Dua Perempuan Nelayan Raih Penghargaan Inspiratif 2025

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 28 Mei 2026 09:16 WIB 2
Dua Perempuan Nelayan Raih Penghargaan Inspiratif 2025

Dua perempuan nelayan dari Maluku Tenggara dan Papua Barat menjadi sorotan setelah berhasil mengubah peran tradisional di pesisir menjadi penggerak ekonomi lokal. Sri Fany Mony dan Nova Theodora J.M Essuruw dinilai mampu menghadirkan manfaat nyata bagi keluarga, komunitas, dan pengelolaan perikanan berkelanjutan.

Keduanya menerima penghargaan perempuan inspiratif 2025 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam ajang bertema Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045. Penghargaan itu menegaskan bahwa perempuan pesisir tidak hanya hadir sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai agen perubahan di wilayahnya.

Perempuan nelayan dan ekonomi pesisir

Sri Fany Mony memulai perjalanannya sebagai ibu rumah tangga tanpa usaha ekonomi yang mapan. Kini, ia memimpin Kelompok Pengolah dan Pemasar Dullah Tama di Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara. Kelompok ini tumbuh menjadi wadah produktif yang menghasilkan olahan ikan dan produk ecoprint. Transformasi tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan dapat mendorong ekonomi pesisir lebih kuat.

Pada 2025, kelompok Dullah Tama mencatat pendapatan Rp 44,1 juta. Angka itu naik sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut tidak hanya mencerminkan kinerja usaha, tetapi juga konsistensi pengelolaan dan pemasaran. Kelompok ini juga aktif membagikan praktik baik di tingkat nasional maupun internasional.

Keberhasilan Fany memperlihatkan bahwa akses pelatihan dan pendampingan dapat membuka peluang usaha baru. Produk olahan hasil laut memberi nilai tambah yang lebih besar daripada menjual ikan mentah. Selain memperkuat pendapatan, kegiatan itu ikut menggerakkan ekonomi keluarga dan komunitas. Dari pesisir, lahir model pemberdayaan yang relevan untuk daerah lain.

Inovasi olahan ikan bernilai tambah

Di Teluk Arguni, Kaimana, Papua Barat, Nova Theodora J.M Essuruw menghadirkan pendekatan berbeda dalam pengelolaan hasil laut. Sebagai pendeta Protestan sekaligus Ketua Wilayah, ia memimpin Kelompok Seraphim Bofuwer untuk memanfaatkan ikan kakap cina secara lebih optimal. Komoditas yang sebelumnya hanya diambil gelembung renangnya kini diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Langkah ini mengubah potensi yang terbuang menjadi sumber pendapatan baru.

Melalui inovasi tersebut, daging ikan kakap cina diolah menjadi abon ikan, sambal, kecap ikan, dan berbagai produk pangan bergizi. Diversifikasi produk membuat pasar menjadi lebih luas dan risiko usaha lebih terkendali. Inisiatif ini juga membantu keluarga pesisir memperoleh sumber pangan yang lebih baik. Dengan cara itu, pengolahan hasil perikanan tidak lagi berhenti pada penjualan bahan mentah.

Produk Seraphim Bofuwer kini menjangkau pasar regional hingga Fakfak, Sorong, Timika, dan Jayapura. Kelompok itu juga meraih Juara 3 Festival Senja Indah Kaimana 2024 serta memperoleh pendampingan BPOM sebagai orang tua asuh UMKM. Capaian tersebut menunjukkan bahwa usaha perempuan pesisir dapat berkembang melalui standar mutu dan jejaring pemasaran yang tepat. Nova menjadi contoh bahwa inovasi lokal dapat menembus pasar yang lebih luas.

Apresiasi bagi perubahan komunitas

Kementerian Kelautan dan Perikanan menilai Sri Fany dan Nova berhasil menghadirkan perubahan nyata di wilayah pesisir. Keduanya tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai penggerak komunitas. Peran itu dinilai sejalan dengan penerapan Ecosystem Approach to Fisheries Management atau EAFM. Pendekatan tersebut mendorong pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan dan inklusif.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif menyebut penghargaan ini menegaskan peran strategis perempuan dalam pembangunan nasional. Menurut dia, proses seleksi dilakukan secara kolaboratif antara KemenPPPA dan KKP. Penilaian mempertimbangkan kepemimpinan perempuan, dampak sosial-ekonomi, serta kontribusi terhadap perikanan berkelanjutan. Dengan demikian, penghargaan tersebut memiliki dasar seleksi yang terukur.

Latif juga menegaskan bahwa penghargaan ini bukan sekadar seremoni. Pengakuan kepada perempuan pesisir diharapkan menjadi dorongan bagi daerah lain untuk memperkuat partisipasi perempuan dalam sektor perikanan. Kehadiran mereka terbukti membawa manfaat langsung bagi keluarga dan komunitas. Di sisi lain, apresiasi publik dapat memperluas ruang bagi perempuan untuk memimpin perubahan.

Program berkelanjutan di timur indonesia

Kedua penerima penghargaan merupakan Champion CFI Indonesia yang berada dalam Project GEF-6 CFI Indonesia. Program ini merupakan hibah kerja sama antara KKP dan WWF-US sebagai Global Environment Facility Agency. Fokusnya adalah memperkuat tata kelola perikanan berkelanjutan di WPP 715, 717, dan 718 di Indonesia Timur. Kerangka itu menempatkan pemberdayaan komunitas sebagai fondasi utama.

Project Manager CFI Indonesia, Adipati Rahmat Gumelar, menegaskan bahwa inisiatif Champion dirancang untuk menjaga keberlanjutan dampak program. Para Champion disiapkan sebagai agen perubahan yang dapat melanjutkan misi CFI, KKP, dan GEF setelah proyek berakhir. Mereka dibekali kemampuan untuk menguatkan komunitas, mengembangkan mata pencaharian alternatif, dan menerapkan praktik perikanan berkelanjutan. Dengan model ini, dampak program diharapkan tidak berhenti pada masa proyek.

Sejak dimulai pada Desember 2019 hingga 2026, Project GEF-6 CFI Indonesia telah menjangkau lebih dari 5.500 nelayan. Sekitar 32 persen di antaranya adalah perempuan nelayan. Program itu mencakup pelatihan pengolahan hasil perikanan, kerajinan ecoprint, manajemen usaha, sertifikasi produk, penguatan merek, dan kemitraan dengan pasar modern. Produk kelompok binaan kini telah dipasarkan di lebih dari 10 jaringan ritel modern di Maluku dan Papua Barat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!