Dokter Ingatkan Real Food Lebih Sehat daripada Makanan Olahan

Lifestyle Clara Monica 22 Mei 2026 16:26 WIB 5
Dokter Ingatkan Real Food Lebih Sehat daripada Makanan Olahan

Sarden kalengan kembali menjadi sorotan setelah sebagian pihak menilai produk tersebut bukan ultra processed food atau UPF. Namun, praktisi kesehatan menegaskan bahwa bila berbicara soal pilihan paling sehat, real food tetap lebih unggul dibanding makanan olahan.

Hal itu disampaikan praktisi kesehatan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dalam perbincangan dengan detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026. Ia menilai bahan pangan yang diproses umumnya menyimpan banyak ketidakpastian dari sisi bahan tambahan maupun cara pembuatannya.

Real food dan makanan olahan

Menurut dr Aru, real food merupakan pilihan yang paling aman dan paling layak diutamakan dalam pola makan harian. Ia menilai, semakin sedikit proses yang dilakukan pada bahan makanan, semakin kecil pula peluang munculnya risiko yang tidak diinginkan.

Ia menjelaskan bahwa makanan olahan biasanya memakai campuran atau tambahan bahan yang tidak selalu mudah dikontrol keamanannya. Meski ada regulasi, peluang terjadinya penyimpangan tetap ada dan dapat berdampak pada kesehatan.

Karena itu, masyarakat disarankan lebih cermat membaca komposisi makanan sebelum membeli produk kemasan. Langkah sederhana ini dapat membantu membedakan mana pilihan yang lebih mendekati bahan pangan utuh dan mana yang sudah banyak melalui proses industri.

Dr Aru menekankan bahwa kebiasaan memilih makanan yang lebih alami bukan berarti harus selalu sempurna. Namun, bila tersedia pilihan yang lebih segar dan minim proses, opsi tersebut sebaiknya didahulukan.

Dampak kesehatan semakin nyata

Dr Aru menyoroti tren meningkatnya kasus penyakit metabolik pada usia muda. Ia menyebut, kondisi seperti hipertensi dan diabetes kini tidak lagi identik dengan usia lanjut.

Menurutnya, orang berusia 30-an sudah banyak yang mengalami gangguan metabolik. Situasi itu menunjukkan bahwa risiko kesehatan kini muncul lebih cepat dibanding generasi sebelumnya.

Ia juga menyebut angka kesakitan pada anak muda cenderung meningkat. Kasus diabetes usia muda dan hipertensi usia muda menjadi contoh yang perlu diwaspadai.

Fenomena tersebut, kata dia, menjadi pengingat bahwa pola makan memiliki peran besar terhadap kesehatan jangka panjang. Pilihan makanan yang terlalu sering diproses dapat menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi tersebut.

Gaya hidup sibuk jadi kendala

Meski mengutamakan real food dianggap ideal, dr Aru mengakui penerapannya tidak selalu mudah. Kesibukan membuat banyak orang tidak sempat berbelanja bahan segar maupun memasak sendiri di rumah.

Dalam kondisi seperti itu, makanan olahan sering menjadi pilihan yang paling praktis. Ia memahami bahwa kebutuhan sehari-hari kerap menuntut orang memilih solusi yang cepat dan mudah dijangkau.

Namun, kemudahan tersebut sebaiknya tetap diimbangi dengan kesadaran gizi. Masyarakat disarankan mencari keseimbangan antara kepraktisan dan kualitas makanan yang dikonsumsi.

Jika harus memilih produk kemasan, masyarakat dapat memprioritaskan makanan dengan bahan yang sederhana dan minim tambahan. Langkah ini dinilai lebih baik daripada mengandalkan produk yang terlalu banyak melalui proses produksi.

Pilihan makan yang lebih bijak

Dr Aru mengingatkan bahwa perubahan pola makan tidak harus dilakukan secara drastis. Langkah kecil, seperti menambah porsi sayur, buah, dan bahan pangan segar, sudah memberi dampak positif bagi kesehatan.

Ia menilai kebiasaan makan yang lebih bijak perlu dibangun secara bertahap agar bisa bertahan dalam jangka panjang. Dengan begitu, masyarakat tetap bisa menjalani rutinitas tanpa mengabaikan kualitas asupan.

Di sisi lain, pemahaman tentang makanan olahan juga perlu diperluas agar masyarakat tidak mudah terkecoh oleh label kesehatan. Informasi yang jelas akan membantu publik membuat keputusan yang lebih tepat saat berbelanja.

Pada akhirnya, dr Aru menegaskan bahwa real food tetap menjadi pilihan terbaik jika ingin menjaga tubuh tetap sehat. Sementara makanan olahan sebaiknya ditempatkan sebagai solusi praktis, bukan sebagai andalan utama dalam pola makan harian.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!