Dari Gerobak ke Ruko, Perjalanan Sate Ayam Barokah di Mayestik

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 21 Mei 2026 21:52 WIB 6
Dari Gerobak ke Ruko, Perjalanan Sate Ayam Barokah di Mayestik

Aroma sate ayam dan kambing Madura kembali menarik perhatian di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sebuah ruko dua lantai di kawasan Mayestik, pedagang satai Mochamad Haidir, 30 tahun, sibuk menjaga bara agar tetap menyala. Dari usaha kecil yang dimulai sejak 2013, ia berhasil membawa lapak kelilingnya naik kelas. Perjalanan itu dipenuhi penolakan, pandemi, dan keputusan berani untuk pindah ke tempat yang lebih strategis.

Haidir sempat berjualan dengan gerobak di atas trotoar dan menghadapi berbagai tekanan saat merintis usaha. Ia pernah dikejar Satpol PP, diusir sesama pedagang, dan harus bertahan di tengah persaingan yang ketat. Namun ia melihat Mayestik sebagai lokasi yang menjanjikan karena dikelilingi perkantoran dan arus pengunjung yang padat. Keyakinan itu akhirnya membawanya pada peluang baru ketika ruko kosong di depan lapaknya ditawarkan untuk disewa.

Awal Perjuangan Usaha

Haidir mengawali usaha dari gerobak sederhana yang ia dorong sendiri. Modal utamanya adalah ketekunan, keberanian, dan kemampuan membaca peluang di kawasan ramai. Ia perlahan membangun pelanggan dari pembeli harian yang tertarik pada aroma sate yang khas. Nama Sate Ayam Barokah Mayestik kemudian mulai dikenal di lingkungan sekitar.

Pada masa awal, ia belum memiliki tempat tetap untuk melayani pembeli. Aktivitas jualannya bergantung pada cuaca, pengawasan petugas, dan kondisi lalu lintas pejalan kaki. Situasi itu membuat pendapatan kerap naik turun, tetapi ia tetap menjaga kualitas rasa. Menurutnya, konsistensi menjadi kunci agar usaha kecil bisa bertahan.

Keputusan bertahan di Mayestik bukan tanpa alasan. Haidir menilai kawasan itu memiliki pasar yang jelas karena ada banyak pekerja kantoran dan pembeli dari sekitar Pasar Mayestik. Lokasi yang ramai membuat produknya lebih mudah dikenal dibandingkan saat berjualan keliling. Dari situ, ia mulai melihat usaha sate sebagai bisnis yang bisa dikembangkan lebih serius.

Ujian Saat Pandemi

Pandemi COVID-19 menjadi ujian terberat dalam perjalanan usahanya. Penjualan menurun tajam karena aktivitas warga berkurang dan mobilitas dibatasi. Haidir mengaku kondisi itu sempat membuatnya stres. Ia bahkan pernah berniat menutup usaha dan menawarkan lapaknya kepada orang lain.

Saat itu, ia sempat menawarkan lapak dengan harga Rp50 juta. Nilai itu jauh di bawah permintaan Haidir yang mencapai Rp150 juta. Rencana transaksi akhirnya batal karena tidak menemukan titik temu. Keputusan itu kemudian terbukti menyelamatkan peluang usahanya di masa depan.

Pengalaman selama pandemi membuat Haidir lebih berhati-hati dalam mengelola bisnis. Ia menyadari bahwa usaha kuliner memerlukan ketahanan modal dan strategi lokasi yang tepat. Di tengah tekanan, ia tetap mempertahankan kualitas sate sebagai modal utama menarik pelanggan kembali. Perlahan, pembeli mulai datang lagi ketika situasi ekonomi berangsur membaik.

Pindah Ke Lokasi Strategis

Titik balik datang ketika ruko kosong di depan lapaknya ditawarkan untuk disewa pada akhir 2025. Kesempatan itu tidak disia-siakan karena posisi ruko dinilai lebih strategis. Haidir lalu memutuskan pindah agar usahanya lebih mudah diakses pembeli. Langkah tersebut menandai perubahan besar dari pedagang gerobak menjadi pelaku usaha dengan tempat tetap.

Ruko baru memberi ruang lebih luas untuk melayani pelanggan. Aroma sate yang keluar dari bangunan dua lantai itu menjadi penanda kuat bagi warga yang melintas di kawasan Kyai Maja. Haidir juga bisa bekerja lebih tertata karena tidak lagi bergantung pada kondisi trotoar. Dari sisi citra usaha, perpindahan itu ikut meningkatkan kepercayaan pembeli.

Perubahan lokasi membuat usahanya tampil lebih profesional. Ia kini tidak hanya menjual makanan, tetapi juga pengalaman yang lebih nyaman bagi pelanggan. Kehadiran tempat tetap membantu menguatkan nama Sate Ayam Barokah Mayestik di tengah persaingan kuliner Jakarta Selatan. Bagi Haidir, naik kelas bukan sekadar pindah tempat, melainkan hasil dari bertahun-tahun bertahan.

Pelajaran Dari Konsistensi

Kisah Haidir menunjukkan bahwa usaha kecil dapat tumbuh ketika dijalankan dengan kesabaran. Lokasi, konsistensi, dan keberanian mengambil keputusan menjadi faktor penting dalam perjalanannya. Ia membuktikan bahwa tekanan awal tidak selalu menjadi akhir dari sebuah bisnis. Dalam banyak kasus, justru tantangan itulah yang membentuk arah usaha berikutnya.

Bagi pelaku usaha kuliner, perjalanan Haidir menjadi pengingat bahwa kualitas rasa harus berjalan seiring dengan strategi bisnis. Tempat yang tepat dapat memperbesar peluang, tetapi ketekunan tetap menjadi fondasi utama. Pengalaman pahit saat pandemi juga memperlihatkan pentingnya mempertahankan aset usaha ketika kondisi sedang sulit. Dengan langkah yang lebih matang, ia kini punya ruang untuk mengembangkan usahanya lebih jauh.

Dari gerobak sederhana hingga ruko di kawasan strategis, perjalanan itu memperlihatkan arti kegigihan dalam berdagang. Sate Ayam Barokah Mayestik bukan hanya soal menu, tetapi juga kisah bertahan di tengah tekanan. Aroma yang menggoda di Jalan Kyai Maja kini menjadi simbol perubahan nasib seorang pedagang. Bagi Haidir, kerja keras yang konsisten akhirnya mulai membuahkan hasil.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!