Dua Perempuan Nelayan Ini Dorong Ekonomi Pesisir Maluku Papua

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 25 Mei 2026 00:09 WIB 7
Dua Perempuan Nelayan Ini Dorong Ekonomi Pesisir Maluku Papua

Dua perempuan nelayan asal Maluku Tenggara dan Papua Barat menjadi sorotan setelah berhasil mengubah peran mereka dari penggerak keluarga menjadi pelaku usaha pesisir yang berdampak luas. Keduanya adalah Sri Fany Mony dan Nova Theodora J.M Essuruw, yang dinilai memberi kontribusi nyata bagi ekonomi daerah sekaligus pengelolaan perikanan berkelanjutan.

Penghargaan perempuan inspiratif 2025 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menegaskan bahwa perempuan pesisir memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Melalui inovasi usaha, pengolahan hasil laut, dan penguatan komunitas, keduanya ikut memperkuat agenda ekonomi biru di Indonesia timur.

Perempuan Nelayan Pesisir

Sri Fany Mony berasal dari Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara, dan dikenal sebagai Ketua Kelompok Pengolah dan Pemasar Dullah Tama. Dari ibu rumah tangga tanpa usaha ekonomi, ia bertransformasi menjadi pemimpin kelompok produktif yang mengolah ikan dan ecoprint.

Perubahan itu tidak terjadi dalam waktu singkat, melainkan melalui proses pemberdayaan yang konsisten di tingkat komunitas. Fany kemudian mendorong perempuan pesisir untuk terlibat aktif dalam kegiatan ekonomi yang bernilai tambah.

Kelompok Dullah Tama mencatat pendapatan Rp 44,1 juta pada 2025, naik sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas perempuan dapat berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga pesisir.

Selain menghasilkan pendapatan, kelompok tersebut juga aktif berbagi praktik baik di tingkat nasional hingga internasional. Aktivitas itu membuat Dullah Tama dikenal sebagai salah satu contoh keberhasilan pemberdayaan perempuan nelayan di Maluku Tenggara.

Inovasi Olahan Hasil Laut

Di Papua Barat, Nova Theodora J.M Essuruw menghadirkan pendekatan berbeda dalam mengelola sumber daya perikanan di Teluk Arguni, Kaimana. Ia merupakan pendeta Protestan sekaligus Ketua Wilayah yang memimpin Kelompok Seraphim Bofuwer.

Nova melihat potensi ikan kakap cina yang selama ini kurang dimanfaatkan optimal oleh masyarakat. Melalui kelompoknya, bagian daging ikan yang kerap terbuang diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Beragam produk seperti abon ikan, sambal, kecap ikan, dan olahan pangan lain lahir dari inisiatif tersebut. Langkah ini tidak hanya mengurangi pemborosan sumber daya perikanan, tetapi juga meningkatkan ketahanan pangan keluarga.

Inovasi itu turut membuka peluang pendapatan baru bagi perempuan pesisir di Kaimana. Dengan demikian, aktivitas pengolahan hasil laut tidak lagi sekadar konsumsi rumah tangga, melainkan menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan.

Dampak Ekonomi Daerah

Produk Seraphim Bofuwer kini menjangkau pasar regional hingga Fakfak, Sorong, Timika, dan Jayapura. Jangkauan pasar yang semakin luas menunjukkan bahwa produk pesisir dapat bersaing jika dikelola dengan baik.

Kelompok tersebut juga meraih Juara 3 Festival Senja Indah Kaimana 2024. Selain itu, mereka mendapat pendampingan BPOM sebagai orang tua asuh UMKM untuk memperkuat mutu dan keamanan produk.

Pendampingan itu menjadi penting karena membuka akses yang lebih kuat ke jaringan pemasaran modern. Dengan dukungan tersebut, perempuan nelayan memiliki peluang lebih besar untuk naik kelas sebagai pelaku usaha.

Dalam prosesnya, pengembangan usaha juga mendorong lahirnya rantai nilai baru di wilayah pesisir. Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh anggota kelompok, tetapi juga oleh ekonomi lokal di sekitarnya.

Pengakuan dan Keberlanjutan

Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut Sri Fany dan Nova sebagai perempuan yang menghadirkan perubahan nyata di wilayah pesisir. Keduanya dinilai bukan hanya pelaku ekonomi, tetapi juga penggerak komunitas dan pelopor penerapan EAFM.

Penghargaan perempuan inspiratif 2025 diberikan melalui proses seleksi kolaboratif antara KemenPPPA dan KKP. Penilaian mempertimbangkan kepemimpinan perempuan, dampak sosial-ekonomi, serta kontribusi pada perikanan berkelanjutan.

Kedua penerima penghargaan merupakan Champion CFI Indonesia yang terhubung dengan Project GEF-6 CFI Indonesia. Program ini berfokus pada penguatan tata kelola perikanan berkelanjutan di WPP 715, 717, dan 718 di Indonesia timur.

Sejak dimulai pada 2019, program tersebut telah menjangkau lebih dari 5.500 nelayan, dengan sekitar 32 persen di antaranya perempuan. Capaian itu memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan pesisir menjadi bagian penting dari ekonomi biru Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!