Daya Beli Melemah, Trafik Pusat Perbelanjaan Jakarta Turun

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 26 Mei 2026 01:10 WIB 2
Daya Beli Melemah, Trafik Pusat Perbelanjaan Jakarta Turun

Pusat perbelanjaan di Jakarta mengalami penurunan jumlah pengunjung seiring melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok, yang disebut semakin terasa setelah rupiah melemah terhadap dolar AS.

Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menyebut tekanan harga membuat konsumen menahan belanja. Trafik kunjungan di mal pada hari kerja pun turun, meski akhir pekan masih menunjukkan aktivitas yang cukup kuat.

Daya Beli Tekan Pusat Belanja

Ellen Hidayat menilai pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga barang di masyarakat. Ia menyebut banyak komoditas naik, sehingga beban pengeluaran rumah tangga ikut membesar.

Menurut dia, perubahan harga itu terjadi pada berbagai kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

Di pusat perbelanjaan Jakarta, dampaknya mulai terlihat dari turunnya kunjungan pada hari kerja. Penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa konsumsi masyarakat sedang berada dalam tekanan.

Harga Naik, Konsumen Menahan Belanja

Ellen mencontohkan kenaikan harga buah naga dari Rp25.000 menjadi Rp40.000 per kilogram. Ia juga menyoroti biaya gas rumah tangga yang naik dari Rp210.000 menjadi Rp250.000.

Menurutnya, kenaikan di satu sektor biasanya diikuti oleh kenaikan pada komoditas lain. Buah-buahan, sayuran, dan kebutuhan rumah tangga lain ikut terdorong naik.

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat dengan pendapatan tetap menjadi kelompok yang paling terdampak. Gaji yang tidak berubah membuat daya beli semakin terbatas.

Traffik Weekdays Turun Signifikan

APPBI DPD DKI Jakarta mencatat trafik pengunjung pusat belanja di hari kerja turun sekitar 15 hingga 20 persen. Penurunan itu terutama terlihat pada mal-mal di wilayah ibu kota.

Meski demikian, kunjungan pada akhir pekan tetap berada pada level yang tinggi. Bahkan, pada sejumlah pusat perbelanjaan, trafik weekend disebut lebih baik dari biasanya.

Ellen menyebut pola tersebut terlihat agak janggal, tetapi sebenarnya masih dapat dijelaskan oleh perilaku belanja masyarakat. Banyak konsumen memilih menunda kunjungan hingga akhir pekan ketika waktu luang lebih tersedia.

Weekend Tetap Jadi Andalan

Di tengah tekanan ekonomi, akhir pekan menjadi penopang utama bagi pusat perbelanjaan. Pada periode ini, masyarakat cenderung datang untuk rekreasi sekaligus berbelanja seperlunya.

Menurut Ellen, kondisi ini menunjukkan perubahan pola konsumsi yang lebih selektif. Konsumen kini lebih fokus pada kebutuhan penting dan menyesuaikan pengeluaran dengan situasi harga.

Ia berharap stabilitas nilai tukar dapat membantu meredam kenaikan harga barang. Dengan daya beli yang membaik, trafik pusat perbelanjaan di Jakarta berpotensi kembali pulih secara lebih merata.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!