D2D Jadi Peluang Baru Industri Satelit Indonesia

Teknologi Moh. Royhan Nahado 28 Mei 2026 01:57 WIB 2
D2D Jadi Peluang Baru Industri Satelit Indonesia

Teknologi direct-to-device atau D2D mulai menjadi sorotan global karena dinilai mampu menghubungkan ponsel dan perangkat sensor langsung ke satelit tanpa infrastruktur tambahan. Asosiasi Satelit Indonesia menilai perkembangan ini membuka peluang besar bagi industri nasional, meski implementasinya di Indonesia masih menghadapi tantangan regulasi, spektrum frekuensi, dan kedaulatan data.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia, Rusdianto Yuli Hermansyah, menjelaskan D2D terbagi dalam dua model utama, yakni direct-to-cell untuk perangkat genggam dan direct IoT untuk sensor. Ia menyampaikan hal itu di Jakarta pada Selasa, 5 Mei 2026, seraya menekankan bahwa model ini berpotensi mengubah cara layanan komunikasi dan pengiriman data bekerja.

D2D dan Peluang Satelit

Teknologi D2D memungkinkan ponsel terhubung langsung ke jaringan satelit tanpa perlu dukungan BTS di darat. Skema ini dinilai relevan untuk wilayah yang sulit dijangkau jaringan seluler, termasuk area terpencil dan perairan.

Selain untuk komunikasi, D2D juga membuka peluang besar bagi perangkat sensor di sektor maritim, industri, dan pemantauan lapangan. Data dari sensor dapat dikirim secara real-time ke satelit, sehingga proses pengawasan menjadi lebih cepat dan efisien.

Rusdianto menilai kebutuhan layanan berbasis Positioning, Navigation, and Timing atau PNT juga terus meningkat di tengah tensi geopolitik global. Banyak negara kini mendorong pengembangan sistem navigasi sendiri sebagai alternatif dari GPS.

Regulasi D2D Masih Dikaji

Di Indonesia, implementasi D2D masih menunggu kejelasan regulasi dari pemerintah. Kementerian Komunikasi dan Digital masih mengkaji model operasional, pemanfaatan spektrum, serta tata kelola layanan yang tepat.

Saat ini, layanan D2D dimungkinkan menggunakan spektrum Mobile Satellite Service atau MSS. Namun, kapasitas bandwidth yang tersedia masih terbatas untuk mendukung kebutuhan layanan dalam skala besar.

Di tingkat global, International Telecommunication Union tengah membahas tambahan alokasi frekuensi untuk teknologi ini. Proses tersebut diperkirakan baru berdampak nyata pada akhir 2027 atau awal 2028.

Model D2D dan Kedaulatan

Dalam pengembangannya, D2D mengenal dua pendekatan teknologi, yakni model transparan dan model regeneratif. Model transparan memanfaatkan jaringan seluler yang sudah ada, sedangkan model regeneratif membuat satelit berfungsi seperti operator seluler dengan jaringan inti sendiri.

Menurut ASSI, skema yang paling mungkin diterapkan di Indonesia adalah model transparan. Artinya, satelit diposisikan sebagai perpanjangan dari BTS agar integrasi dengan jaringan yang ada menjadi lebih mudah.

Meski begitu, ASSI menekankan pentingnya kedaulatan digital dalam penerapan teknologi ini. Idealnya, seluruh infrastruktur satelit dikendalikan oleh entitas dalam negeri, meski hal itu membutuhkan waktu dan investasi yang besar.

Persaingan Global D2D

Perkembangan D2D juga berjalan seiring dengan persaingan global yang semakin ketat. Selain Starlink, sejumlah pemain lain seperti Amazon dan perusahaan asal China turut mengembangkan konstelasi satelit LEO dalam jumlah besar.

Persaingan tersebut menunjukkan bahwa teknologi satelit akan menjadi bagian penting dari masa depan konektivitas digital. Indonesia dinilai perlu bergerak cepat agar tidak tertinggal dalam pemanfaatan teknologi baru yang terus berkembang.

ASSI mendorong pemerintah untuk sigap membaca arah perubahan industri satelit agar kepentingan nasional tetap terlindungi. Salah satu prioritas yang ditekankan adalah memastikan data layanan D2D tetap landing di Indonesia meski infrastruktur satelitnya melibatkan pihak asing.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!