Dari Karyawan Pabrik ke Pengusaha Jajanan Betawi

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 23 Mei 2026 07:00 WIB 7
Dari Karyawan Pabrik ke Pengusaha Jajanan Betawi

Aisah, mantan karyawan pabrik, memulai usaha sampingan untuk menambah penghasilan saat masih bekerja pada 2018. Dari jualan kecil-kecilan itu, ia kemudian mengembangkan bisnis jajanan jadul khas Betawi yang kini dikenal dengan nama Betawi Punya Gaye. Usaha tersebut tumbuh pesat hingga menghasilkan omzet jutaan rupiah per bulan.

Perjalanan Aisah tidak selalu mulus, terutama ketika usaha keripik pedas yang ia jajakan sempat terdampak pandemi dan sepi pembeli. Namun, alih-alih berhenti, ia justru beralih ke produk yang lebih dekat dengan identitas budaya Betawi. Keputusan itu menjadi titik balik yang mengubah usaha sampingannya menjadi merek yang lebih kuat dan berdaya saing.

Awal Jualan Jajanan Betawi

Aisah mulai berjualan pada 2018 saat masih menjadi karyawan pabrik spidol. Saat itu, ia memilih camilan kecil-kecilan karena membutuhkan tambahan pemasukan.

Produk pertamanya adalah keripik pedas yang ia bawa ke pabrik untuk ditawarkan kepada rekan kerja. Ia juga menitipkan dagangannya di warung sekitar agar penjualan lebih luas.

Dari usaha sederhana itu, Aisah sempat memperoleh omzet Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. Angka tersebut menjadi modal awal untuk melihat peluang bisnis yang lebih besar.

Meski begitu, penjualan keripik kemudian menurun karena banyak warung tutup dan kondisi pasar tidak stabil. Situasi itu membuat Aisah harus mencari arah baru agar usahanya tetap berjalan.

Beralih ke Camilan Betawi

Di tengah tekanan usaha, Aisah memutuskan beralih ke aneka jajanan khas Betawi. Pilihan itu lahir dari keinginannya untuk menghadirkan produk yang punya identitas kuat.

Ia kemudian memproduksi kembang goyang, biji ketapang, hingga kacang bawang sebagai andalan baru. Camilan tersebut dipilih karena dekat dengan selera masyarakat dan punya nilai tradisi.

Aisah mengaku pernah belajar membuat kue sejak kecil karena sering membantu orang tua. Pengalaman itu membuatnya lebih percaya diri untuk mengolah resep secara mandiri.

Dengan bekal tersebut, ia mengembangkan produk secara autodidak sampai mendapatkan rasa yang pas. Proses itu menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan usaha yang ia bangun kemudian.

Serius Bangun Merek Usaha

Pada 2020, Aisah mulai menekuni usahanya secara lebih serius dengan bergabung ke Jakpreneur. Ia lalu memanfaatkan waktu luangnya untuk mengikuti bimbingan teknis pembuatan Hak Kekayaan Intelektual atau HAKI dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Awalnya, ia memakai nama usaha Camilan 19. Namun, nama itu dinilai terlalu pasaran dan kurang kuat untuk membangun identitas merek.

Setelah mendapat arahan, Aisah memilih nama Betawi Punya Gaye sebagai merek dagang barunya. Nama tersebut sekaligus menegaskan karakter produk yang lekat dengan budaya Betawi.

Langkah itu membantu usahanya tampil lebih profesional di pasar. Merek yang jelas juga membuat produk lebih mudah dikenali oleh konsumen.

Dari Pabrik ke Omzet

Aisah akhirnya memutuskan mundur dari pekerjaannya setelah hampir 20 tahun bekerja di pabrik. Ia menilai sudah waktunya fokus penuh pada usaha yang mulai menunjukkan potensi besar.

Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan, tetapi diambil setelah melihat bisnis camilannya semakin berkembang. Baginya, meninggalkan pekerjaan lama adalah langkah berani demi masa depan usaha.

Dengan dukungan pelatihan dan pembinaan, usahanya kini bergerak lebih terarah. Produk yang dulunya sekadar tambahan penghasilan berubah menjadi sumber nafkah utama.

Kisah Aisah menunjukkan bahwa usaha kecil dapat tumbuh besar ketika dikelola dengan konsisten. Dari jualan di pabrik, ia berhasil membangun bisnis jajanan Betawi yang memiliki nilai ekonomi dan budaya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!