Erin mengatakan, rekaman CCTV menjadi bukti utama untuk membantah tuduhan yang disampaikan mantan ART-nya. Ia menyebut file tersebut sudah dipindahkan dari perangkat rumah ke hard disk. Menurutnya, rekaman itu mencakup aktivitas selama tiga minggu penuh.
Ia menjelaskan, kamera pengawas di rumahnya berjumlah 14 unit. Seluruh kamera tersebut disebut merekam kegiatan di berbagai sudut rumah. Erin menegaskan, bukti itu juga memuat peristiwa yang berkaitan dengan tuduhan kekerasan.
Dalam penjelasannya, Erin menyebut tudingan seperti menusuk, mencekik, mencakar, dan memukul tidak berdasar. Ia menilai semua aktivitas di rumah terekam dengan jelas. Karena itu, ia yakin laporan yang diajukan dapat dibantah secara objektif.
Erin hadir untuk menyampaikan versinya di hadapan Komisi III DPR RI. Ia memilih menjawab tuduhan dengan bukti yang disebutnya sah dan terdokumentasi. Menurutnya, langkah itu penting agar persoalan tidak berkembang tanpa dasar.
Polemik Handphone Di Rumah
Selain soal dugaan penganiayaan, Erin juga menyinggung persoalan handphone yang sempat dipersoalkan. Ia mengaku memiliki bukti terkait benda yang disebut telah dibanting. Erin menjelaskan, dirinya hanya mengambil dan memegang barang tersebut.
Ia menambahkan, terdapat saksi di rumah yang mengetahui kejadian itu. Menurutnya, dua orang pembantu rumah tangga dapat memberikan keterangan. Erin menilai kesaksian tersebut memperkuat penjelasannya.
Dalam kesempatan itu, Erin berupaya meluruskan berbagai dugaan yang berkembang. Ia menolak anggapan bahwa dirinya melakukan tindakan seperti yang dituduhkan. Menurutnya, peristiwa yang terjadi justru terekam dan dapat diverifikasi.
Erin menegaskan, polemik handphone tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan konflik yang terjadi di rumahnya. Ia menganggap ada upaya membangun narasi yang merugikan dirinya. Karena itu, ia memilih menampilkan bukti secara terbuka.
Larangan Merokok Di Rumah
Erin juga mengungkap keberatan terhadap kebiasaan Herawati yang disebut merokok di dalam rumah. Ia menyatakan memiliki bukti bahwa mantan ART tersebut merokok di area dapur sejak awal bekerja. Menurutnya, kebiasaan itu tidak dapat diterima di lingkungan rumah tangganya.
Ia menegaskan, dirinya dan anak-anak tidak merokok. Karena itu, ia melarang siapa pun merokok di dalam rumah. Erin menyebut bukti yang dimilikinya cukup jelas untuk menunjukkan pelanggaran tersebut.
Menurut Erin, tindakan Herawati dianggap mengganggu kesehatan keluarga, terutama anak-anak. Ia menyebut perilaku itu berbeda dengan ART lain yang pernah bekerja di rumahnya. Erin menilai larangan tersebut seharusnya dipatuhi sejak awal.
Ia mengaku sudah mengingatkan Herawati sejak beberapa hari pertama bekerja. Erin menegaskan larangan itu disampaikan secara tegas dan berulang. Baginya, aturan rumah tangga harus dihormati oleh siapa pun yang tinggal di dalamnya.
Langkah Hukum Dan Nama Baik
Erin menyatakan akan terus menempuh jalur hukum untuk mempertahankan posisinya. Ia menilai nama baiknya telah dirusak oleh tuduhan yang beredar. Erin menyebut persoalan ini bukan sekadar konflik pribadi, melainkan serangan terhadap reputasinya.
Ia juga menyinggung aktivitas Herawati yang disebut tampil di berbagai podcast dan forum publik. Menurut Erin, langkah itu memperluas pemberitaan yang merugikan dirinya. Ia menilai situasi tersebut sebagai bentuk pembunuhan karakter.
Dalam pernyataannya, Erin menegaskan tidak ingin persoalan ini dibiarkan berlarut tanpa kejelasan. Ia berharap bukti yang dimiliki dapat menjadi dasar penilaian yang adil. Erin menilai kebenaran harus diuji melalui proses hukum.
Kasus ini pun menjadi perhatian setelah dibawa ke ruang publik dan lembaga legislatif. Erin berharap semua pihak melihat perkara tersebut secara proporsional. Ia menegaskan akan mempertahankan haknya sampai nama baiknya pulih.
