Elyse Myers Ungkap Perjuangan Melawan Nyeri Kronis dan Operasi

Lifestyle Nadia Safira Putri 24 Mei 2026 23:23 WIB 7
Elyse Myers Ungkap Perjuangan Melawan Nyeri Kronis dan Operasi

Konten kreator Elyse Myers kembali menjadi sorotan setelah membagikan pengalaman panjangnya menghadapi nyeri kronis dan gangguan kesehatan reproduksi yang mengubah hidupnya. Dalam potongan video podcast yang kembali ramai pada 3 Mei, kisahnya memicu percakapan luas tentang penanganan medis terhadap keluhan perempuan. Myers mengaku sempat mengalami pendarahan hampir sepanjang tahun sebelum akhirnya menjalani operasi. Ceritanya mendapat perhatian karena banyak perempuan merasa mengalami hal serupa namun sulit memperoleh diagnosis yang tepat.

Dalam podcast tersebut, Myers juga menyinggung respons yang ia terima dari seorang pembawa acara ketika ia bercanda soal rahimnya. Ucapan itu kemudian memantik simpati dan diskusi lebih luas di media sosial, terutama dari perempuan yang pernah mengalami masalah kesehatan serupa. Banyak warganet menuliskan pengalaman tentang rasa sakit yang diabaikan, pemeriksaan yang tertunda, dan minimnya penjelasan medis. Kisah Myers pun dianggap mewakili kegelisahan banyak perempuan muda yang merasa tidak didengar saat berobat.

Nyeri Kronis Elyse Myers

Myers menceritakan bahwa sebelum operasi, tubuhnya berada dalam kondisi yang sangat buruk. Ia mengatakan mengalami pendarahan sekitar 300 hari dalam setahun, disertai mual yang berlangsung terus-menerus. Kondisi itu membuat berat badannya turun drastis karena ia kesulitan makan. Ia juga mengaku pernah pingsan saat mengantre pemeriksaan TSA di bandara.

Keluhan yang berlangsung lama itu membuat aktivitas hariannya terganggu secara signifikan. Myers mengatakan rasa sakitnya tidak sekadar tidak nyaman, tetapi benar-benar melemahkan tubuh. Ia merasa situasinya memburuk dari waktu ke waktu tanpa ada perbaikan yang berarti. Menurutnya, kondisi tersebut membuatnya sulit menjalani rutinitas sebagai ibu dari dua anak kecil.

Pengalaman itu menjadi salah satu alasan ia akhirnya mencari tindakan medis yang lebih serius. Myers menilai apa yang dialaminya bukan keluhan biasa yang bisa diabaikan begitu saja. Ia membutuhkan penanganan yang jelas setelah bertahun-tahun hidup dengan ketidakpastian. Dari situ, keputusan untuk menjalani operasi mulai dipertimbangkan secara matang.

Keputusan Operasi yang Berat

Myers mengaku tidak menyangka akan mendapat saran menjalani histerektomi di usia yang masih tergolong muda. Namun, ia merasa lega ketika akhirnya bertemu dokter yang benar-benar mendengarkan penjelasannya. Baginya, momen itu menjadi titik balik setelah sekian lama merasa tidak dipercaya. Ia menyebut pengalaman tersebut sebagai validasi atas semua keluhan yang selama ini ia alami.

Selama bertahun-tahun, ia merasa setiap kunjungan ke dokter tidak selalu berujung pada jawaban yang memadai. Myers mengatakan dirinya kerap pulang tanpa mendapat keyakinan bahwa rasa sakitnya benar-benar dipahami. Situasi itu membuatnya frustrasi dan lelah secara emosional. Karena itu, pertemuan dengan dokter yang memberi perhatian penuh terasa sangat berarti baginya.

Ia menegaskan bahwa keputusan operasi diambil setelah mempertimbangkan kondisi kesehatan dan rencana keluarga. Myers dan suaminya sudah sepakat untuk tidak menambah anak lagi sebelum tindakan medis dilakukan. Ia kini memiliki dua putra yang masih kecil. Pertimbangan tersebut membuatnya lebih yakin memilih langkah yang menurutnya paling aman untuk tubuhnya.

Akses Medis Perempuan Muda

Dalam pembicaraannya, Myers juga menyoroti tantangan yang kerap dihadapi perempuan muda saat meminta prosedur medis terkait reproduksi. Menurutnya, banyak dokter enggan melakukan tindakan tertentu hanya karena pasien dianggap terlalu muda. Ia menilai penolakan semacam itu bisa membuat perempuan terus hidup dengan rasa sakit yang tidak tertangani. Padahal, keputusan tersebut menyangkut tubuh mereka sendiri.

Myers mengatakan ada banyak kasus ketika perempuan datang dengan permintaan yang jelas, tetapi tetap ditolak. Ia melihat pola itu sebagai bentuk keraguan terhadap keputusan pasien, terutama jika pasien masih berusia muda. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat memperpanjang penderitaan yang sebenarnya bisa ditangani lebih cepat. Ia berharap layanan kesehatan lebih membuka ruang dialog yang setara.

Ia menekankan bahwa pengalaman setiap orang berbeda dan tidak bisa disamaratakan hanya berdasarkan usia. Bagi Myers, keputusan medis seharusnya dibuat dengan mempertimbangkan kondisi klinis, bukan semata asumsi. Ia berharap lebih banyak tenaga kesehatan mendengarkan pasien secara utuh. Sikap itu dinilainya penting agar perempuan tidak merasa sendirian saat mencari pertolongan.

Pulih Setelah Histerektomi

Beberapa minggu setelah menjalani operasi, Myers merasakan perubahan besar pada tubuhnya. Ia mengatakan jerawatnya mulai hilang dan kualitas tidurnya membaik. Rambutnya pun tidak lagi rontok seperti sebelumnya. Perubahan itu membuatnya merasa tubuhnya mulai kembali stabil.

Pemulihan tersebut menjadi kontras dengan kondisi yang ia alami sebelum tindakan dilakukan. Saat masih mengalami pendarahan dan mual berkepanjangan, ia merasa hampir tidak punya energi untuk menjalani hari. Setelah operasi, beban fisik yang selama ini menghantamnya perlahan berkurang. Ia menyebut perubahan itu sebagai sesuatu yang sangat melegakan.

Kisah Myers kemudian menyebar luas karena dianggap membuka percakapan penting tentang kesehatan reproduksi perempuan. Banyak pengguna media sosial menilai pengalamannya menggambarkan sulitnya mencari pengobatan yang tepat ketika keluhan tidak dianggap serius. Cerita itu juga memunculkan dorongan agar perempuan lebih berani menyampaikan gejala yang mereka alami. Di sisi lain, publik kembali diingatkan bahwa nyeri kronis bukan hal yang layak disepelekan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!