Dolar Menguat, Trafik Mal Jakarta Turun Saat Daya Beli Tertekan

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 26 Mei 2026 00:18 WIB 2
Dolar Menguat, Trafik Mal Jakarta Turun Saat Daya Beli Tertekan

Nilai tukar dolar Amerika Serikat yang terus menguat terhadap rupiah mulai terasa dampaknya pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Kenaikan harga barang dan jasa, di saat gaji cenderung stagnan, membuat banyak pekerja semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.

Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menyebut masyarakat kini cenderung mengurangi belanja dan makan di mal. Ia menilai tekanan daya beli membuat trafik pusat perbelanjaan di Jakarta turun pada hari kerja, meski akhir pekan masih relatif kuat.

Dolar dan tekanan belanja

Ellen menilai penguatan dolar AS telah memicu kenaikan harga di banyak sektor. Menurut dia, kondisi itu membuat masyarakat semakin menahan konsumsi.

Ia menyebut nilai dolar AS kini berada di kisaran Rp 17.000 dan nyaris menyentuh Rp 18.000. Situasi tersebut, kata dia, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perilaku belanja masyarakat.

Di tengah kondisi itu, pekerja kantoran cenderung mengurangi frekuensi makan di luar rumah. Sebagian memilih membawa bekal demi menekan pengeluaran harian.

Pengunjung mal saat weekdays

APPBI DPD DKI Jakarta mencatat trafik pusat perbelanjaan di Jakarta turun sekitar 15 persen hingga 20 persen pada hari kerja. Penurunan terutama terlihat pada jam makan siang dan hari-hari aktif perkantoran.

Ellen menjelaskan, banyak karyawan yang sebelumnya rutin makan di pusat belanja kini hanya datang satu atau dua kali dalam seminggu. Perubahan kebiasaan itu berdampak langsung pada jumlah kunjungan di mal.

Ia menilai fenomena tersebut berkaitan dengan upaya masyarakat menjaga keuangan di tengah harga kebutuhan yang meningkat. Kondisi ini menunjukkan daya beli belum pulih sepenuhnya.

Akhir pekan tetap stabil

Meski trafik hari kerja melemah, kunjungan ke pusat perbelanjaan pada akhir pekan masih terjaga. Bahkan, Ellen menyebut ada kecenderungan peningkatan pada Sabtu dan Minggu.

Menurut dia, kunjungan keluarga menjadi penopang utama aktivitas mal pada akhir pekan. Pola ini membuat pusat perbelanjaan tetap memiliki daya tarik di tengah tekanan ekonomi.

Ia menambahkan, mal tetap menjadi ruang hiburan bagi anak-anak dan keluarga. Karena itu, pengelola pusat belanja perlu menjaga pengalaman pengunjung agar tetap menarik untuk didatangi kembali.

Strategi mal jaga kunjungan

Ellen menilai daya tarik untuk anak-anak menjadi salah satu kunci mempertahankan trafik mal. Jika anak merasa senang, orang tua cenderung kembali datang ke pusat perbelanjaan yang sama.

Ia mengatakan pengelola perlu memperkuat unsur hiburan dan kenyamanan agar pengunjung tidak mudah berpindah ke tempat lain. Strategi itu dinilai penting ketika masyarakat sedang menahan belanja.

Di sisi lain, kondisi penguatan dolar dan tekanan daya beli diperkirakan masih akan memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Dengan demikian, pelaku ritel perlu membaca perubahan perilaku konsumen secara lebih cermat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!