Daya Beli Melemah, Trafik Pusat Belanja Jakarta Turun

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 23 Mei 2026 12:42 WIB 6
Daya Beli Melemah, Trafik Pusat Belanja Jakarta Turun

Pusat perbelanjaan di Jakarta mengalami penurunan jumlah pengunjung seiring melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas, yang ikut terdampak oleh pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menyebut trafik pengunjung pada hari kerja turun sekitar 15 hingga 20 persen. Meski demikian, kunjungan pada akhir pekan masih terjaga, bahkan cenderung lebih tinggi dari biasanya.

Daya Beli Tekan Pusat Belanja

Ellen Hidayat menilai pelemahan rupiah telah memicu kenaikan harga di masyarakat. Ia menyebut nilai dolar AS yang sempat mendekati Rp 18.000 menjadi perhatian karena berdampak luas pada biaya hidup. Menurutnya, kenaikan harga terjadi pada berbagai kebutuhan, mulai dari bahan pangan hingga energi rumah tangga. Situasi tersebut kemudian berimbas pada perilaku belanja masyarakat di pusat perbelanjaan.

Ia mencontohkan harga buah naga yang sebelumnya sekitar Rp 25.000 per kilogram kini naik menjadi Rp 40.000. Harga gas rumah tangga juga disebut bergerak dari Rp 210.000 menjadi Rp 250.000. Ellen menilai lonjakan harga tersebut menunjukkan tekanan biaya hidup yang semakin terasa. Kenaikan itu, kata dia, tidak hanya terjadi pada satu komoditas, melainkan merembet ke banyak kebutuhan lain.

Akibat kondisi tersebut, masyarakat dengan pendapatan tetap cenderung menahan pengeluaran. Ellen menyebut kelompok pekerja menjadi salah satu yang paling merasakan tekanan karena gaji tidak mengalami penyesuaian seiring kenaikan harga. Pola belanja pun berubah, terutama untuk kebutuhan yang dianggap tidak mendesak. Hal ini pada akhirnya ikut menekan jumlah pengunjung di pusat belanja Jakarta.

Harga Komoditas Kian Menguat

Menurut Ellen, kenaikan harga bahan pangan menjadi salah satu pemicu utama pelemahan konsumsi. Buah-buahan disebut mengalami lonjakan harga, dan kondisi serupa juga merambat ke sayur-sayuran. Ia menilai tren tersebut tidak berdiri sendiri, karena dipengaruhi oleh berbagai komponen biaya yang ikut naik. Dampaknya terasa langsung di tingkat rumah tangga.

Tekanan harga juga muncul dari kebutuhan energi yang digunakan sehari-hari. Ellen menyebut biaya gas rumah tangga telah mengalami kenaikan cukup besar dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini membuat pengeluaran bulanan masyarakat semakin berat. Ketika kebutuhan pokok naik bersamaan, ruang belanja untuk kebutuhan sekunder menjadi lebih sempit.

Ellen menegaskan bahwa kenaikan harga yang terus berlangsung membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang. Perubahan perilaku ini terlihat dari berkurangnya kunjungan pada hari kerja. Pusat belanja pun merasakan efek perlambatan transaksi di sejumlah tenant. Meski begitu, ia menilai situasi tersebut masih dalam batas yang dapat dipantau.

Trafik Weekdays Turun Tajam

APPBI DPD DKI Jakarta mencatat trafik pusat perbelanjaan pada hari kerja turun sekitar 15 hingga 20 persen. Penurunan ini dinilai cukup konsisten di sejumlah pusat belanja di Ibu Kota. Ellen mengatakan pelemahan itu berkaitan erat dengan daya beli yang belum pulih. Situasi tersebut membuat aktivitas belanja pada weekdays menjadi lebih lesu.

Meski kunjungan menurun pada hari kerja, kondisi pada akhir pekan justru berbeda. Ellen menyebut trafik pengunjung pada Sabtu dan Minggu masih cukup tinggi. Dalam beberapa kasus, jumlah pengunjung bahkan lebih besar dari biasanya. Pola ini menunjukkan masyarakat cenderung menunda belanja hingga waktu luang di akhir pekan.

Perbedaan antara weekdays dan weekend disebut Ellen sebagai fenomena yang tampak janggal, tetapi sebenarnya dapat dijelaskan. Masyarakat memilih datang saat memiliki lebih banyak waktu dan kesempatan untuk membandingkan harga. Strategi itu membantu mereka tetap berbelanja tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan pada hari kerja. Karena itu, pusat belanja masih memiliki potensi keramaian pada waktu tertentu.

Prospek Pusat Belanja Jakarta

Di tengah tekanan daya beli, pengelola pusat belanja dituntut menjaga minat konsumen. Program promosi dan penyesuaian kegiatan disebut menjadi salah satu cara untuk menarik pengunjung. Namun, Ellen menilai langkah tersebut tetap bergantung pada kondisi ekonomi masyarakat. Jika harga kebutuhan pokok terus naik, upaya menarik trafik akan semakin menantang.

Ia menambahkan bahwa kestabilan nilai tukar rupiah sangat penting bagi pemulihan konsumsi. Pelemahan mata uang, menurutnya, dapat memicu kenaikan harga lanjutan di pasar. Ketika tekanan biaya hidup belum mereda, masyarakat cenderung memilih menahan konsumsi. Situasi itu berpotensi menekan performa pusat perbelanjaan dalam jangka pendek.

Meski begitu, Ellen belum melihat tanda perlambatan yang bersifat permanen. Ia menilai pusat belanja masih memiliki daya tarik, terutama saat akhir pekan dan periode promo. Namun, pemulihan trafik akan sangat bergantung pada perbaikan daya beli masyarakat. Dengan kata lain, stabilitas ekonomi menjadi kunci bagi pergerakan sektor ritel di Jakarta.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!