Daya Beli Melemah, Trafik Pusat Perbelanjaan Jakarta Turun

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 24 Mei 2026 22:04 WIB 6
Daya Beli Melemah, Trafik Pusat Perbelanjaan Jakarta Turun

Sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta menghadapi tekanan akibat melemahnya daya beli masyarakat, seiring kenaikan harga kebutuhan harian dan pelemahan rupiah. Kondisi ini disebut membuat trafik pengunjung pada hari kerja turun sekitar 15 hingga 20 persen.

Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menyampaikan situasi tersebut di Lippo Mall Nusantara, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026). Ia menilai kenaikan harga sejumlah komoditas membuat masyarakat, terutama pekerja berpenghasilan tetap, lebih menahan belanja.

Pusat Perbelanjaan Terseret Daya Beli

Ellen menilai tekanan terhadap pusat perbelanjaan tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi rumah tangga. Harga barang kebutuhan yang naik membuat konsumen lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Akibatnya, kunjungan ke mal pada hari kerja ikut melandai.

Menurutnya, masyarakat kini merasakan kenaikan harga pada banyak komoditas, mulai dari bahan pangan hingga kebutuhan energi. Situasi itu terjadi di tengah nilai tukar dolar AS yang disebut sudah berada di kisaran Rp 17.000. Kondisi tersebut menambah beban pengeluaran harian masyarakat.

Ia menambahkan, pelemahan daya beli paling terasa di kalangan pekerja dengan pendapatan tetap. Saat gaji tidak mengalami perubahan, sementara harga terus naik, ruang belanja menjadi semakin sempit. Hal ini tercermin dari penurunan trafik di pusat perbelanjaan Jakarta.

Pusat Perbelanjaan dan Harga Naik

Ellen mencontohkan kenaikan harga buah naga yang sebelumnya dibeli Rp 25.000 per kilogram menjadi Rp 40.000 per kilogram. Ia juga menyebut harga gas rumah tangga yang dahulu sekitar Rp 210.000 kini naik menjadi Rp 250.000. Kenaikan itu, menurutnya, menggambarkan tekanan biaya hidup yang dirasakan masyarakat.

Ia menilai lonjakan harga tidak hanya terjadi pada buah-buahan, tetapi juga merembet ke sayur-sayuran dan kebutuhan lain. Karena itu, konsumsi rumah tangga cenderung lebih tertahan. Pola ini berdampak langsung pada aktivitas belanja di pusat perbelanjaan.

Dalam pandangannya, kenaikan harga yang berlangsung beruntun membuat masyarakat menyesuaikan prioritas pengeluaran. Belanja nonesensial menjadi pilihan terakhir ketika kebutuhan pokok semakin mahal. Di sisi lain, pelaku usaha ritel harus menghadapi perubahan perilaku konsumen tersebut.

Pusat Perbelanjaan Saat Hari Kerja

APPBI DPD DKI Jakarta mencatat penurunan trafik pengunjung pada hari kerja sekitar 15 hingga 20 persen. Penurunan itu terutama terasa di pusat perbelanjaan yang mengandalkan kunjungan rutin dari pekerja dan keluarga. Aktivitas belanja cenderung bergeser ke akhir pekan.

Meski begitu, kunjungan pada akhir pekan masih terjaga dan bahkan cenderung meningkat. Ellen menyebut kondisi ini sebagai fenomena yang terlihat berbeda, tetapi tidak sepenuhnya aneh. Konsumen tampak memilih waktu yang lebih longgar untuk berbelanja.

Menurutnya, perubahan pola kunjungan tersebut menjadi penyesuaian alami di tengah tekanan ekonomi. Hari kerja dipakai untuk menahan pengeluaran, sedangkan akhir pekan dimanfaatkan untuk kebutuhan yang benar-benar penting. Tren ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola pusat belanja.

Pusat Perbelanjaan Menunggu Pemulihan

Pengelola pusat perbelanjaan kini menanti perbaikan daya beli agar trafik pengunjung kembali stabil. Pemulihan tersebut sangat bergantung pada kestabilan harga bahan pokok dan pergerakan nilai tukar rupiah. Jika tekanan biaya hidup mereda, konsumsi masyarakat berpeluang membaik.

Ellen menilai kondisi ekonomi yang lebih stabil akan membantu mendorong belanja masyarakat di mal. Ia juga berharap harga komoditas tidak terus mengalami lonjakan yang memberatkan rumah tangga. Dengan demikian, minat kunjungan ke pusat perbelanjaan dapat pulih secara bertahap.

Di tengah situasi yang belum pasti, pelaku ritel dituntut menjaga pengalaman berbelanja agar tetap menarik. Strategi promosi, penguatan tenant, dan penyesuaian program belanja menjadi penting untuk mempertahankan kunjungan. Namun, faktor utama pemulihan tetap berada pada kemampuan belanja masyarakat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!