Elyse Myers Ungkap Sakit Kronis dan Histerektomi

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 20:58 WIB 3
Elyse Myers Ungkap Sakit Kronis dan Histerektomi

Elyse Myers kembali menjadi sorotan setelah cuplikan podcast yang menampilkan kisah kesehatannya ramai dibicarakan di media sosial. Komedian dan kreator konten itu mengungkap perjuangannya menghadapi sakit kronis, perdarahan hampir sepanjang tahun, hingga akhirnya menjalani histerektomi. Cerita tersebut memantik simpati publik karena banyak perempuan mengaku mengalami pengalaman serupa, namun kesulitan mendapat penanganan medis yang tepat.

Dalam podcast yang turut menghadirkan atlet rugby Olimpiade Ilona Maher, Myers menceritakan bahwa kondisi tubuhnya sangat terganggu sebelum operasi dilakukan. Ia menyebut pernah pingsan saat antre pemeriksaan keamanan di bandara dan mengalami penurunan berat badan akibat mual yang berkepanjangan. Potongan video yang kembali diunggah pada 3 Mei itu kemudian memicu percakapan luas tentang kesehatan reproduksi perempuan.

Perjuangan Elyse Myers

Myers mengaku hidup dengan pendarahan yang terjadi hampir 300 hari dalam setahun. Kondisi itu membuat aktivitas hariannya terganggu dan tubuhnya kerap terasa lemah.

Ia juga mengatakan pernah pingsan saat mengantre pemeriksaan TSA di bandara. Selain itu, berat badannya turun drastis karena ia sulit makan akibat mual yang terus-menerus.

Pengakuan tersebut memperlihatkan betapa berat beban fisik yang harus ia tanggung selama berbulan-bulan. Dalam podcast itu, Myers tidak menutupi bahwa rasa sakit yang dialaminya sudah sangat mengganggu kualitas hidup.

Ia menuturkan bahwa masalah itu bukan sekadar keluhan sementara, melainkan kondisi serius yang membutuhkan penanganan medis. Cerita Myers pun membuka ruang diskusi tentang pentingnya mendengarkan keluhan pasien perempuan secara lebih serius.

Histerektomi dan Validasi Medis

Myers mengaku tidak menyangka akan disarankan menjalani histerektomi di usia yang masih tergolong muda. Namun ia merasa lega karena akhirnya bertemu dokter yang benar-benar mau mendengarkan keluhannya.

Menurut dia, pengalaman itu terasa seperti bentuk validasi setelah sekian lama tidak dipercaya dalam kunjungan medis sebelumnya. Ia menilai banyak perempuan harus berulang kali menjelaskan kondisi mereka sebelum mendapat perhatian yang layak.

Myers menyampaikan bahwa selama ini ia kerap datang ke dokter, tetapi tidak merasa didengar. Karena itu, keputusan medis yang diambil akhirnya memberi kelegaan tersendiri baginya.

Kisah tersebut juga menyoroti persoalan akses terhadap prosedur kesehatan reproduksi bagi perempuan muda. Myers menilai ada dokter yang enggan melakukan tindakan tertentu hanya karena pasien masih berusia muda.

Isu Akses Kesehatan Reproduksi

Dalam penuturannya, Myers menyinggung bahwa tidak semua perempuan mendapat kebebasan penuh untuk menentukan tindakan medis pada tubuhnya sendiri. Ia menyebut ada pasien yang ingin rahimnya diangkat, tetapi tetap ditolak oleh tenaga medis.

Ia menilai penolakan semacam itu menunjukkan masih adanya jarak antara kebutuhan pasien dan keputusan dokter. Menurutnya, tubuh setiap orang seharusnya mendapat penghormatan yang sama dalam pengambilan keputusan medis.

Isu ini kemudian mendapat banyak respons di media sosial karena menyentuh pengalaman yang umum dirasakan perempuan. Sejumlah warganet membagikan kisah tentang rasa sakit yang diabaikan, diagnosis yang terlambat, dan minimnya empati dalam pelayanan kesehatan.

Perbincangan tersebut mempertegas bahwa kesehatan reproduksi masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian lebih besar. Di tengah ramainya respons publik, kisah Myers dinilai mewakili kegelisahan banyak perempuan yang berjuang mencari jawaban atas keluhan tubuh mereka.

Perubahan Kondisi Setelah Operasi

Beberapa minggu setelah menjalani operasi, Myers mengaku merasakan perubahan besar pada tubuhnya. Ia mengatakan jerawatnya mulai menghilang dan kualitas tidurnya membaik.

Ia juga menyebut rambutnya tidak lagi rontok seperti sebelumnya. Perbaikan itu membuatnya merasa kondisi tubuhnya perlahan kembali stabil.

Bagi Myers, perubahan tersebut menjadi tanda bahwa keputusan medis yang diambil membawa hasil positif. Ia tampak lebih lega setelah melewati masa panjang yang penuh rasa sakit dan ketidakpastian.

Kisahnya kini menjadi pengingat bahwa keluhan kesehatan perempuan tidak boleh disepelekan. Selain soal pemulihan fisik, pengalaman Myers juga menyoroti pentingnya kepercayaan dokter terhadap suara pasien.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!