Dokter Ingatkan Real Food Tetap Lebih Sehat daripada Olahan

Lifestyle Anindya Kirana Putri 30 Mei 2026 01:04 WIB 4
Dokter Ingatkan Real Food Tetap Lebih Sehat daripada Olahan

Sarden kalengan kembali menjadi perbincangan setelah sebagian pihak menilai produk tersebut bukan ultra processed food atau UPF. Namun, praktisi kesehatan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa pilihan paling sehat tetaplah real food.

Dalam perbincangan dengan detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026, dr Aru menjelaskan bahwa makanan olahan tetap menyimpan risiko karena proses pembuatannya tidak selalu diketahui secara utuh. Ia menilai, di tengah gaya hidup serba cepat, masyarakat memang kerap dipaksa memilih makanan yang praktis.

Real food dan risiko olahan

Menurut dr Aru, makanan olahan umumnya dibuat dengan campuran bahan tambahan yang tidak selalu bisa dikontrol keamanannya. Meski ada regulasi, potensi penyimpangan dalam proses produksi tetap bisa terjadi.

Ia menilai, kondisi itu membuat real food tetap unggul dari sisi keamanan dan kualitas gizi. Bahan pangan segar dinilai lebih mudah dipahami kandungannya oleh konsumen.

Dr Aru juga menekankan bahwa masyarakat sebaiknya tidak hanya melihat kenyamanan saat membeli makanan. Pemahaman terhadap asal, proses, dan komposisi makanan menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan.

Dalam pandangannya, semakin sederhana proses pengolahan, semakin kecil pula ketidakpastian yang melekat pada produk tersebut. Karena itu, ia menyarankan agar masyarakat lebih selektif ketika memilih makanan harian.

Penyakit metabolik kian muda

Dr Aru menyoroti tren meningkatnya kasus penyakit metabolik pada usia produktif. Menurut dia, kini banyak orang berusia 30-an sudah mengalami hipertensi dan diabetes.

Ia menyebut fenomena itu sebagai sinyal bahwa pola hidup modern membawa dampak nyata bagi kesehatan masyarakat. Angka kesakitan pada kelompok usia muda pun dinilai semakin tinggi.

Dalam penjelasannya, kejadian diabetes usia muda dan hipertensi usia muda kini lebih sering ditemukan dibanding sebelumnya. Situasi ini, kata dia, tidak bisa dilepaskan dari perubahan pola makan dan gaya hidup.

Karena itu, ia menilai edukasi gizi perlu diperkuat sejak dini. Masyarakat perlu memahami bahwa kebiasaan makan hari ini akan berdampak pada kondisi tubuh di masa depan.

Kesibukan dorong pilihan praktis

Meski menyarankan real food, dr Aru mengakui bahwa penerapannya tidak selalu mudah. Kesibukan membuat banyak orang tidak sempat berbelanja dan memasak sendiri.

Akibatnya, makanan olahan sering menjadi pilihan karena lebih praktis dan cepat disajikan. Dalam kehidupan urban, kebutuhan efisiensi kerap mengalahkan idealisme pola makan sehat.

Ia memahami bahwa tidak semua orang memiliki waktu dan tenaga untuk selalu menyiapkan makanan segar. Kondisi itu membuat konsumsi pangan praktis sulit dihindari sepenuhnya.

Namun, ia mengingatkan agar pilihan praktis tetap diimbangi dengan pertimbangan kesehatan. Konsumen disarankan tetap membaca label dan membatasi makanan yang terlalu banyak diproses.

Langkah bijak pilih makanan

Untuk mengurangi ketergantungan pada makanan olahan, dr Aru menyarankan masyarakat mulai dari langkah sederhana. Salah satunya adalah menambah porsi bahan pangan segar dalam menu harian.

Pilihan seperti sayur, buah, sumber protein segar, dan makanan rumahan dinilai bisa menjadi dasar pola makan yang lebih sehat. Dengan begitu, konsumsi produk olahan dapat ditekan tanpa harus mengubah semuanya sekaligus.

Ia menambahkan, kebiasaan kecil yang dilakukan konsisten akan lebih mudah dijalankan daripada perubahan ekstrem. Pola makan yang baik perlu disesuaikan dengan ritme hidup masing-masing orang.

Pada akhirnya, dr Aru menegaskan bahwa real food tetap menjadi acuan terbaik bagi kesehatan jangka panjang. Makanan praktis boleh saja dikonsumsi, tetapi keseimbangan dan kehati-hatian tetap diperlukan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!