Dokter Ingatkan Risiko Makanan Olahan, Real Food Tetap Utama

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 21:21 WIB 2
Dokter Ingatkan Risiko Makanan Olahan, Real Food Tetap Utama

Sarden kalengan kembali menjadi sorotan setelah sebagian pihak menilai produk itu bukan Ultra Processed Food atau UPF. Namun, praktisi kesehatan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH menegaskan bahwa pilihan paling sehat tetaplah real food.

Pernyataan itu disampaikan dr Aru dalam perbincangan dengan detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026. Ia menilai makanan olahan tetap menyimpan risiko karena proses pembuatannya tidak selalu diketahui secara utuh oleh konsumen.

Real food lebih aman

Menurut dr Aru, makanan yang paling sehat adalah real food karena berasal dari bahan yang lebih alami. Ia menilai konsumen bisa lebih memahami apa yang dikonsumsi ketika memilih bahan pangan segar. Sebaliknya, makanan olahan kerap dibuat melalui proses yang panjang. Proses itu dapat melibatkan campuran bahan tambahan yang tidak selalu jelas bagi masyarakat.

Ia menekankan bahwa keamanan pangan tidak hanya ditentukan oleh label atau klaim produk. Meski ada regulasi, potensi penyimpangan dalam proses produksi tetap bisa terjadi. Kondisi itu membuat masyarakat perlu lebih cermat saat memilih makanan harian. Dalam pandangannya, kehati-hatian menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan.

Dr Aru juga menilai kebiasaan mengandalkan makanan olahan berisiko jika dilakukan terus-menerus. Ia mengaitkan pola konsumsi modern dengan meningkatnya masalah kesehatan metabolik. Menurut dia, penyakit seperti hipertensi dan diabetes kini banyak muncul pada usia muda. Situasi tersebut, kata dia, perlu menjadi perhatian serius.

Ia menambahkan bahwa pola makan saat ini berkontribusi pada naiknya angka kesakitan di kelompok usia produktif. Banyak orang baru berusia 30 tahun sudah mengalami gangguan metabolik. Kondisi itu menunjukkan adanya perubahan besar dalam gaya hidup masyarakat. Karena itu, pilihan makan sehari-hari dinilai tidak bisa dianggap sepele.

Olahan dan risiko kesehatan

Dr Aru menjelaskan, makanan olahan biasanya mengandung bahan tambahan yang sulit dipastikan tingkat keamanannya oleh konsumen. Walau pengawasan pemerintah tetap ada, risiko tetap mungkin muncul dalam praktik produksi. Ia menilai hal ini menjadi alasan mengapa masyarakat tidak boleh terlalu bergantung pada produk olahan. Kesehatan jangka panjang harus menjadi pertimbangan utama.

Ia mengingatkan bahwa tubuh manusia merespons kebiasaan makan dalam jangka waktu lama. Jika makanan olahan dikonsumsi terlalu sering, maka beban metabolik bisa meningkat. Dalam kondisi tertentu, hal itu dapat memicu penyakit tidak menular. Karena itu, keseimbangan pola makan menjadi hal yang penting.

Menurutnya, kenaikan kasus diabetes usia muda dan hipertensi usia muda tidak bisa dilepaskan dari perubahan pola hidup. Aktivitas yang padat sering membuat orang memilih makanan cepat saji atau produk siap konsumsi. Pilihan praktis ini memang memudahkan, tetapi tidak selalu terbaik bagi tubuh. Konsistensi terhadap asupan sehat perlu dijaga sejak dini.

Ia menilai masyarakat perlu memahami bahwa sehat bukan hanya soal kenyang dan mudah didapat. Kandungan gizi, proses pengolahan, dan frekuensi konsumsi sama-sama berpengaruh. Karena itu, makanan olahan sebaiknya ditempatkan sebagai pilihan sesekali, bukan kebutuhan utama. Dengan demikian, risiko kesehatan dapat ditekan secara lebih baik.

Kebiasaan praktis sehari-hari

Meski menekankan pentingnya real food, dr Aru mengakui tidak semua orang mudah menjalankannya setiap hari. Kesibukan kerja membuat banyak orang tidak sempat berbelanja bahan segar. Sebagian juga tidak memiliki waktu untuk memasak sendiri. Akhirnya, makanan olahan menjadi pilihan yang dianggap paling realistis.

Ia memahami bahwa kondisi tersebut kerap tidak bisa dihindari. Dalam kehidupan modern, tuntutan pekerjaan dan mobilitas tinggi membuat orang mencari solusi cepat. Makanan olahan pun menjadi opsi yang paling mudah dijangkau. Namun, kemudahan itu tetap perlu diimbangi dengan kesadaran akan risikonya.

Menurut dr Aru, langkah kecil tetap bisa dilakukan untuk menjaga pola makan yang lebih sehat. Misalnya dengan menambah porsi sayur, buah, dan bahan makanan segar saat sempat. Konsumen juga bisa membatasi frekuensi konsumsi produk siap saji. Upaya sederhana seperti itu dapat membantu menurunkan ketergantungan pada makanan olahan.

Ia menegaskan bahwa tidak semua makanan praktis harus dihindari sepenuhnya. Akan tetapi, masyarakat perlu menempatkannya secara proporsional dalam menu harian. Jika tersedia waktu, real food tetap menjadi pilihan yang lebih baik. Prinsip itu dinilai paling masuk akal untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

Perlu lebih bijak memilih

Perdebatan soal sarden kalengan menunjukkan bahwa masyarakat semakin peduli pada kualitas pangan. Di sisi lain, istilah UPF dan makanan olahan kerap menimbulkan penafsiran berbeda. Dr Aru mengingatkan agar fokus utama tetap pada dampak kesehatannya. Menurutnya, yang paling penting adalah memahami apa yang benar-benar masuk ke tubuh.

Ia menilai kesadaran publik perlu diarahkan pada kebiasaan memilih makanan secara lebih bijak. Label sehat tidak selalu berarti aman jika dikonsumsi berlebihan. Begitu pula makanan yang praktis tidak otomatis menjadi pilihan terbaik. Karena itu, literasi gizi menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat modern.

Dalam kondisi ideal, pola makan seharusnya lebih banyak bertumpu pada bahan pangan alami. Bahan segar memberi peluang kontrol yang lebih baik atas kualitas gizi dan kebersihan. Sementara itu, makanan olahan bisa menjadi cadangan saat keadaan benar-benar mendesak. Pendekatan ini dianggap lebih seimbang dan realistis.

Dr Aru menutup penjelasannya dengan pesan sederhana, yakni jangan menukar kesehatan dengan kepraktisan semata. Ia menilai pilihan makan hari ini akan berdampak pada kondisi tubuh di masa depan. Karena itu, masyarakat perlu menjadikan real food sebagai acuan utama. Jika harus memilih makanan olahan, frekuensinya sebaiknya tetap dibatasi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!