Konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran dinilai memberi tekanan besar terhadap ekonomi global. Hingga saat ini, negosiasi damai antara kedua negara belum menghasilkan kesepakatan. Kondisi ini mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko inflasi di pasar energi serta keuangan.
Ari Rizaldi, Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, menyatakan lonjakan harga energi telah mendorong risiko inflasi global. Ia menambahkan lonjakan harga minyak juga meningkatkan volatilitas pasar keuangan internasional. Bank sentral di sejumlah negara diperkirakan akan menunda penurunan suku bunga acuan sebagai respons terhadap tekanan tersebut.
Harga minyak & inflasi
Harga minyak dunia melonjak akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan tersebut membuat harga minyak menembus US$100 per barel. Risiko inflasi global pun meningkat seiring biaya energi yang lebih tinggi.
Analisis pasar menunjukkan terganggunya pasokan minyak memperburuk volatilitas pada pasar keuangan internasional. Investor dan perusahaan dihadapkan pada kepastian yang rendah terkait arah harga dan arus modal. Kondisi ini juga mendorong penyesuaian terhadap harga aset dan imbal hasil surat utang di berbagai negara.
Para pembuat kebijakan kini dihadapkan pada tugas menyeimbangkan kebijakan fiskal dan moneter di tengah harga energi yang tinggi. Lembaga keuangan global menilai ulang proyeksi inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Keberlanjutan stabilitas fiskal akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi dan stabilitas regional.
Kebijakan Moneter Global
Kebijakan bank sentral global diperkirakan belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar menilai risiko inflasi tetap tinggi sehingga langkah pelonggaran menjadi terbatas. Konsensus saat ini menyatakan suku bunga acuan AS bertahan di 3,75 persen hingga 2027.
Volatilitas yang tinggi akibat gangguan pasokan minyak membuat bank-bank sentral menunda langkah pelonggaran kebijakan. Penundaan tersebut memperpanjang tekanan terhadap pasar obligasi dan mata uang di banyak negara. Aliran modal dan keputusan investasi juga dipengaruhi oleh dinamika harga energi serta risiko geopolitik.
Di sisi Indonesia, ekonomi tetap menunjukkan ketahanan meski menghadapi tekanan eksternal. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 tercatat 5,61 persen, lebih tinggi dibanding 5,4 persen pada triwulan sebelumnya. Namun, volatilitas global tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai pelaku pasar.
Proyeksi Indonesia
Tekanan eksternal juga tercermin dari pergerakan rupiah dan arus modal asing. Nilai tukar rupiah melemah sekitar 3,9 persen sepanjang 2026, menurut catatan pasar. Aliran modal asing keluar dari pasar saham mencapai Rp37,6 triliun hingga 8 Mei 2026.
Di pasar obligasi, arus keluar mencapai sekitar Rp13,3 triliun pada periode yang sama. Kondisi ini turut menekan volatilitas pasar dan imbal hasil obligasi pemerintah. Investor menilai risiko terhadap likuiditas pasar dalam jangka pendek.
IHSG tercatat turun 19,4 persen ke level 6.969, sementara yield obligasi pemerintah naik 53 basis poin menjadi 6,6 persen tahun ini. Kondisi tersebut mencerminkan tekanan pasar keuangan domestik akibat dinamika global. Para pelaku pasar berharap pemulihan dapat terlihat seiring stabilnya negosiasi diplomatik dan paket kebijakan domestik.
