Mantan penyanyi cilik Enno Lerian kini menekuni usaha kuliner bersama keluarga, dengan fokus pada bebek goreng dan puding buatan sendiri. Perjalanan itu bermula dari kebiasaan memasak yang tumbuh selama pandemi COVID-19, ketika ia lebih banyak berada di rumah. Dari situ, Enno mulai berani bereksperimen di dapur dan menemukan minat baru yang bertahan hingga sekarang. Usaha yang awalnya hanya membantu keluarga, kini berkembang menjadi bisnis yang mendapat respons positif dari publik.
Enno bercerita bahwa dorongan untuk terjun ke dapur datang dari kebiasaan harian selama pandemi, saat aktivitas di luar rumah terbatas. Ia juga menilai masa itu mengubah cara pandangnya terhadap kegiatan memasak, dari sekadar kemampuan dasar menjadi hobi yang serius. Bersama sang suami, Enno kemudian mulai memikirkan usaha keluarga yang bisa dijalankan berdua. Langkah tersebut akhirnya mengarah pada pengembangan bisnis makanan yang sudah lebih dulu dirintis orang tuanya.
Awal Minat Memasak
Enno mengaku sudah bisa memasak sebelum pandemi, tetapi saat itu ia belum benar-benar menikmati prosesnya. Kebiasaan berada di rumah membuatnya lebih sering masuk ke dapur dan mencoba berbagai resep. Kondisi tersebut perlahan mengubah kebiasaannya menjadi rutinitas harian yang ia sukai. Dari kebiasaan itu, minatnya terhadap dunia masak tumbuh lebih kuat.
Dalam keterangannya di Studio FYP Trans 7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026), Enno menyebut pandemi sebagai titik balik penting. Ia menilai situasi COVID-19 memaksa banyak orang, termasuk dirinya, untuk menemukan aktivitas baru di rumah. Karena sulit bepergian dan jajan di luar, ia memilih mengeksplorasi kemampuan memasak. Menurutnya, kebiasaan itu bertahan bahkan setelah kondisi mulai membaik.
Enno menegaskan bahwa kecintaannya pada memasak bukan sekadar ikut-ikutan, melainkan benar-benar muncul dari pengalaman pribadi. Ia merasa semakin sering berada di dapur, semakin besar pula ketertarikannya untuk mencoba hal baru. Aktivitas tersebut kemudian menjadi bagian dari keseharian yang menyenangkan. Dari sana, ia mulai berpikir bahwa keterampilan itu bisa dikembangkan lebih jauh.
Bisnis Keluarga
Keinginan Enno untuk membangun usaha kuliner bersama suami sebenarnya sudah ada sejak lama. Ia dan suaminya sama-sama ingin memiliki bisnis keluarga yang bisa dijalankan berdua. Harapan itu kemudian menemukan bentuk yang lebih konkret saat mereka melihat potensi usaha makanan. Menurut Enno, ide tersebut terasa semakin masuk akal karena sudah ada pondasi bisnis dari keluarga besar.
Usaha kuliner keluarga Enno ternyata memang sudah dirintis sejak lama oleh kedua orang tuanya. Ibunya diketahui telah berjualan bebek goreng sejak sekitar 2011, dan usaha itu terus berjalan hingga kini. Saat anaknya masih bayi pada 2013, keluarga Enno sudah terlibat membantu operasional usaha tersebut. Pada masa itu, mereka lebih banyak membantu pengantaran pesanan karena layanan ojek online belum semudah sekarang.
Meski sudah lama dekat dengan usaha keluarga, Enno mengaku belum terpikir menjadi sosok yang langsung turun memasak untuk bisnis itu. Ia dan suaminya lebih sering membicarakan pengembangan usaha makanan tanpa membayangkan dirinya berada di dapur sebagai penanggung jawab utama. Saat itu, fokusnya masih pada dukungan terhadap usaha yang sudah ada. Namun, pandangan tersebut berubah ketika muncul kesempatan baru dari orang terdekatnya.
Puding Jadi Peluang
Perubahan besar itu datang ketika seorang teman mendorong Enno untuk menjual puding buatannya sendiri. Teman tersebut disebut sangat ingin mencoba hasil masakan Enno dan melihat potensi dari rasa yang dibuatnya. Dorongan itu membuat Enno mulai mempertimbangkan ide penjualan yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan serius. Dari sana, puding menjadi produk pertama yang ia coba tawarkan ke pasar.
Pada momen Lebaran, Enno sempat mengirim hampers berisi puding buatannya kepada orang-orang terdekat. Respons yang diterima ternyata sangat positif, karena banyak penerima yang menyukai rasanya. Bahkan, sejumlah orang langsung menanyakan kapan puding itu dijual kembali. Meski demikian, Enno mengaku sempat tidak percaya diri dengan hasil masakannya sendiri.
Rasa ragu itu akhirnya kalah oleh dorongan dari teman dan pengikutnya di media sosial. Enno pun memberanikan diri membuka pre-order untuk puding buatannya sekitar pertengahan tahun lalu. Meski awalnya masih serba coba-coba, respons pembeli cukup besar dan membuatnya semakin percaya diri. Dari situ, puding tidak lagi sekadar hadiah, tetapi berubah menjadi produk bisnis yang nyata.
Respons Penggemar
Keputusan Enno menjual puding ternyata mendapat sambutan hangat dari para penggemarnya. Banyak yang penasaran dengan rasa, tekstur, dan kualitas produk yang ia buat sendiri. Dukungan itu memberi dorongan besar bagi Enno untuk terus melanjutkan usaha kulinernya. Ia pun melihat pasar yang terbentuk tidak hanya berasal dari keluarga, tetapi juga dari audiens media sosial.
Respons positif tersebut menunjukkan bahwa kedekatan publik dengan sosok Enno ikut memengaruhi perjalanan bisnisnya. Para pelanggan tidak hanya membeli produk, tetapi juga mengikuti kisah pribadinya dalam membangun usaha. Kondisi itu menjadi nilai tambah yang memperkuat citra produknya. Di sisi lain, Enno tetap berupaya menjaga kualitas agar kepercayaan pembeli tidak berkurang.
Dengan perkembangan itu, bisnis kuliner Enno kini memiliki dua kekuatan utama, yaitu bebek goreng keluarga dan puding racikannya sendiri. Perpaduan keduanya membuat usaha yang dijalankan bersama keluarga semakin berwarna. Enno juga menunjukkan bahwa minat yang lahir dari kebiasaan sederhana bisa berkembang menjadi peluang usaha. Dari dapur rumah, ia berhasil membuka jalan baru dalam karier dan kehidupan keluarganya.
