Chiki Fawzi Pulang, Disambut Emosional Ikang Fawzi

Lifestyle Anindya Kirana Putri 30 Mei 2026 15:07 WIB 6
Chiki Fawzi Pulang, Disambut Emosional Ikang Fawzi

Chiki Fawzi akhirnya kembali ke Tanah Air setelah terlibat dalam misi kemanusiaan internasional untuk menembus blokade Gaza. Kepulangannya disambut haru oleh sang ayah, musisi senior Ikang Fawzi, yang langsung memeluknya erat saat tiba di Indonesia. Pertemuan itu menjadi penutup dari masa menegangkan yang dialami Chiki selama mengikuti gerakan solidaritas untuk Palestina. Ia bercerita, pengalaman tersebut meninggalkan kesan emosional sekaligus memperkuat keyakinannya untuk terus bersuara.

Chiki mengungkapkan bahwa perjalanan itu berlangsung berbulan-bulan, dengan perpindahan dari Barcelona hingga Turki. Saat sembilan relawan WNI lainnya berlayar menuju Gaza, ia berada di pusat komando di Istanbul untuk memantau situasi. Ketegangan memuncak ketika kapal bantuan dihadang militer Israel di perairan internasional, lalu sejumlah relawan ditahan. Dari balik pemantauan itu, Chiki menyaksikan langsung situasi yang menurutnya sangat mengkhawatirkan.

Chiki Fawzi Disambut Haru

Chiki Fawzi menceritakan momen kepulangannya saat ditemui di Studio Trans TV, Jakarta Selatan, Selasa, 26 Mei 2026. Menurut dia, Ikang Fawzi menjemput langsung dan memeluknya erat setelah tiba di Tanah Air. Sang ayah hanya menyambut singkat dengan ucapan, Welcome home, Ade. Bagi Chiki, momen itu terasa campur aduk setelah melewati perjalanan panjang yang penuh tekanan.

Ia menilai sambutan tersebut menjadi penanda berakhirnya hari-hari penuh ketegangan yang sempat dijalani. Selama berada dalam rangkaian misi, Chiki harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain untuk mengikuti pergerakan rombongan. Kondisi itu membuatnya tidak memiliki ruang untuk benar-benar tenang. Namun, sambutan keluarga membuatnya merasa perjalanan panjang tersebut akhirnya sampai pada titik aman.

Chiki menyebut kepulangan itu bukan sekadar kembali ke rumah, tetapi juga kembali dengan banyak cerita. Ia merasa apa yang dialaminya selama misi kemanusiaan akan terus diingat sebagai bagian penting dalam hidupnya. Menurut dia, dukungan keluarga sangat berarti ketika seseorang terlibat dalam perjuangan kemanusiaan. Karena itu, pelukan sang ayah menjadi momen yang paling membekas.

Chiki Fawzi Pantau Gaza

Dalam misi tersebut, Chiki tidak berada di kapal bersama relawan yang berlayar menuju Gaza. Ia bertugas memantau situasi dari pusat komando di Istanbul, Turki. Dari lokasi itu, ia mengikuti pergerakan kapal yang membawa sembilan relawan WNI. Total rombongan yang terlibat bersama koordinator Uni Maimun mencapai 11 orang.

Chiki menjelaskan bahwa kapal bantuan itu berupaya menuju Gaza untuk menjalankan aksi kemanusiaan. Namun, di tengah perjalanan, kapal-kapal tersebut diadang secara paksa oleh militer Israel. Peristiwa itu terjadi di perairan internasional dan memicu ketegangan besar di antara para relawan. Situasi tersebut membuat komunikasi dan pemantauan berlangsung dengan penuh kewaspadaan.

Ia mengaku terus mengikuti setiap perkembangan yang terjadi di lapangan melalui laporan tim. Menurut Chiki, posisi sebagai pemantau membuatnya bisa melihat detail peristiwa dari awal hingga penahanan terjadi. Meski tidak berada di atas kapal, ia merasakan tekanan besar selama operasi berlangsung. Bagi dirinya, pengalaman itu menunjukkan betapa rawannya misi kemanusiaan di wilayah konflik.

Chiki Fawzi Soroti Kekerasan

Ketegangan semakin berat setelah para relawan yang ditahan akhirnya dibebaskan. Chiki menerima berbagai kesaksian mengenai perlakuan yang mereka alami selama masa penahanan. Ia menyebut tindakan yang dilakukan sangat brutal dan tidak manusiawi. Kesaksian itu membuatnya semakin yakin bahwa situasi di lapangan benar-benar mengkhawatirkan.

Menurut Chiki, para relawan dipukuli, disetrum, dan diborgol dengan kabel ties yang sangat kencang. Akibatnya, beberapa di antara mereka mengalami luka pada tangan. Ia juga mendampingi seorang jurnalis di rumah sakit setelah orang tersebut dibebaskan. Jurnalis itu disebut mengalami kencing darah karena bagian ginjalnya dipukuli berulang kali.

Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Chiki sebagai pegiat kemanusiaan. Ia menilai kekerasan terhadap relawan tidak seharusnya terjadi dalam misi yang membawa bantuan untuk warga sipil. Menurut dia, kesaksian para korban perlu disampaikan agar publik memahami kondisi yang sebenarnya. Dengan begitu, perhatian terhadap nasib rakyat Palestina bisa terus dijaga.

Chiki Fawzi Tetap Bersuara

Di tengah pengalaman berbahaya itu, Chiki menegaskan bahwa rasa takut tidak boleh menghentikan suara kemanusiaan. Ia mengatakan dirinya justru lebih takut pada kondisi alam saat berada di laut Mediterania. Kapal yang oleng membuat para relawan harus mengikat diri dengan karabiner agar tidak terjatuh. Meski begitu, ancaman dari militer tidak membuatnya mundur dari misi.

Chiki menilai keberanian menjadi bagian penting dalam perjuangan untuk menyuarakan kebenaran. Ia percaya bahwa solidaritas terhadap Palestina harus terus disampaikan, meskipun ada risiko besar. Menurutnya, ketakutan hanya akan melemahkan semangat untuk membela pihak yang tertindas. Karena itu, ia memilih untuk tetap berdiri di jalur kemanusiaan.

Ia juga menegaskan bahwa pengalaman tersebut akan memperkuat tekadnya untuk terus terlibat dalam isu-isu kemanusiaan. Bagi Chiki, misi ini bukan sekadar perjalanan, tetapi panggilan moral. Ia berharap publik dapat melihat bahwa bantuan dan solidaritas tidak boleh dibungkam oleh tekanan apa pun. Dengan kembali ke Indonesia, Chiki membawa pulang kisah yang penuh risiko sekaligus pesan keberanian.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!